
Tak terasa sudah setengah jam juga perjalanan itu, kini mobil yang di kendarai Axel sudah terparkir rapi di depan lestoran.
Axel melangkahkan kakinya masuk ke dalam lestoran dengan Meme yang mengikuti nya dari belakang. Meme terlihat malu dan canggung. Lestoran itu sangat mewah dan berkelas, sehingga Meme merasa tak pantas berada di sana. Axel berhenti tiba-tiba, membuat Meme menabrak punggung kerasnya. "Aduh..." ucap Meme mengelus tubuhnya yang terasa sakit.
Axel membalikkan tubuhnya secara elegan. Tangan kokoh itu berada di dalam saku celananya. Wajah dingin nan arogan itu membuat karisma Axel bertambah. Mata tajamnya fokus melihat Meme yang sedang mengelus keningnya. "Kalau jalan, pakai mata!" ucap Axel dengan datar.
__ADS_1
Meme memperlihatkan wajah cemberut nya ke hadapan Axel. Axel tetap pada ekspresi datarnya menatap Meme. Mungkin jika perempuan lain yang berada di posisi Meme nyaris pingsan melihat pesona pria itu. "Manipulatif banget sih! mata itu fungsi nya melihat, bukan berjalan. Ih, gimana sih!" ejek Meme dengan wajah jutek.
Tak ingin mendengarkan ocehan tak berguna Meme, Axel memilih melanjutkan langkah kakinya menuju ruangan vip di mana Laura dan Arsenio berada. "Uuu,,, ngeselin banget sih jadi orang!" umpat Meme pelan tetapi masih bisa di dengar Axel. Pria kaku itu hanya tersenyum devil mendengar mulut bebek Meme.
Tak lama berjalan, kini Meme dan Axel sudah berada di depan pintu vip. Axel mengetuk pintu sebelum masuk. Setelah pintu terbuka, Meme masuk mengikuti Axel dengan mata yang terus menatap sekeliling ruangan. Meme sangat penasaran, sebenarnya untuk apa pria dingin nan kaku itu membawanya kesini. Laura melirik ke arah pintu dan tersenyum ketika melihat sahabatnya sudah tiba.
__ADS_1
"Laura,,,"
Dua wanita itu sangat antusias dan saling berpelukan. Arsenio dan Axel hanya menatap datar dengan perilaku para wanita itu. "Hm." dehem menyeramkan itu mulai keluar seakan memberi isyarat kepada Laura. Laura dan Meme mengalihkan perhatiannya kepada Arsenio. Laura yang sudah tau sikap Arsenio, segera melepas pelukan Meme, walaupun ia masih ingin memeluknya.
Arsenio menatap Meme dan Axel secara bergantian. Arsenio menatap Axel yang juga menatapnya laku beralihlah tatapannya ke arah makan di atas meja seakan berkata, 'Makanlah, dan ajak gadis itu bersamamu' begitulah sekiranya yang berada di benak Axel. Tak ingin membuat tuan mudanya murka, Axel segera mengajak Meme untuk sarapan. "Makan dulu Me." ucap Laura dengan senyum yang sangat indah. Meme mengangguk antusias mendengar ajakan itu.
__ADS_1
Laura menuntun Meme untuk duduk di depannya. Sedang Axel duduk di depan Arsenio, tepatnya di sebelah Meme. Tak ingin menunda-nunda, Meme segera meraih piring dan memasukkan beberapa makanan. Porsi makan Meme terlihat seperti porsi tiga orang. Hal itu membuat Axel dan beberapa penjaga terpaku. Arsenio memilih tak peduli dengan porsi makan Meme. Sedangkan Laura sudah tak heran dengan porsi makan Meme.
Setelah merasa cukup, Meme segera memakan makanannya dengan lahap. Axel yang hendak mengambil makanan hanya mematuk menatap Meme. "Kampungan." ucap Axel yang hanya bisa di dengar oleh Meme. Meme yang tak malu dan segan, tak memperdulikan ucapan buruk itu. Dia terus mengunyah makanan di mulutnya dengan sesekali menggoda Axek dengan mengencangkan kunyahan nya. Laura menahan tawa melihat tingkah dua manusia di depan nya.