
Wajahnya dingin dan arogan, tatapan matanya lebih tajam dari biasanya, dan terlihat matanya merah serta terlihat urat lehernya yang keluar akibat menahan amarah.
***
Waktu menunjukkan pukul 2 shubuh. Terlihat beberapa lampu masih mati di sebagian ruangan. Tempat itu sepi dan sunyi, seperti tak ada kehidupan di dalamnya. Di sebuah kamar, terlihat seorang gadis tengah bersiap-siap untuk kabur dan mencari jalan keluar. Ya, gadis itu adalah Laura.
Laura membuka pintu kamarnya lalu berjalan dengan pelan di lorong lantai tempat kamarnya berada. Dia mencari keberadaan tangga untuk turun dari lantai tempat ia berada. "Akhirnya." ucapnya lega ketika sudah menemukan tangga untuk turun ke lantai bawah. Laura berjalan menggunakan tangan dengan sedikit terburu-buru dan tentu nya tanpa mengenakan alas kaki agar tidak menimbulkan suara yang membangun kan orang-orang di mansion megah itu. Dia memegang sendalnya dengan sangat erat agar tak terjatuh ketika dia berlari.
"Di mana sih jalan keluar nya?!" ucapnya dengan bingung dan tubuh yang bergetar, karena semakin panik dan takut nya dia di lihat seseorang.
Ya Allah, tolong tunjukkan lah jalan keluar untukku.
Laura tak berputus asah, dia terus menyusuri setiap lorong, sehingga tak lama dia mendapatkan pintu jalan keluar. "Itukan dapur? huh, pasti pintu dapur tidak di kunci, karena sebentar lagi dua pelayan akan pergi berbelanja." gumam Laura dengan pelan.
__ADS_1
Laura pun mengintip dari balik tembok sembari memastikan keadaan. Setelah merasa aman, Laura pun segera mencari pintu keluar yang berada di dapur itu.
Luas sekali sih! Batin Laura kesal
"Itu bukan ya?!" ucap Laura bingung sembari mendekati pintu itu.
Terima kasih ya Allah, pintunya tidak di kunci. Laura mau menangis di buatnya karena perlariannya di dukung oleh yang maha kuasa. Laura segera mungkin keluar dari dapur itu dan berjalan mencari mobil putih yang di beritahukan Nila kepada nya.
"Itu dia mobilnya." ucap Laura ketika melihat mobil putih yang berada tak jauh dari dapur. Laura pun segera mendekati mobil putih itu, lalu membuka pintu bagasi.
"Eh kenapa itu mobilnya berbunyi?" tanya salah satu pelayan yang sudah siap untuk pergi berbelanja.
"Tidak tau! Coba periksa." ucap teman pelayan yang satunya. Akhirnya para pelayan itupun memeriksa mobil putih yang berada di dekat dapur itu. Laura sedang bersembunyi di balik bunga-bunga yang lumayan banyak dan besar, sehingga tubuhnya tak bisa di lihat seseorang, apalagi dalam keadaan sedikit gelap.
__ADS_1
"Kretek." terdengar suara seperti patahan kayu.
"Ooo...tupai rupanya!" ucap salah satu pelayan sembari tersenyum lucu.
"Ya sudah, ayo berangkat. Nanti kepala pelayan marah kepada kita karena lama berangkat." uca kedua pelayan yang langsung di angguk kan pelayan pertama.
"Brum.." terdengar suara mesin mobil yang baru saja hidup, dua pelayan itupun mengendari mobil putih itu menuju pasar yang berada di kota. Mereka tak curiga sedikit pun kepada kejadian yang ada.
Mereka tidak tau Laura sudah masuk ke bagasi mobil yang mereka tumpangi ketika mereka sedang sama sama masuk ke dalam mobil.
Pusing sekali kepalaku di bagasi begini.
"Sabar Laura...sabar...demi kebebasan mu!" gumamnya dengan sangat pelan.
__ADS_1
"Hidupkan musik dong." ucap pelayan satu kepada pelayan dua yang sedang menyetir.