
Azzlea tengah duduk santai di bangku taman miliknya seraya mengusap perut buncitnya yang semakin hari semakin membesar. Senyumnya tak pernah lepas dari sudut bibirnya. Azzlea benar-benar masih tak habis fikir bagaimana Fredrico menjawab pertanyaanya saat dirinya menanyakan bukti cinta Fredrico padanya.
Kini Azzlea baru menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh Fredrico selama ini padanya bukanlah suatu kebetulan. Azzlea ingat dirinya selalu digoda oleh Fredrico hingga membuatnya sangat kesal karena ulah Fredrico yang tak pernah bosan selalu saja membuat ulah hingga membuatnya kesal setengah mati.
Azzlea kini sadar mengapa Fredrico sampai mencuri ciuman pertamanya hingga menandainya, itu semua adalah bukti bahwa Fredrico memang benar menyukainya.
"Aku sengaja melakukan itu semua padamu. Bukan karena aku tak sadar. Aku bahkan sangat sadar sepenuhnya" begitu ucap Fredrico saat mengakui segala perbuatan yang dilakukannya pada Azzlea.
"Jagoanku bisa berada disini karena sebagai bukti bahwa aku ingin memilikimu, yang menginginkan kamu tetap berada disisiku" sambung Fredrico lagi.
Azzlea benar-benar ingin marah pada Fredrico yang telah membohongi dirinya selama ini. Tapi disisi lain dia pun sangat bersyukur karena Fredrico memang benar mencintainya sekarang.
Leyna berjalan menemui Azzlea yang tengah duduk dibangku taman miliknya dengan tergopoh-gopoh.
"Ada apa Ley?" tanya Azzlea keheranan.
"Alpha beserta Luna datang berkunjung kemari Luna?" ucap Leyna.
"Maksud saya Tuan besar bersama dengan Nyonya besar datang berkunjung kemari"
"Dan juga tak lama kemudian Beta Delvin beserta istrinya,, ah tidak maksud saya kedua orang tua Lunapun datang berkunjung" Leyna berbicara dengan sangat gugup.
Setelah kejadian Azzlea dapat mengubah diri menjadi sangat menyeramkan kala itu, Leyna sedikit was-was dan sangat ketakutan jika dirinya berkata salah didepan Azzlea. Dirinya benar-benar ketakutan saat melihat mata biru milik Azzlea yang menyala dan sangat mengintimidasi dirinya.
"Benarkah? Dimana mereka saat ini?" tanya Azzlea.
"Beliau berada diruang keluarga Luna. Mari saya antar" tawar Leyna. Azzlea menganggukkan kepalanya dan menggandeng lengan Leyna sebagai pegangan.
"Perutku semakin membesar. Aku seperti kesusahan hanya untuk berjalan saja" keluh Azzlea. Leyna tersenyum mendengarnya.
"Se... Sebaiknya Luna tidur dibawah saja, saya khawatir jika Luna harus menuruni tangga. Saya sangat khawatir jika Luna kelelahan nantinya" saran Leyna.
"Terimakasih sarannya Leyna, dan satu lagi kau tak perlu takut seperti itu padaku. Aku masih Azzlea yang dulu. Jadi kau tak perlu takut padaku" ucap Azzlea. Leyna sedikit tercekat dan menundukkan kepalanha dalam-dalam.
__ADS_1
Leyna menuntun Azzlea menuju ruang keluarga dimana kedua orang tuanya serta kedua orang tua Fredrico datang yang entah mengapa datang secara bersamaan.
Melihat kedatangan putrinya Bunda Zinovia datang menghampiri Azzlea yang tengah berjalan dengan perut besarnya dibantu oleh maid yang selalu bersamanya sejak dulu.
Bunda Zinovisa merengkuh lembut putrinya dengan penuh rasa rindu.
"Bagaimana keadaan kalian sayang?" tanya Bunda Zinovia.
"Kami dalam keadaan baik-baik saja Bunda" jawab Azzlea membalas rengkuhan dari sang Bunda. Bunda Zinovia menuntun Azzlea agar segera duduk agar tak kelelahan.
"Bagaimana kabar kamu sayang" tanya Bunda Zenia mendekati Azzlea.
"Azzle baik-baik saja Bunda" jawab Azzlea dengan senyumannya.
"Azzle tidak menyangka jika kalian akan datang secara bersamaan seperti ini. Tak ada penyambutan saat kalian datang, bahkan Fredrico sendiri tengah berada diluar Kastil karena suatu hal" ujar Azzlea menjelaskan.
"Kami kemari untuk bertemu denganmu juga calon cucu kami, kami tak berurusan dengan Fredrico" jawab Bunda Zenia.
Perlahan Bunda Zinovia mengusap lembut perut buncit putrinya. Seperti mimpi karena kini melihat putri kecilnya berperut buncit seperti ini. Padahal dulu Azzlea hanya putri kecilnya yang sering sekali menangis.
"Dia memang seperti ini Bunda. Bahkan sering kali membuat perutku mati rasa karena dia terlalu aktif menendang" ujar Azzlea dengan senyuman.
"Boleh Bunda memegang perutmu juga sayang?" tanya Bunda Zenia ragu.
"Tentu saja boleh Bunda" jawaban Azzlea membuat sudut bibir Bunda terangkat keatas. Dengan lembut Bunda mengusap perut Azzlea. Dan memang benar jika cucunya yang masih berada didalam kandungan Azzlea bergerak dengan aktifnya kesana kemari.
Bunda tersenyum merasakan tendangan kecil diperut Azzlea. Tanpa sadar Bunda Zenia menitikkan air matanya. Dalam hati dia benar-benar tak percaya karena didalam perut Azzlea ada darah keluarga Alvedro disana. Penerus keluarganya nanti ketika bayi itu lahir didunia ini.
Cklek.
Terdengar pintu terbuka, Azzlea tak terkecuali kedua orang tuanya menoleh kearah pintu, disana masuklah Fredrico yang entah dari mana dan duduk menghampiri Azzlea.
Cup.
__ADS_1
Tanpa malu Fredrico mengecup kening Azzlea seperti kebiasaannya saat pulang dari manapun itu.
"Mengapa semuanya berada disini? Mengapa tak ada yang memberitahuku juga" ucap Fredrico.
"Kami memang sengaja datang kemari tanpa memberitahumu terlebih dahulu. Kami hanya ingin bertemu dengan calon cucu kami" jawab Bunda Zenia mewakili.
Fredrico menganggukkan kepalanya dan mendudukkan tubuhnya tepat disamping Azzlea. Seperti biasa tangan Fredrico akan bertengger di perut buncit sang istri seraya mengusapnya dengan lembut.
"Hey jagoan. Ibumu sangat kesakitan sejak pagi, jangan menendang terlalu kencang ibumu juga perlu istirahat" ucap Fredrico tepat diperut Azzlea tanpa menghiraukan tatapan para orang tua yang menatapnya dengan tatapan keheranan.
"Apakah sudah lebih baik sekarang?" ucap Fredrico. Azzlea menganggukkan kepalanya. Sampai sekarang Azzlea masih tak habis fikir bagaimana mungkin anak yang masih dikandungnya sangat patuh dengan ucapan Fredrico, bahkan dalam sekali ucap saja bayinya benar-benar menuruti apa yang diucapkan Fredrico padanya.
"Dari mana kamu Fred?" tanya Ayah Parvis kepada Fredrico.
"Ada beberapa hal yang harus kuurus diluar kastil" jawab Fredrico singkat.
"Mengapa kau meninggalkan istrimu sendiri lagi. Bagaimana jika terjadi sesuatu lagi dengan mereka seperti beberapa bulan yang lalu" ucap Ayah Parvis.
"Azzle tidak apa-apa Ayah. Fredrico hanya pergi tak lama" jawab Azzlea menenangkan.
"Setidaknya temani istrimu, tak lama lagi istrimu akan melahirkan bukan, bagaimana jika dia melahirkan saat kau tak ada dirumah" kesal Ayah Parvis pada Fredrico. Fredrico sendiri hanya diam tak mau berkomentar sembari perutnya terus mengusap lembut perut buncit Azzlea.
"Bunda benar-benar tak sabar sekali bagaimana wajah anak kalian nantinya. Apakah cantik seperti ibunya, ataukah tampan seperti ayahnya" Bunda Zinovia mulai membayangkan seperti apa wajah cucunya nanti.
"Yang jelas jangan sampai seperti ayahnya" tolak Bunda Zenia.
"Mengapa begitu?" elak Fredrico penuh dengan ketidak sukaan. Bayi dalam kandungan Azzlea adalah anaknya, mengapa Bundanya tidak ingin jika cucunya sama dengan dirinya.
"Aku juga tidak ingin Fred" jawab Azzlea.
"Hei,, apa kalian semua lupa jika bayi dalam kandungan Azzlea saat ini adalah anakku? Bagaimana mungkin kalian tidak menginginkan dia nantinya sepertiku" protes Fredrico lagi.
"Tentu saja Fred! Mahluk seperti kamu hanya akan ada satu didunia ini, jangan ada duanya. Aku yakin Kastil ini akan sedingin es jika nantinya dia sepertimu" goda Azzlea.
__ADS_1
"Dasar, dia tidak akan seperti itu. Tapi seperti kamu" ujar Fredrico sembari mencuri ciuman dipipi Azzlea.