
Tak henti-hentinya mengecup perut buncit Azzlea setelah keduanya sampai dikastil mereka. Azzlea mengusap lembut kepala Fredrico yang berada didepan perutnya yang tengah mengecupi perutnya. Sesekali Fredrico menenggelamkan wajahnya diperut Azzlea membuat Azzlea kegelian.
"Apa kau menyukainya sekarang?" ucap Azzlea.
"Terimakasih" ucap Fredrico lagi.
Azzlea terkekeh geli mendengar Fredrico mengucapkan terimakasih padanya entah yang keberapa kalinya.
"Sudah berapa kali kau mengatakan hal itu padaku Fred? Apa kau sama sekali tak lelah mengatakannya" ujar Azzlea.
"Aku akan selalu berterimakasih padamu atas segala hal yang terjadi dihidupku. Kini aku benar-benar berterimakasih karena kau hadir dan masuk didalam kehidupanku"
"Mungkin jika kita tidak pernah bertemu juga tak pernah bersama seperti ini aku akan tetap menjadi Fredrico yang dulu" jujurnya.
"Dasar pembual.. Jika kau bertemu dengan gadis selain aku dan lebih cantik dari pada aku mungkin kau juga akan berubah Fred" elak Azzlea.
"Aku sama sekali tak membual" Fredrico duduk menghadap kearah Azzlea, menatap matanya dengan intens.
"Jika aku bertemu dengan gadis yang lebih cantik dari pada kau, aku jamin aku akan tetap menjadi Fredrico yang dulu. Serigala dingin pria es berkepala batu"
"Apa maksudmu itu?"tanya Azzlea.
"Jika aku bertemu dan bersama dengan gadis yang lebih cantik dari pada kau. Aku akan tetap menjadi Fredrico yang dulu, karena apa?" Fredrico menghentikan pembicaraannya. Azzlea menggelangkan kepalanya menatap Fredrico.
"Karena gadis itu hanya menginginkan ketampananku, juga kedudukan yang kumiliki" ucap Fredrico.
"Tapi jika aku bersama dengan mu itu berbeda. Bersama denganmu itu merubah segala hidupku kau tahu"
"Bagaimana bisa?"
"Karena kau berbeda dengan gadis yang lain. Kau sama sekali tak menginginkan kedudukanku yang tak lama lagi akan menjadi seorang Alpha. Dan kau juga tak pernah menginginkanku karena ketampananku"
"Kau tahu, kau adalah gadis yang paling menyebalkan dimuka bumi yang pernah kutemui"
"Ya... Kuakui aku memang sangat menyebalkan, sama seperti dirimu yang sama menyebalkannya bukan" ucap Azzlea.
"Aku tidak menyebalkan, hanya saja kau yang selalu membenciku"
__ADS_1
"Cih... Apa kau rindu untuk bertengkar dengan ku sekarang?" tantang Azzlea.
"Tentu saja tidak. Aku suka Azzlea yang sekarang" ucap Fredrico mengecup singkat pipi Azzlea.
"Cihh" Azzlea tersenyum simpul.
"Aku tak ingin berharap lebih dengan semua yang terjadi padaku. Kedudukan ataupun ketampanan. Kau tahu, aku sama sekali tak bisa mengubah wujudku menjadi werewolf. Tak memiliki kekuatan apapun apalagi untuk bertemu dengan mate ku"
"Siapa yang akan menyukai gadis lemah sepertiku"
"Jadi apa saat pertama kali melihatku aku sama sekali tak tampan dimatamu hm?" tanya Fredrico.
"Kau sangat tampan tuan Fredrico! Tak ada yang bisa mengalahkan ketampanan yang kau miliki didunia ini"
"Tapi kau seperti tak tertarik padaku sama sekali waktu itu?"
"Sudah ku katakan padamu bukan! Aku hanya gadis lemah yang tak memiliki kemampuan apapun. Meskipun aku menyukaimu tapi aku sangat sadar akan diriku sendiri"
"Jadi.. Sejak pertama kali kau bertemu denganku kau sudah jatuh cinta padaku?" tanya Fredrico.
"Tentu saja tidak" jawab Azzlea singkat.
"B.. Bagaimana bisa?"
"Tentu saja bisa. Aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu. Kau begitu sangat cantik dimataku, dan kau sangat berbeda" Azzlea nampak berfikir dimana mereka pertama kalinya bertemu. Karena seingatnya mereka hanya bertemu beberapa saat dan Fredrico seketika memintanya untuk menjadi matenya. Seorang pria yang tak pernah diketahuinya.
"Pembohong" kesal Azzlea memukul Fredrico menggunakan bantal disampingnya.
"Hei... Hei.. Hentikan. Aku sama sekali tak pernah membohongimu" ronta Fredrico yang kesakitan karena dipukuli Azzlea menggunakan bantal. Azzlea mengehentikan pukulannya dan menatap Fredrico dengan tajam.
"Sudah kukatakan padamu jika aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Kau tahu, aku memintamu menjadi mate ku bukan karena kebetulan belaka. Tapi karena aku sudah menyukaimu"
"Tapi bukankah kau sudah memiliki mate bernama Viona? dan werewolf hanya akan memiliki satu werewolf saja bukan?" tanya Azzlea. Fredrico menganggukkan kepalanya dan mengusap lembut pipi Azzlea.
"Awalnya aku kira karena aku hanya menyukaimu karena kau adalah gadis yang sangat berbeda dengan yang lain. Dan aku sangat membenciku kala itu bukan?"
"Hal itu yang membuatku semakin penasaran padamu. Dan lagi werewolf hanya akan memiliki satu mate saja, aku tak pernah berfikir lebih jauh karena aku sudah memiliki mate sebelum aku bertemu denganmu"
__ADS_1
"Dan lagi kau sama sekali belum menemukan matemu. Karena itulah aku memilihmu untuk menikah denganku dengan perjanjian bodoh yang kita buat kala itu"
"Tapi aku sama sekali tak melihatmu seolah menyukai ku Fred?" tanya Azzlea tak percaya.
Kesal Fredrico mencubit hidung Azzlea hingga memerah karenanya.
"Gadis bodoh. Apa kau pernah jatuh cinta sebelumnya" tanya Fredrico, Azzlea menggelengkan kepalanya lirih.
"Karena pria yang kau tahu hanya Faustin saja. Kau belum pernah jatuh cinta bagaimana kau tahu kalau aku jatuh cinta padamu hm" jelas Fredrico.
"Bukankah kau sangat membenciku hm.. Bagaimana bisa kau menyukaiku sejak dulu" tanya Azzlea.
"Bukankah kau masih mencintai Viona sepanjang hidupmu?"
"Awalnya aku fikir karena aku sangat mencintai Viona sepanjang hidupku. Tapi sekarang aku saar tentang perasaanku, perasaan itu hanya karena aku sangat menyesali apa yang telah kuperbuat pada Viona. Karena aku sudah menyia-nyiakan hidupnya, juga aku menyiakan cinta yang sudah diberikan padaku"
"Aku sadar itu hanya sebagian kecil bentuk penyesalanku padanya yang tak pernah memperlakukannya dengan baik saat dia mencintaiku" jelas Fredrico menerawang jauh kemasa lalu.
"Apa saat ini kau masih mencintai Viona dihatimu?" tanya Azzlea. Fredrico lagi-lagi tersenyum mendengar pertanyaan yang diucapka oleh Fredrico.
"Sudah kukatakan padamu kalau aku menyukaimu sejak pertama kali bertemu denganmu. Dan lagi pria yang kau tahu hanya Faustin penjagamu itu. Bagaimana mungkin kau akan tahu kalau aku menyukaimu" jawab Fredrico. Lagi-lagi Azzlea berdecih karena tak menyukai jawaban yang diucapkan oleh Fredrico.
"Pembohong. Kau hanya membual tentang ini. Siapa yang tahu kalau kau membohongiku sekarang"
"Aku sama sekali tak membual kepadamu. Yang kukatakan adalah kebenaran kau tahu"
"Tidak.. Aku sama sekali tak tahu. Aku tak percaya padamu. Kau pasti membohongiku sekarang kan" kekeuh Azzlea tetap menginginkan jawaban dari mulut Fredrico sendiri. Fredrico tersenyum simpul tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Azzlea.
"Wanita keras kepala, sudah kukatakan berkali-kali kalau aku menyukaimu dan sekarang sangat mencintaimu. Mengapa masih menganggapku jika aku membohongimu" ucap Fredrico.
"Aku perlu bukti jika kau tak membual sekarang" kekeuh Azzlea.
"Jawab pertanyaanku Fred. Mengapa kau diam saja" Fredrico tetap lekat menatap wajah cantik sang istri.
"Jawab pertanyaanku Fred, jangan diam saja seperti itu" ujar Azzlea lagi.
Fredrico kembali merebahkan tubuhnya dipangkuan Azzlea dan mengecup dalam-dalam perut buncit Azzlea.
__ADS_1
"Apakah kehadiran jagoanku bukan bukti jika aku sangat mencintaimu hm?" smirik Fredrico menengadah keatas menatap Azzlea.