
Ada apa dengan mafia gila ini? tak biasanya dia sangat peduli terhadap wanita. Apa jangan-jangan,,, o my God. Batin Dokter Leon dengan wajah terkejut. Wajahnya itu samar-samar sehingga tak ada yang menyadari nya.
Arsenio mengalihkan fokus nya ke monitor cctv rumah sakit. Matanya merah menahan marah. Dia melihat pria berpakaian dokter sedang mengangkat tubuh Laura. Dan Arsenio juga melihat mobil yang di kenakan pria yang menculik Laura. "Alex sialan!" ucap Arsenio merapatkan gigi nya. Dengan muda pria itu menebak musuh nya.
Arsenio menatap mata Axel dengan tajam seakan berkata, 'Bereskan semuan ya.' itulah sekira nya yang di tangkap Axel. Dengan keadaan marah Arsenio pergi meninggalkan ruang cctv itu dengan Axel yang mengikuti nya di belakang.
***
Di kamar Alex terlihat dua perawat yang di tugaskan menjaga Laura memperhatikan pergerakan gadis itu. Jari-jemari Laura mulai bergerak. Kelopak mata indahnya perlahan mulai terbuka dengan keadaan menyipit berlindung dari sengat cahaya. "Nona sudah sadar." ucap salah satu perawat tersenyum senang.
"Cepat panggil tuan Alex." ucap salah satu perawat itu sembari mendorong bahu temannya. Teman perawat itu dengan cepat keluar pintu dan menyampaikan kabar itu pada para penjaga. Para penjaga dengan cepat pergi ke ruang kerja Alex.
__ADS_1
"Tok tok tok." terdengar ketukan pintu dari luar ruangan Alex. Alex memberikan isyarat kepada Vino untuk membuka pintu. Vino berjalan dengan cepat lalu memutar gagang pintu. Setelah pintu terbuka, terlihat dua orang pengawal memasuki ruang Alex lalu memberitahu jika Laura sudah sadar dari tidurnya.
Alex yang mendengar kabar itu tersenyum senang dan langsung bergegas menemui Laura di kamar nya. Laura melirik ke arah pintu yang di buka dengan kasar. Laura belum sadar jika pria yang sedang menghampiri nya adalah pria yang pernah ia tolong.
"Hay baby girl." ucap Alex dengan nada yang sangat lembut. Pria licik itu memegang dan mengelus punggung tangan Laura. Laura menyipitkan mata nya sembari mencoba mengingat dan mengenali suara pria di depannya.
"Tuan, kau?" tanya Laura memastikan jika penglihatan nya tidak salah. Alex mengangguk kan kepala nya dengan senyum yang sangat manis ke arah Laura.
"Di mana aku, kenapa aku bisa berada di sini?" tanya Laura dengan nada lemah tanpa menjawab pertanyaan Alex.
"Kau di rumahku Laura, aku yang membawa mu kesini." ucap Alex dengan sikap yang tidak seperti mafia.
__ADS_1
"Bagaimana dengan pria itu?" tanya Laura dengan fikiran yang mengingat wajah dingin Arsenio.
"Maksudmu Arsenio sialan itu?" ucap Alex dengan sedikit nada jengkel mengingat wajah mengesalkan rival nya itu.
"Iya Arsenio. Maaf, aku lupa dengan namanya." ucap Laura dengan sedikit wajah takut.
"Hhhhhh..., tak apa Laura, pria gila itu memang pantas di lupakan." ucap Alex senang dengan tawa di Indonesia wajah tampan nya.
***
Di mansion Arsenio membanting semua benda yang ada di sekitar nya, mafia kejam itu terlihat sangat frustasi, mungkin lebih dari kata frustasi. "Ambil kan aku Everclear." perintah Arsenio dengan rahang yang tegas.
__ADS_1
"Baik tuan." ucap Pak Mun lalu pergi ke ruang penyimpanan minuman keras. Setelah mengambil beberapa botol minuman, pak mun kembali ke kamar Arsenio untuk memberikan Alkohol yang ia bawah.