
Qarira yang sejak tadi berada didekat Quincy meraih tubuh Quincy kedalam pelukannya mencoba membujuknya pula. Setelah beberapa saat berlalu Quincy semakin tenang dan tak lagi menangis. Quincy melepaskan rengkuhan dari Qarira yang menenangkannya.
"Sebelum Quinza mati, dia pernah berkata padaku bahwa dimasa yang akan datang dia akan mewarisi semua yang pernah dikuasainya pada Alpha yang telah terpilih."
"Quinza bahkan berkata padaku bahwa dia akan berusaha untuk memberikan ingatan selama dirinya hidup agar kami tak merasa kehilangan sosoknya." jujur Quincy.
Azzlea terdiam mendengar penjelasan yang diucapkan oleh Quincy, dalam hati Azzlea melihat sorot mata Quincy yang begitu menyayangi sosok Quinza dalam hidupnya. Bahkan dalam pandangan Azzlea, dia melihat bahwa Quincy mengharapkan bahwa dirinya memang benar-benar sosok Quinza yang telah pergi meninggalkan mereka.
"Aku tak tahu apa yang dikatakannya adalah sungguh atau hanya berbohong, tapi ku rasa Quinza tak benar-benar memberikan ingatan sepenuhnya padaku." batin Azzlea dalam hatinya.
"Aku tahu kau hanya ingin melindungi mereka, kau hanya memberikan ingatan yang paling penting bukan?"
__ADS_1
"Terimakasih karena telah mewariskan kekuatan yang kau miliki semasa mu hidup dulu. Aku berjanji akan menggunakannya dengan baik jika aku diberi kesempatan untuk kembali memimpin kehidupan werewolf nantinya." sambung Azzlea masih didalam hatinya.
***
Hari mulai berganti, entah sudah berapa lama Azzlea sudah berada disini. Ditempat yang sangat indah namun tak diketahuinya sama sekali. Bisikan Fredrico yang terus menerus menceritakan kehidupannya terus terdengar ditelinganya. Semakin hari Azzlea mendengarnya hatinya terasa sangat sakit karena tak bisa berkumpul serta berbahagia dihari yang sangat membanggakan untuk mereka.
Sejak pertarungannya dengan Quincy membuat mereka lebih dekat dan lebih akrab lagi bak saudara. Quincy kini bahkan lebih menebarkan senyum kepadanya saat keduanya benar-benar bertemu. Quincy bahkan sering mengajaknya untuk berburu untuk dinikmati oleh mereka. Entah tempat apa yang kini ditinggalinya, Azzlea hanya merasa dirinya masih sama seperti dibumi tempat tinggalnya hanya saja terasa sangat jauh dirasakan.
Azzlea duduk termenung dibangku kosong berwarna putih ditengah bangku taman yang menjadi tempat favoritnya sejak dia berada disini. Taman yang mereka buat bahkan lebih indah dari taman yang dibuatnya dikastil milik Fredrico. Azzlea seketika begitu merindukan sosok Fredrico juga buah hati yang dilahirkannya dan belum sempat dilihatnya sama sekali. Azzlea merasa sangat buruk karena tak bisa memberikan yang terbaik untuk buah hati
"Aku sudah disini beberapa waktu yang lalu. Aku bahkan sudah memanggil nama Kakak berkali-kali namun Kakak sama sekali tak menjawab panggilan ku."
__ADS_1
"Bahkan dari kejauhan hingga aku duduk disini aku sudah memanggil nama Kakak. Ku rasa Kakak sudah sangat terhanyut dalam bayangan Kakak sendiri." ujar Qarira menjelaskan.
"Apa yang Kakak renungkan dan Kakak bayangkan hingga tak mendengar panggilan dariku em?" tanya Qarira penasaran.
"Aku... Aku tidak membayangkan apapun, Emm.. mungkin... mungkin suaramu tak begitu terdengar ditelingaku jadi aku tak mendengarnya." elak Azzlea.
"Pembohong" selidik Qarira memicingkan matanya.
"Katakan padaku apa yang sedang Kakak lamunkan em em." pinta Qarira dengan manjanya.
"Tidak ada yang ku lamunkan Qarira sungguh." ujar Azzlea mengelak.
__ADS_1
"Kau sangat pandai berbohong Kak. Aku tahu beberapa saat yang lalu kau sedang memikirkan hal lain."
"Apakah Kakak merindukan buah hati Kakak?" tanya Qarira. Azzlea hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa suara, jawabannya adalah 'iya' namun Azzlea tak bisa mengatakan yang sejujurnya pada Qarira.