World Lion Mafia

World Lion Mafia
Permintaan Laura


__ADS_3

"Maafkan saya tuan baru ada sekarang." ucapnya merasa bersalah karena tak ada di saat tuannya terpuruk.


"Tidak apa Axel." ucapnya pelan dengan tangan yang menghapus air matanya yang hampir menetes.


"Bagaimana jika nanti dia sudah sadar. Dia sudah membenciku Axel. Dia membenciku karena aku seorang mafia." ucapnya mengadu seperti anak kecil. Memang benar, cinta bisa membuat kita bodoh, gila, bahkan berubah.


"Nona tak akan meninggalkan anda Tuan." ucap Axel mencoba mengembalikan mood Tuan mudanya.


"Aku tau itu, tetapi kali ini aku tak ingin egois Axel. Jika keluar dari kehidupan ku membuat nya bahagia, aku akan melepaskan nya walaupun aku tau jika aku sangat-sangat mencintai nya. Hiks." air mata ketulusan itu tumpah di bahu Axel. Axel meneteskan sebutir air matanya. Dia sangat terharu dengan perubahan Tuannya. Dia tak melihat lagi Arsenio yang angkuh, semena-mena, beringas, kejam, kaku, dan egois.


Saya senang tuan anda telah berubah. batin Axel tersenyum simpul.

__ADS_1


"Wah, wah, wah,,,ada apa ini? apa hari ini adalah hari pelukan sedunia?" goda Leon yang baru saja keluar dari ruang operasi.


Axel menatap tajam ke arah Dokter Leon seakan menyuruhnya diam. Dokter Leon hanya tersenyum canggung dengan tangan yang menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Bagaimana keadaan istriku? apakah semuanya berjalan lancar?" tanya Arsenio to the point pada dokter Leon.


"Semuanya berjalan lancar, dan Nona Laura baik-baik saja Tuan." ucapnya kembali menggunakan bahasa formal nya.


"Apakah aku bisa menemui istriku sekarang?" Dokter Leon tertegun, bukannya biasanya pria pemarah itu akan melakukan apapun yang ia mau tanpa meminta izin pada seseorang?


Arsenio yang sudah mendapatkan izin, segera bergegas masuk ke dalam ruangan dengan Axel yang ikut di belakang nya. Mata sembab itu memperhati kan wajah anggun yang tengah tertidur itu. Arsenio mengambil kursi lalu duduk di samping istrinya sembari menggenggam tangan lemah itu.

__ADS_1


"Much ,much, much." Arsenio terus menciumi tangan Laura dengan penuh cinta dan kasih sayang. "Aku mencintaimu sayang." ucapnya lirih sembari terus memperhatikan wajah Laura. Axel yang melihat itu segera memilih pergi meninggalkan sepasang suami istri itu. Dia tak ingin mengganggu suasana romantis penuh kesedihan itu.


"Hmm." gumam Laura mulai sadar dari tidurnya. Tanyanya yang mulai bergerak menyadarkan Arsenio dari lamunannya.


Sayup-sayup mata indah itu mulai terbuka dan silau melihat cahaya di atasnya. Laura mengangkat tangannya untuk melindungi matanya dari cahaya lampu.


"Sayang, kau sudah sadar." ucap Arsenio membuat Laura langsung memalingkan pandangannya kearahnya.


Wanita yang baru sadar itu hanya diam dan enggan merespon ucapan suaminya. Dia masih ingat dengan kejadian beberapa jam yang lalu. Takut dan kecewa berpadu menjadi satu. Hatinya sakit menerima semua itu.


"Sayang, apa ada yang sakit? kenapa kau diam?" tanya Arsenio sedikit panik sehingga membuat dirinya hendak pergi memanggil dokter.

__ADS_1


Sebelum beranjak dari tempatnya, Arsenio berhenti ketika mendengar penuturan yang keluar dari mulut Laura. "Ceraikan aku." ucapnya membuat tubuh Arsenio mematung dengan kepala yang perlahan menghadap ke arah Laura.


Arsenio berjalan dengan perlahan ke arah Laura. Matanya menampakkan gurat kesedihan. "Apa kau serius dengan apa yang kau katakan?" tanya Arsenio tak percaya. Dadanya begitu sesak mendengar permintaan mengerikan itu. Laura hanya mengangguk tanpa berfikir untuk menjawab.


__ADS_2