
"Maaf sayang." ucap Arsenio mengendur kan dekapannya. Tangan kekar nan berurat itu menghapus air matanya. Sisa-sisa air mata masih terlihat di sekitaran mata tajam nan menusuk itu.
"Tidak apa sayang." ucap Laura tersenyum lembut sembari mengelus rahang kokoh suaminya.
"Aku mencintaimu." ucapnya dengan nada serak akibat menangis. Arsenio kembali memeluk Laura dengan tekanan yang sedang.
Laura tersenyum sembari membalas pelukan itu. "Aku juga mencintaimu suamiku sayang." ucapnya membuat pak Mun tersenyum.
Tak ingin merusak momen romantis itu, Axel dan pak Mun segera pergi meninggalkan ruangan itu.
Biarlah suami istri itu saling melepas kerinduan yang selama ini tak tercurah kan.
Beberapa saat berpelukan, Arsenio menyuruh Laura agar beristirahat agar lukanya segera sembuh. Setelah memastikan Laura tertidur, Arsenio segera keluar dari ruangan itu menemui Axel. "Cari tau semua hal yang terlewat, termasuk orang yang berani mengambil ginjal istriku." perintah Arsenio dengan wajah tak bersahabat.
__ADS_1
"Baik Tuan." ucap Axel mengangguk pelan. Setelah mengatakan itu, Arsenio segera kembali ke ruang rawat Laura. Axel segera pergi menyelesaikan perkerjaan setelah melihat Arsenio tak nampak di pandangan nya.
Axel berjalan di lorong menuju kamarnya, tanpa ia sadari, terdapat sepasang mata mengintip nya dari balik tembok. Ketika Axel semakin mendekat, dengan cepat Meme keluar dan mencoba mengejutkan pria dingin di depannya, tapi sayang pria itu tak menampil kan wajah terkejut sedikit pun.
"Hmm." Meme bergumam sebel melihat reaksi yang tak sesuai harapan nya.
"Apa aku sudah boleh menemuinya." ucap Meme dengan mata kucing mencoba merayu Axel.
"Tidak." ucap Axel lalu segera melanjutkan langkah kakinya. Meme yang sebel segera mengejar Axel dan mengikuti langkah panjang.
"Hehe." tersenyum canggung menatap mata tajam Axel.
"Bruk." Axel melepas pelukannya membuat pinggul Meme mencium lantai.
__ADS_1
"Aduh." ringis Meme menahan sakit di pinggangnya.
"Jahat banget sih!"kesalnya dengan tangan yang memegang pinggangnya.
"Salahmu sendiri bertingkah." ucapnya datar lalu melanjutkan langkahnya kakinya. Meme hanya bisa menggerutu kesal melihat punggung lebar yang semakin menjauh itu. Mau tak mau, Meme kembali ke dalam kamarnya dengan keadaan hampa.
Aku merindukan mu Laura. Aku sangat cemas dan ingin segera menemui mu. batin Meme melihat foto lara di tangannya.
Tak terasa, kristal bening jatuh begitu saja dari mata indah itu. Meme sangat menyayangi Laura, bahkan kemarin ia hampir stres ketika bangun dari pingsannya di sebabkan obat tidur tetapi tak mendapati Laura di sisinya. Tak ada yang bisa ia lakukan selain berdoa, berdoa, dan berdoa. Bahkan gadis itu semakin rajin shalat Sunnah di sebabkan kehilangan Laura.
***
Di meja makan, terlihat Karina dan Alex saling berhadapan. Karina sangat canggung memakan makanannya di sebabkan Alex yang terus memperhatikan nya. "Jangan melihatku seperti itu. Aku tak bisa makan jika terus begini." ucap Karina sedikit kesal melihat kelakuanku pria aneh di depannya.
__ADS_1
"Terserah akulah mau melihat ke arah mana. Inikan mansion ku!" ucapnya ketus membuat Karina terdiam. Alex tak berniat membuat wanita di depannya tertekan. Dia hanya sedikit becanda. Bagi Alex mungkin itu hanya sebuah candaan, tetapi tidak dengan Karina. Dia merasa tak nyaman dengan semua yang di lakukan Alex.