World Lion Mafia

World Lion Mafia
Melupakan Sesuatu


__ADS_3

Di depan jendela kamar, terlihat Meme Yanga jenuh melohat pemandangan hutan. Dia benar-benar sangat kesal sebab tak ada yang mengajaknya pergi. Bahkan Laura pun tak ada mengabarinya. Tatapan kesal dan kecewa itu terlihat kosong. Handphone tak ada, yang ngajak keluar pun tak ada, mau pulang pun tak bisa. Kasihan sekali kau Meme. Sabar-sabar kau ya. Untuk mengobati kejenuhan mu, berkhayal saja dulu!


***


Arsenio dan Laura sudah duduk di ruang VVIP. Beberapa makanan terfavorit di lestoran itu sudah tersaji di atas meja. Arsenio tersenyum senang, berbeda halnya dengan Laura yang menatap datar makanan itu. Arsenio lebih tertarik memperhatikan tingkah menggemaskan Laura daripada hidangan membosankan itu.


"Mari kita makan,,," ucap Laura dengan sangat antusias. Arsenio menarik ujung bibirnya melihat wanita kampung di depannya. "Sayang, ayo makan." ajak Laura sembari memegang tangan Arsenio sesaat. Seperti biasa, Laura makan satu piring dengan Arsenio. Tak lupa, ia juga menyuapi bayi besar nya itu.


Di saat mengunyah, Laura seperti teringat suatu hal. Dahinya mengerut mencoba mengingat sesuatu. Arsenio yang melihat itu segera bertanya. "Ada apa?" tanyanya dengan wajah datar.


Laura mengalihkan pandangannya menatap Arsenio. "Tidak sayang, aku hanya seperti melupakan sesuatu." ucap Laura lalu segera mengambil sesendok makanan dan menyodorkannya ke depan mulut Arsenio. Arsenio membuka mulutnya menerima suapan itu.

__ADS_1


Setelah menyuap Arsenio, Laura segera menyuap mulutnya sendiri. Dia saat mengunyah, Laura mematung kan tubuhnya seperti sedang terkejut. Laura mengalihkan matanya perlahan menatap Arsenio. Arsenio menaiki kan dagunya sesaat seakan bertanya, 'Ada apa?' itulah yang di tangkap Laura saat ini.


"Aku lupa sayang,,," ucap Laura dengan nada sedih mengingat sesuatu.


"Lupa?" Laura mengangguk kan kepalanya.


"Lupa pada apa?" tanya Arsenio dengan pandangan fokus menatap mata Laura.


Arsenio tersenyum devil mendengar suara manja itu. "Tenang, aku sudah memerintah kan supir untuk menjemputnya." ucap Arsenio dengan tangan yang mengambil piring di tangan Laura. "Ayo makan lagi." ucap Arsenio berinisiatif menyuapi Laura. Laura mengangguk sedih dengan mulut yang menerima suapan Arsenio.


Di mansion Arsenio, terlihat Meme masih setia memandang hutan dengan kepala yang di penuhi hayalan. Meme tersenyum dan tertawa sendiri dengan hayalan nya. Gadis itu sudah seperti orang gila. Gara-gara Laura ni, gak ngajak-ngajak Meme. Sabar ya Meme,,, supir ganteng akan menjemputmu.

__ADS_1


"Tok tok tok." terdengar suara ketukan di pintu kamar Meme. Meme berdecit kesal ketika hayalan nya menghilang di sebabkan suara ketukan itu. "Siapa sih? ganggu saja!" ucapnya kesal lalu bangkit dan berjalan ke arah pintu. Meme membuka pintu dengan wajah badmood. Ketika pintu terbuka, terlihat pak Mun sudah berada di depannya. Meme tersenyum paksa melihat pria paru baya di depannya.


"Selamat sore Nona." sapa Pak Mun tersenyum dengan sedikit anggukan.


"Sore Pak." ucap Meme membalas senyum pria paru baya itu.


"Nona, silahkan bersiap-siap, anda akan pergi ke suatu tempat." ucap pak Mun dengan senyum simpul yang tak pudar.


Huh? pergi? kemana. batinnya bertanya-tanya.


"Bergegaslah Nona, seseorang sudah menunggu anda di halaman." ucap Pak Mun.

__ADS_1


"Baiklah Pak, terimakasih." ucap Meme lalu segera menutup pintu kamarnya dan bersiap-siap. Begitu pun dengan kepala pelayan, ia segera pergi mengurus perkerjaan nya. Beberapa menit bersiap-siap, akhirnya Meme menyelesaikan kegiatannya lalu segera turun kelantai bawah.


__ADS_2