Werewolf Alteration

Werewolf Alteration
Part 30 Hadiah


__ADS_3

Azzlea berjalan menuju taman, disana seorang pria gagah tengah duduk bersandar di bangku taman milik azzlea lengkap dengan pakaian prajuritnya.


"Kak...." Panggil azzlea.


Pria itu menoleh, tersenyum kearah azzlea yang kemudian bangkit dari duduknya.


Azzlea berjalan mendekati pria itu, dan sedetik kemudian memeluknya dengan sangat erat. Pria itu membalas pelukan azzlea dengan hangat.


"Aku merindukan mu kak" ucap azzlea berurai air mata.


"Saya juga merindukan anda nona" godanya.


Azzlea melepaskan pelukannya, mengusap air matanya dan duduk dibangku meninggalkan pria itu.


Ya.. Faustin yang berkesempatan keluar memilih berkunjung ke kastil yang ditinggali azzlea. Untuk bertegur sapa juga untuk melihat keadaannya, karena setelah menikah mereka tak pernah lagi bertemu.


"Aku marah padamu kak" azzlea merajuk.


Faustin ikut duduk disamping azzlea. Mengusap rambut azzlea gemas.


"Kakak juga merindukanmu azzle. Itulah sebabnya hari ini aku berkunjung kemari"


"Aku bilang aku marah padamu kak, aku sama sekali tak rindu padamu" ucap Azzlea dengan kesal.


"Tapi aku merindukanmu. Itulah mengapa aku rela jauh-jauh kemari hanya untuk menemui gadis kecil yang cengeng ini" ujar Faustin


Azzlea tersenyum riang. Tak berapa lama kemudian seorang pelayan membawakan pesanan azzlea.


"Coba lah kak. Teh ini sangat menyegarkan. Aku yakin kakak akan sangat menyukainya" tawar azzlea memberikan secangkir teh pada faustin.


Tentu saja faustin menerimanya dengan senang hati. Merasakan teh yang diberikan azzlea untuknya.


"Ya.. Rasanya sangat enak. Aku suka" faustin tersenyum hangat.


Azzlea senang karenanya. Sedari dulu faustin tidak pernah menolak apa yang diberikan oleh azzlea begitu pula sebaliknya.


"Teh ini adalah teh apel. Para pelayan yang membuatnya, teh yang di campur dengan sari apel yang ada di kebun belakang milik fredrico. Aku sangat menyukainya saat baru pertama kali kemari" jelas azzlea yang kemudian menyesap teh miliknya.


"Kamu benar. Aku pun menyukainya walau baru pertama kali mencicipinya hari ini" jujur faustin.


"Mengapa kak faustin baru mengunjungiku sekarang" tanya azzlea.


"Maaf... Aku baru bisa mengunjungi mu hari ini. Banyak hal yang harus ku kerjakan di kastil" sesal faustin.

__ADS_1


Azzlea mengembuskan nafasnya.


"Benar.. Kini kakak sudah tak lagi menjagaku. Dan secara otomatis kakak kembali pada posisi kakak yang dulu. Bukan begitu?"


Faustin mengangguk. Menyesap teh ditangannya kembali.


"Tentu saja. Bagaimana kabar mu selama disini?" tanya faustin.


"Seperti yang kak faustin lihat. Aku baik-baik saja" azzlea tersenyum.


"Ya.. Sangat baik-baik saja. Terlihat kalau pipi mu semakin bulat" goda faustin.


Azzlea mengembungkan pipinya karena kesal. Fredrico terkekeh memperlihatkan senyum tampannya, mencubit pipi azzlea yang mengembung.


"Aku bosan kak, tak ada kak faustin aku tak lagi bisa keluar keperpustakaan seperti dulu"


"Tidak boleh bicara seperti itu. Sekarang kamu sudah menjadi seorang istri. Bagaimana mungkin seperti dulu lagi, lagi pula kastil sebesar ini apa tak ada perpustakaan sama sekali"


"Itulah kak. Fredrico sama sekali tak suka membaca. Dia bahkan terlalu sibuk di perbatasan kota. Ya.. Itu memang salah satu kewajibannya karena beberapa pack mengacau" azzlea menunduk lesu.


"Baru saja seperti itu mengapa mengeluh. Bagaimana nantinya kalau pangeran fred telah menjadi seorang Alpha. Justru akan semakin sibuk, bahkan lebih sibuk dari sekarang"


Bukan itu sebenarnya yang ingin didengarnya. Andai saja faustin tahu kalau pernikahannya bukanlah pernikahan sesungguhnya. Mungkin faustin akan berkata lain. Azzlea bahkan tak pernah mempedulikan kesibukan fredrico sekarang atau kedepannya. Toh selama ini keduanya sama sekali tak dekat meski pernikahannya sudah lebih dari satu bulan.


"Ini untukmu" faustin menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna coklat pada azzlea.


"Apa ini kak" tanya azzlea.


"Hadiah untukmu" jawab faustin tersenyum.


"Untuk ku? Hadiah!"


Azzlea menerimanya dengan antusias. Segera azzlea membuka kotak yang diberikan oleh faustin. Azzlea menutup mulutnya tak percaya, dia terpesona dengan pemberian faustin.


"Kau suka?" tanya faustin. Awalnya faustin ragu harus memberikan hadiah itu pada azzlea, takut kalau azzlea tak menyukainya. Namun lain halnya dengan azzlea yang sangat antusias dengan barang yang diberikannya.


Azzlea mengangguk senang. Faustin memberikan sebuah kalung untuk azzlea, kalung itu didapatnya saat dia pergi ke arah bagian utara, disana faustin melihat sebuah kalung yang sangat cantik dengan liontin berbentuk bulan serta bintang di tengahnya. Saat melihat kalung itu faustin langsung teringat dengan azzlea, seketika itu pula faustin membeli kalung itu.


"Tentu saja aku suka kak. Sangat suka" azzlea langsung memakai kalung pemberian faustin di lehernya.


"Sangat cantik" puji faustin.


"Tentu saja. Azzlea memang sangat cantik. Sejak dulu aku memang cantik, tak ada yang bisa menandingi kecantikanku kecuali bunda rieka" azzlea membanggakan dirinya dengan sangat percaya diri.

__ADS_1


Gemas, lagi-lagi faustin mengacak rambut azzlea membuat azzlea kesal dibuatnya. Nyatanya hingga sekarang kebiasaan buruk faustin mengacak rambutnya sama sekali tak berubah.


"Siapa yang mengajarimu berkata seperti ini hm" faustin yang kemudian mencubit kedua pipi azzlea.


"Siapa lagi kalau bukan kak faustin. Pria tua itu selalu mengatakan kalau aku adalah wanita yang paling cantik setelah bunda. Tentu saja sekarang aku mengakuinya" ucap azzlea tertawa bak orang bodoh.


"Dasar" dengus faustin.


Hari semakin sore. Faustin berpamitan dengan azzlea untuk kembali ke kastil karena sudah terlalu lama dia pergi. Azzlea menahan tangan faustin.


"Tak bisakah kakak disini sebentar lagi. Setidaknya makan malam bersama denganku" ujar azzlea.


"Aku harus segera pergi azzlea! Sudah terlalu lama aku meninggalkan posisi ku. Ayahmu akan sangat marah melihatku tak ada ditempat" ucap faustin.


"Cih.. Mana mungkin ayah akan mengecek keberadaan kakak, ayah bukan orang seperti itu kak" balas azzlea tak percaya.


Faustin terkekeh.


"Maaf kalau aku tak bisa berlama-lama disini. Kakak harus segera pergi sebelum petang"


"Tak bisakah kakak ikut disini, bersama ku. Setidaknya aku memiliki teman untuk berbincang saat aku kesepian" mohon azzlea.


"Permintaan seperti apa itu azzle. Aku akan dicabik-cabik oleh pangeran fredrico kalau aku berada disini. Ini bukan wilayah yang bisa aku tempati"


"Tapi kak" azzlea mulai berkaca-kaca. Tak rela jika harus berpisah dengan faustin.


Faustin segera memeluk azzlea, menenangkan azzlea yang tengah menangis karena tak ingin ditinggalnya pergi.


"Sudah menikah mengapa masih menangis. Seperti anak kecil. Malu kalau sampai suamimu tahu kamu masih menangisi ku dan memintaku untuk tetap tinggal disini"


"Aku tak mau tahu. Kakak harus tetap disini" rajuk azzlea semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku akan sering datang kemari. Menjenguk mu dan berbincang dengan mu seperti hari ini"


"Kapan?" tanya azzlea.


"Sesering mungkin"


"Kakak janji" azzlea mendongak menatap faustin.


"Janji. Akan selalu ku usahakan" faustin menghapus air mata azzlea yang berjatuhan dipipinya.


Tanpa keduanya sadari. Sepasang mata biru menatap tajam memperhatikan interaksi antara keduanya dari awal pertemuan hingga sekarang. Tangannya nampak terkepal melihat kedekatan keduanya. Bahkan keduanya bukan seperti seorang pengawal yang mengawal tuannya. Namun lebih seperti memiliki hubungan yang tak bisa dijelaskan. Tubuhnya nampak mendidih apalagi saat melihat keduanya berpelukan dengan sangat mesra

__ADS_1


"Sial" umpatnya penuh kekesalan.


__ADS_2