
Waktu terus berlalu hingga pada suatu ketika terdengar kabar bahwa Viona meninggal. Viona meninggal saat ikut bersama dengan kawanannya melawan pack dari barat dan saat itulah Viona tewas ditempat.
Fredrico benar-benar terkejut dibuatnya, baru beberapa hari yang lalu dirinya mereject Viona dan kini terdengar kabar Viona sudah tak bernyawa.
Benar kata pepatah yang mengatakan bahwa penyesalan akan hadir diakhir. Kini Fredrico benar-benar menyesal dengan apa yang menjadi keputusannya tempo hari hingga membuat dirinya kehilangan segalanya.
Fredrico segera berlari menuju kastil wilayah Viona, tangis tak lagi bisa dibendungnya melihat Viona terbujur kaku tak bernyawa. Fredrico menyesali perbuatannya namun nasi telah menjadi bubur.
Bugh
Bogem mentah mendarat diwajah Fredrico, dengan membabi buta Victor memukuli Fredrico tanpa Fredrico ingin melawan.
"BRENGSEK?! KAU BRENGSEK FRED" maki Victor seraya memukuli Fredrico.
Tak ada lagi rasa sakit yang dirasakannya, hatinya seolah mati dengan rasa sakit karena kepergian Viona dikehidupannya.
__ADS_1
"Lihat apa yang telah kau lakukan. Lihat sekarang apa yang terjadi padanya ha"
"Sekarang kau puas ha.. Bukan hanya hatinya yang kau sakiti, tapi sekarang apa yang terjadi ha" maki Victor.
"Sebegitu tak sukanya kau padanya, dimana hatimu Fred dimana aku tanya"
"Kau brengsek, kau ********" Victor memaki Fredrico tanpa jeda, seolah Fredricolah yang paling bersalah atas kematian Viona. Victor menarik kerah Fredrico dan memukulinya secara bertubi-tubi.
Fredrico menatap dengan tatapan kosong tubuh Viona yang sudah tak bernyawa dan terbujur kaku. Luka ditubuhnya seolah menjadi tanda betapa sangat sakit hatinya karena Fredrico.
Victor tersenyum sinis, sungguh air mata Fredrico tak bernilai lagi harganya. Kekecewaannya teramat sangat dalam, persahabatannya dan rasa simpatinya pada Fredrico menghilang bersamaan dengan kepergian Viona.
"Apa sekarang kau puas ha. Selamat kau tak perlu lagi menghindari keberadaannya" ujar Victor berlari meninggalkan kediaman Viona.
"Aku akan membalaskan dendam Viona padamu. Aku berjanji kau akan merasakan rasa sakit yang dirasakan oleh Viona" batin Victor penuh kemarahan.
__ADS_1
Fredrico berlari menembus hutan belantara, entah berapa mil jauhnya dia tak tahu, yang ingin dilakukannya hanyalah berlari melesat jauh, bahkan siapapun yang menghalangi langkahnya akan habis disaat itu juga.
"Kau bodoh Fred, kau bodoh" maki Fredrico pada dirinya sendiri.
"Kau benar-benar pria pengecut, kau pria brengsek yang merenggut nyawa kekasihmu sendiri" Fredrico meraung tak karuan. Mencari musuh untuk dibasminya sebagai rasa pelampiasan amarah dihatinya.
Tak ada yang bisa disalahkan disini, karena semuanya bersalah. Terlebih dirinyalah yang paling bersalah diantara semua.
Sejak saat itulah Victor dan Fredrico seolah bermusuhan. Victor selalu membuat resak diwilayah Fredrico, bahkan Victor dengan beraninya bergabung bersama pack hitam dan menjadi pimpinannya untuk membalaskan dendam dan sakit hatinya pada Fredrico.
Sejak kepergian Viona pula sifat Fredrico menjadi semakin dingin, bahkan pada setiap orang. Jiwanya seolah mati, sifatnya sedingin es. Bertahun tahun lamanya jiwa Fredrico tersiksa, karena kebodohannya sendiri, karena keputusan yang diambilnya membuat dirinya kehilangan semuanya.
Fredrico berniat ingin menyelamatkan persahabatannya dan merelakan cintanya agar keduanya bahagia. Namun karena keputusan yang diambilnya Fredrico harus kehilangan keduanya. Kekasih hatinya mati dan dirinya dibenci oleh sahabatnya sendiri karena kesalahpahaman.
Semakin beranjak dewasa kekuatan Fredrico semakin bertambah, tak menampik kemungkinan bahwa hatinya masih sangat sakit. Kehilangan wanita yang dicintainya.
__ADS_1
Hanya dengan bertarung melawan sekumpulan pack lemah menjadi hobby barunya meredakan amarahnya.
*Flash Back Off*