
Tanpa terasa satu minggu berlalu, Ya... Setelah perjanjiannya dengan Fredrico kala itu azzlea berlapang dada untuk setuju menikah dengan Fred, si calon Alpha selanjutnya.
Ya.. Mereka menikah karrna perjanjian bodoh yang nereka berdua lakukan, tapi lebih tepatnya karena ancaman fredrico padanya.
Azzlea hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi pada dirinya sama sekali tak ada penolakan yang keluar dari bibirnya, karena jika itu sampai terjadi mungkin nasib keluarganya tak akan selamat itulah yang membuat azzlea takut.
Setidaknya sekarang kedua orang tuanya senang karena akhirnya dia akan menikah dan terlebih lagi dia akan menikah dengan calon Alpha sedangkan dia Lunanya.
Kini Azzlea tengah duduk didepan meja rias, disamping dan belakangnya ada beberapa pelayan yang bertugas merias wajah dan rambut nya karena hari ini adalah hari pernikahan azzlea dengan fredrico.
"Saya akan mulai merias wajah anda nona" ucap salah satu pelayan meminta izin, azzlea menganggukkan kepalanya
Satu persatu mereka merias azzlea semaksimal yang mereka bisa. Perlahan wajah azzlea dipoles sedemikian rupa untuk menambah kesan cantik diwajahnya, selesai dengan wajah pelayan yang lain merapikan rambut azzlea dan dibentuknya entah bagaimana.
Azzlea benar benar tak tahu harus bagaimana fikirannya melayang entah kemana, dia sudah memutuskan untuk menikah dan hari ini lah semua itu akan terjadi.
'Kuharap semuanya akan baik baik saja'
'Ku harap ini semua akan cepat berlalu' batin azzlea
'Kuharap semua yang terjadi hari ini hanya sebuah mimpi semata' batin Azzlea mengembuskan nafasnya kasar.
"Nona" panggilan dari salah satu pelayan yang berada dikar itu membuyarkan lamunan Azzlea.
Tanpa terasa Azzlea selesai dirias, Ya... Dia akui dia begitu cantik bak bidadari.
Salah satu pelayan membantu azzlea berdiri dan membantunya memakai gaun yang telah disiapkan sebelumnya, gaun berwarna putih panjang hingga menutupi seluruh kaki nya.
Para pelayan dengan cekatan membantu azzlea, selesai dengan gaun mereka memakaikan beberapa aksesoris untuk melengkapi penampilan azzlea. Tak lupa sepatu heels berwarna putih yang senada dengan gaunnya dipakaikan dikaki azzlea.
Tok tok tok
Pintu kamar azzlea diketuk dari luar, segera salah satu pelayan membuka pintu kamar azzlea. Disana berdiri sesosok pria tampan dengan setelah tuxedo hitam yang membuatnya semakin tampan.
Pria itu mulai mendekati azzlea, terlihat matanya berkaca-kaca menahan tangis. Sambil menunggu azzlea yang belum selesai dirias pria itu mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa kamar azzlea.
Setelah menunggu sekitar lima belas menit azzlea selesai dirias. Azzlea meminta para pelayan untuk keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Kamu sangat cantik hari ini" ucap pria itu setelah para pelayan pergi.
Perlahan pria tampan itu mendekati azzlea, menyentuh wajah azzlea menatapnya dengan lekat. Tanpa sadar air mata mulai menggenang disudut matanya.
Azzlea memeluk pria itu. Ya, dia adalah Faustin penjaga yang telah azzlea anggap seperti kakaknya sendiri, yang telah azzlea anggap sebagai saudaranya sendiri.
"Kakak juga sangat tampan"
"Aku takut memilih suami jika kakak setampan ini hari ini" ucap azzlea menengadahkan kepalanya menatap faustin.
"Suamimu bahkan lebih tampan dariku, apalah daya ku yang hanya seorang pria yang menjaga gadis kecil" faustin terkekeh sambil mecubit hidung azzlea.
"Tapi gadis kecil itu hari ini akan menikah"
"Jadi berhenti memanggilku gadis kecil sekarang" protes azzlea menitikkan air matanya.
Perlahan faustin mengusap lembut pipi azzlea yang berlinang air mata.
"Mengapa menangis? ini adalah hari bahagiamu!"
"Hiks... Aku rindu kakak memanggilku dengan sebutan gadis kecil"
"Sebutan itu membuatku jadi enggan untuk menikah dan ingin terus bersama dengan kakak" isak azzlea kecil.
"Ssst... Jangan berbicara seperti itu" faustin menutup mulut azzlea dengan jari telunjuknya.
"Aku hanya bergurau kak, bagaimana mungkin aku meninggalkan mateku dan memilih kakak yang kalah tampan darinya" azzlea terkikik.
'Bahkan aku juga ingin kalau hari ini aku menikah dengan mate ku kak'
'Bukan pria yang mengancamku dengan keselamatan kalian, dan juga demi kepentingannya dia sendiri' azzlea membatin.
"Nanti kakak sering datang ke kediaman kami iya kak, aku pasti akan senang jika kakak berkunjung. Karena aku... Pasti akan sangat merindukan kakak" pinta azzlea memohon.
"Kamu sekarang bukan lagi tanggung jawab kakak, tapi tanggung jawab suamimu setelah ini" tolak faustin.
"Tapi kakak kan datang sebagai kakak ku bukan penjagaku lagi" gerutu azzlea mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Akan kakak usahakan" ucap faustin tersenyum.
"Janji?" azzlea mengacungkan jari kelingkingnya.
"Akan ku usahakan" jawab faustin meraih jari azzlea.
Tentu saja azzlea tersenyum kegirangan dan memeluk faustin dengan erat.
"Riasanku rusak karena kakak membuatku menangis" protes Azzlea setelah melepaskan pelukannya dari Faustin. Faustin terkekeh karena sekarang gadis kecilnya masih mengingat bagaimana riasannya.
***
Diluar Seluruh undangan yang akan menyaksikan calon Alpha dan Luna menikah telah hadir di tempat yang telah di sediakan.
Disebuah taman milik Beta yang kini disulap menjadi tempat penikahan bagi calon Alpha dan Luna. Bunga bunga berwarna warni menghiasi dekorasi pernikahan, karpet merah disiapkan dari pintu keluar hingga tempat mempelai pria.
Pohon pohon yang rindang membuat siapa saja merasa sejuk di pagi hari ini tanpa harus berpanas panasan karena terpapar sinar matahari.
Pangeran Fredrico beserta seluruh keluarga kerajaan pun telah hadir. Pangeran Fred mengenakan setelah Toxedo warna hitam polos dengan pita dilehernya membuat nya menjadi bertampan tampan dan berwibawa.
Sama hal nya dengan Alpha Parvis juga pangeran Nelson yang juga mengenakan tuxedo dengan warna sama dengan pangeran Fredrico.
Sedangkan Luna mengenakan gaun berwarna putih panjang menutupi lekuk tubuhnya, serta riasan tipis yang mempercantik wajah nya yang sudah tidak muda lagi.
Pangeran Fred duduk dengan tidak tenang. Meskipun pernikahan ini tanpa diduga sebelumnya, tetapi ini bukan pernikahan main main dia benar benar menikah hari ini. Disaksikan oleh seluruh rakyat nya di depan moon godess.
Pangeran Fred merasa gugup, jantungnya berdetak sangat kencang seolah akan keluar dari tempatnya tangannya penuh keringat karena gugup.
Berkali kali kali fredrico melihat arah pintu dimana azzlea akan keluar dan berharap semuanya aka segera berakhir.
Luna tersenyum tipis melihat putra sulungnya nampak duduk tak tenang, diraihnya tangan putra sulung nya membelainya dengan hangat.
"Bunda tahu kamu sangat gugup"
"Fikirkan sesuatu yang menyenangkan, jangan sampai karena terlalu gugup kamu merusak hari bahagiamu sendiri" ucap bunda bergurau.
Fredrico menganggukkan kepalanya. Perlahan pintu keluar terbuka azzlea keluar dengan didampingi oleh Beta disebelahnya.
__ADS_1