
Arsenio menundukkan kepalanya sembari menghela nafas. Terlihat guratan kesedihan di wajahnya. Laura diam menunggu keputusan suaminya. "Baiklah, jika berpisah denganku membuatmu bahagia, Aku ikhlas melepaskan mu." Sangat berat bagi Arsenio mengatakan itu. Wajah sendu itu terlihat enggan mengangkat kepalanya menatap Laura.
"Deg!" jantung Laura berdetak ketika mendengar keputusan suaminya itu. Tanpa di sadari, Laura sudah meneteskan air matanya.
Kenapa sakit sekali rasanya? kenapa air mataku menetes seakan tak terima dengan keputusan nya? batin Laura bingung bercampur sedih.
"Aku ingin pulang ke rumah lamaku." ucap Laura dengan lirih.
Arsenio mengangguk sedih menyetujui keputusan Laura yang ingin kembali ke tempat asalnya. Arsenio diam menahan gejolak di dadanya. Hatinya sakit seperti di tusuk ribuan jarum di tambah sayatan pisau.
Kau tak boleh egois Arsenio, jika kau benar-benar mencintai nya, maka biarkan dia bahagia memilih jalannya sendiri. batin Arsenio berusaha tegar dengan keputusan nya untuk melepaskan Laura.
__ADS_1
"Aku mengizinkan mu pergi ketika sudah sembuh. Axel akan mengutus segalanya." ucap Arsenio dengan nada datar lalu segera pergi meninggalkan Laura sendiri di kamar VVIP itu.
"Hiks." Laura menumpahkan air matanya ketika suaminya telah pergi. Tangan kecil itu menutupi wajahnya yang sudah di banjiri air mata. "Ada apa denganku? bukannya ini yang aku mau sendari dulu? kenapa aku menangis? hiks." lirihnya menangis tanpa suara.
Ketika sudah keluar dari pintu, Arsenio tak kuat dan meneteskan air matanya. Arsenio berjalan pergi meninggalkan rumah sakit itu seperti orang yang kehilangan setengah jiwanya. Bahkan kini, ia merasakan kehampaan di sepanjang perjalanan menuju kediamannya. "Apa keputusan ku untuk melepaskan nya sudah benar Axel?" tanya Arsenio menatap kosong sembarang arah. Mata tajam itu sembab dengan sedikit memerah.
Axel yang tengah mengemudi melirik spion memastikan keadaan Tuan mudanya. "Kalau anda mencintai nya, maka pertahankan lah Tuan." ucap Axel membuka suara.
"Apa anda sudah yakin dengan keputusan anda?" tanya Axel dengan wajah prihatin yang di sembunyikan di balik wajah datar nan dinginnya. Arsenio tak menjawab pertanyaan Axel dan memilih menyenderkan kepala, lalu menutup matanya perlahan.
***
__ADS_1
Di kediaman Alex, terlihat seorang pria menitipkan surat untuk Lucy. Dengan cepat, para penjaga menyampaikan surat itu untuk Lucy. "Permisi Nona, ada seseorang yang mengirim surat untuk anda." ucap penjaga itu dengan sopan dan penuh hormat. Lucy menaikkan satu alisnya bingung menatap surat yang masih berada di tangan salah satu penjaga.
"Dari siapa?" tanya Lucy dengan ekspresi datarnya. Lucy segera mengambil surat yang di sodorkan salah satu penjaga pada nya.
"Saya kurang tau Nona, ketika saya mengambil surat itu, pria yang mengantar ini langsung berlalu pergi tanpa mengatakan sesuatu." ucap penjaga itu menjelaskan. Lucy hanya mengangguk penuh wibawa lalu membiarkan penjaga itu pergi.
"Dari siapa Lu?" tanya Meme menghampiri Lucy dengan mata yang memandang surat di tangannya. Lucy hanya mengangkat bahunya pertanda tak tahu.
"Maaf Nona, waktunya makan malam." ucap pelayan yang menghampiri Lucy dan Meme.
"Baik, kami akan segera ke sana." ucap Lucy sembari memberikan senyum simpulnya. "Yuk makan, " ajak Lucy sembari merangkul bahu Meme. Meme mengangguk dengan senyum indah di wajahnya. Akhirnya Lucy dan Meme melangkahkan kakinya menuju meja makan.
__ADS_1