
Azzlea terdiam memandangi sosok Qarira yang tak jauh dari hadapannya. Matanya mengunci Qarira tanpa berkedip sedikitpun, mencari kebohongan atau kepura-puraan diwajah Qarira. Azzlea mengembuskan nafasnya dengan perlahan menetralkan kembali emosinya yang sempat memuncak karena ulah wanita yang sama sekali tak pernah dikenalnya ini sebelumnya.
Azzlea berjalan mendekat kearah Qarira. Grep. Azzlea merengkuh tubuh Qarira kedalam pelukannya. Dengan lembut Azzlea mengusap punggung Qarira yang bergetar, sungguh jiwanya sebagai wanita yang lebih tua mengalahkan egonya sendiri yang ingin berusaha untuk marah juga meninggalkan gadis kecil yang umurnya tak lagi muda ini.
"Sudahlah, jangan menangis lagi. Berhentilah menangis." ucap Azzlea menenangkan.
"Aku... Aku hanya ingin bersama dengan Kakak. Apakah aku salah jika aku melakukan ini?" ucap Qarira.
Azzlea menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, aku tahu kau begitu merindukan sosok Quinza"
"Tapi sejujurnya aku begitu sangat lelah jika terus berjalan tanpa arah dan tujuan seperti ini." ujar Azzlea. Azzlea perlahan melepaskan rengkuhannya pada Qarira dan mengusap lembut air mata yang masih saja mengalir dipipi wanita cantik itu.
"Sekarang tunjukkan dimana Queen berada, kau tahu aku sangat lelah jika berjalan tanpa arah dan tujuan seperti ini, em?" tawar Azzlea dengan lembut. Qarira menganggukkan kepalanya perlahan.
__ADS_1
"Meskipun aku masih benar-benar tak begitu ingat dimana tempat dimana wolf Kakak ditempatkan tetapi aku melihat ada satu jalan yang sama sekali belum ku kunjungi sebelumnya. Aku yakin disitulah tempat dimana wolf milik Kakak berada." ujar Qarira menegaskan kepada Azzlea.
"Baiklah kalau begitu, kita kesana bagaimana?" tawar Azzlea. Qarira kembali menganggukkan kepalanya menuruti permintaan dari Azzlea.
Keduanya kembali berjalan menyusuri jalan yang seolah tak ada ujungnya dan Qarira tetap sebagai penunjuk jalan mereka. "Mengapa Kakak begitu ingin menemui wolf milik Kakak saat Kakak masih menjadi Azzlea?"
"Bukankah saat ini Kakak adalah Alpha Quinza dan Milly adalah wolf milik Kakak yang bahkan setia menunggu Kakak selama seribu tahun lamanya.?" tanya Qarira penasaran. Pasalnya setelah mengetahui bahwa wolf yang berada didalam tubuh Azzlea juga berada disini Azzlea begitu kekeuh untuk melihat dan menemuinya.
Azzlea terdiam sejenak tanpa membuka suaranya. Keningnya sedikit berkerut namun kemudian mengembuskan nafasnya. "Arghh... Akan kubunuh kau saat aku sudah bertemu dengan mu nanti. Lihat saja" geram Azzlea kesal.
"Hah?" Azzlea justru ikut tercekat mendengar ucapan Qarira yang terkejut dengan yang diucapkannya.
"Apakah Kakak memiliki dendam tersendiri dengan wolf milik Kakak sehingga Kakak ingin membunuhnya?" tanya Qarira.
__ADS_1
"Ah.. Tidak, bukan itu yang ku maksudkan. Aku tidak berniat membunuhnya mengapa kau bertanya seperti itu padaku." sanggah Azzlea mengelak pertanyaan yang ditanyakan padanya.
"Beberapa saat yang lalu Kakak mengatakan bahwa Kakak ingin membunuhnya saat bertemu dengannya. Bukankah begitu?" tanya Qarira lagi menegaskan kecurigaannya.
"Tidak, maksud ku bukan Queen yang akan ku bunuh, melainkan suamiku sendiri."
"Kau tahu dia baru saja mengatakan bahwa dia akan mencari wanita lain selain aku. Apakah dia sama sekali tak menyadari bahwa dia baru saja memiliki anak. Sangat tak berperasaan." kesal Azzlea.
Mata Qarira nampak berbinar mendengar ucapan Azzlea. "Apakah Kakak sudah memiliki anak. Bagaimana rupanya?" tanya Qarira dengan mata berbinar mendengara bahwa Azzlea telah memiliki buah hati.
Azzlea justru menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Qarira. "Aku sama sekali bagaimana rupa anakku. Yang kutahu anakku begitu tampan."
"Apakah kalian lupa telah membawaku saat aku sedang bertarung nyawa melahirkan buah hati kami. Sungguh tak berperasaan." keluh Azzlea.
__ADS_1
Qarira tersenyum bodoh sembari menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal.