
"Di mana kau menyembunyikan Alex?" tanya Arsenio dengan tegas dan mengerikan. Urat di lehernya terlihat karena menahan amarah.
"Saya tidak tau tuan. Saya tidak berbohong." ucap Laura dengan sangat jujur.
"Axel!" ucap Arsenio dengan tegas.
"Iya tuan" ucap Axel sembari menghadap ke arah ketua mafia itu.
Arsenio hanya meliriknya sekilas lalu mengarahkan pandangan matanya ke arah Laura seakan berkata 'Jadikan dia tawanan ku, jangan biarkan dia keluar dari mansion ini' Itulah sekiranya yang Axel tangkap dari tatapan Arsenio.
"Baik tuan." ucap Axel kepada tuan mudanya itu.
Tanpa menunggu lama, Axel pun menyuruh para bawahannya untuk membawa gadis itu ke kamar yang berada di mansion Arsenio dan mengurungnya.
__ADS_1
Sekarang Laura resmi menjadi tawanan Arsenio. "Gimana ini...Aku mau pulang...hiks..hiks.." tangisnya menjadi jadi. Dia mengeluarkan suara tangisan seperti anak-anak yang minta di belikan es cream tapi nggak di kasih mamanya.
Di tempat lain terlihat Alex baru saja selesai melakukan operasi pengeluaran peluru di kakinya. Dia sedang duduk di kursi roda ya sedang di dorong oleh salah satu suster.
Alex pun sampai di dalam kamarnya. Vino membantu memapah Alex untuk duduk di ranjang king size nya.
"Bagaimana,sudah ada informasi tentang gadis itu?" tanya Alex membuka suara.
"Sudah tuan. Menurut info yang di dapat,gadis itu bernama Laura, ia anak yatim piatu dan dia tak memiliki sanak saudara. Bisa di bilang, gadis ini sebatang kara. Dia memenuhi kebutuhannya dengan berjualan kue keliling, dia juga mempunyai sahabat baik yang bernama Meme. Ibu kosnya sangat baik terhadapnya." ucap Vino menjelaskan sedikit tentang tentang Laura.
"Apa?" tanya Alex dengan ekspresi yang bingung, alis tebalnya terangkat sebelah.
"Tidak lama ini...nona Laura di culik oleh rival anda tuan, yaitu Arsenio ketua mafia dari kelompok world lion mafia." ucap Vino menyambung ceritanya lagi.
__ADS_1
"Apa!" ucap Alex sedikit kaget. Dia sudah menduga sebelumnya jika hal ini pasti akan terjadi.
"Apa yang harus kita lakukan tuan?" tanya Vino kepada Alex bosnya.
"Untuk sekarang biarkan saja, pertahanan Arsenio sangat kuat. Kita akan kalah telak jika menerobos ke mansion miliknya. Jika ada kesempatan, kita akan menolong dan membawah gadis itu pergi." ucap Alex dengan sedikit santai walaupun ada rasa tak tega di hatinya karena telah membawah Laura masuk ke dalam masalahnya. Sungguh kasihan sekali gadis itu.
Sungguh malang gadis ini. Batin Vino prihatin.
Maafkan aku Laura, bukan nya aku tak tau berterima kasih, tetapi aku belum mampu menghancurkan manusia berjiwa iblis itu. Dasar bedeb*h sial*n. Batin Alex kesal ketika mengingat rivalnya itu.
"Baiklah Vino, kau sudah berkerja dengan baik, jadi beristirahatlah karena aku juga ingin beristirahat." ucap Alex sembari membaringkan tubuhnya secara perlahan dan berhati hati.
"Baik tuan." ucap Vino sembari pergi dan berjalan ke luar dari kamar mewah Alex.
__ADS_1
Di kediaman Arsenio, terlihat keadaan mansion mewah itu sepi dan senyap. Tak ada sedikitpun terdengar suara suara yang biasa terdengar di sana. Bahkan, teriakan dan tangisan Laura pun tak terdengar.
Di lantai empat, terlihat seorang gadis sudah tertidur pulas di atas kasur empuk di mansion mewah itu. Dia tidak memberontak lagi seperti awal di tangkap, mungkin Laura kecapean sebab berteriak terus.