World Lion Mafia

World Lion Mafia
Salju Pertama


__ADS_3

"Seru sekali kelihatan nya, kau bahkan tak terusik dengan suara sepatu yang menggema." goda Alex dengan senyum menggoda.


Laura yang mendengar penuturan Alex menjadi malu dan membalikkan tubuh nya ke arah Alex. "Maafkan aku Tuan." ucap Laura dengan senyum manis nya.


"Jangan panggil Tuan, panggil saja Alex. Anggap aku teman mu." saran Alex yang sedikit risi dengan panggilan Laura pada nya.


"Baiklah Alex, maaf jika tak sopan." ucap Laura dengan wajah yang menikmati sentuhan hujan salju. Posisi Alex saat ini berada di belakang Laura. Gadis itu membalikkan tubuh nya sebentar hanya untuk menjawab ucapan Alex. Alex berjalan perlahan dengan pandangan yang terus memperhatikan ekspresi Laura. Mafia licik itu tersenyum hangat melihat keindahan di depan nya.


"Baru kali ini aku melihat seseorang sangat kagum melihat kumpulan salju." ucap Alex menatap ke arah depan dengan kedua siku yang bertumpu di pagar balkon.

__ADS_1


"Maafkan aku Alex jika membuatmu risi, ini pertama kali nya dalam hidupku merasakan musim salju, dulu aku hanya bisa melihat nya di film kartun, dan itu sudah lama sekali sebelum kedua orangtuaku pergi untuk selama nya." ucap Laura dengan senyum tulus menahan tangis. Wajah nya boleh ceria, bibir nya boleh menerbitkan senyum indah nya, tetapi mata nya tidak bisa berbohong. Siapa saja yang melihat mata nya akan merasa dan tau jika gadis ini sedang menahan sakit bercampur rindu teramat sangat.


"Tidak apa Laura, maafkan aku telah membuat mu sedih, aku tak bermaksud mengingat kan mu pada masa lalu." ucap Alex dengan wajah yang miring menatap Laura. Mata pria itu terlihat sedikit berair seakan merasakan apa yang Laura rasakan.


"Tak apa Alex, aku sudah terbiasa seperti ini." ucap Laura dengan senyum yang terus terbit menyinari hati Alex yang gelap.


"Apa kau tak kedinginan?" tanya Alex mencoba mencairkan suasana.


"Mari masuk, aku akan memerintahkan pelayan untuk membuatkan coklat hangat untuk mu." ajak Alex dengan tangan yang merangkul bahu Laura. Laura tersenyum dengan kepala yang mengangguk pertanda setuju. Akhir nya Laura dan Alex masuk ke dalam mansion, tak lupa mereka menutup pintu balkon itu dengan sangat kuat dan rapat, agar udara dingin tak masuk ke dalam nya.

__ADS_1


***


Di Kamar tepat di tepi jendela, terlihat Arsenio duduk santai mengenakan kimono dengan tangan yang memegang koran. Mafia kejam itu fokus membaca koran dengan kacamata yang bertengger di hidup mancungnya. Benar-benar sempurna, ketampanan dan kewibawaan nya sangat kuat untuk menarik wanita mana saja kedalam hidup nya.


Di saat Arsenio fokus membaca, tiba-tiba saja Axel masuk dan berjalan mendekati Arsenio dengan map coklat di tangan nya. Walaupun Axel sudah berada di depannya, Arsenio tetap tak mengalihkan matanya dari koran yang ia pegang. "Tuan." panggil Axel dengan aura khas nya, dingin dan datar.


"Hm." sahut Arsenio tanpa mengalihkan mata tajam nya melihat ke arah Axel.


"Ada info tentang nona Laura tuan." ucap Axel yang seketika mengalihkan wajah Arsenio dengan kacamata yang masih bertengger di hidung. Arsenio meletakkan korannya lalu melepaskan kacamata nya dengan perlahan.

__ADS_1


"Katakan." desak Arsenio tak sabar dengan informasi yang akan di sampaikan Axel.


"Kami sudah menemukan kediaman Alex dan Nona Laura tuan. Kami tidak bisa menerobos mansion itu karena pertahanan nya sangat kuat, bahkan berkali-kali lipat lebih kuat dari pertahan kita." ucap Axel dengan wajah yang sedikit khawatir.


__ADS_2