World Lion Mafia

World Lion Mafia
Cinta segiempat?


__ADS_3

Masih di pelaminan, terlihat Arsenio memperhatikan Laura dengan tampang datarnya. Ekspresi mengantuk Laura tak luput dari mata tajam pria di sebelahnya. Arsenio yang merasa kasihan pun segera mengakhiri acara pernikahannya dan membawa Laura ke kamarnya.


"Pesta selesai, akhiri semuanya." perintah Arsenio lalu menarik tangan Laura untuk ikut bersamanya.


Karena tamu undangannya hanya penghuni mansion, tugas Axel semakin mudah untuk membuat gedung itu kosong seketika. Para pelayan dan pekerja lainnya tak merasa heran dengan pesta yang mendadak berhenti. Mereka semua sudah terbiasa dengan sikap semena-mena Arsenio.


"Meriah sekali ya, pestanya. Tapi sayang, sudah selesai."


"Iya, tak seru!"

__ADS_1


"Uss,,,diamlah, nanti ada yang mendengar!"


Pesta malam ini menjadi pembicaraan hangat para pelayan dan pekerja lainnya. Tanpa para maid itu sadari, Ada beberapa orang yang mendengar dan mengamati mereka dari kejauhan. Pernikahan sepihak Arsenio sudah sampai di telinga Axel dan Inder. Tak menyangka, mata-mata para rivalnya itu sudah masuk di kediaman Arsenio.


***


Semenjak kapan Nona Laura menjadi kekasih Tuan? Batin Vino bertanya-tanya. Selama Laura tinggal di kediaman Alex, tak pernah sedikitpun Alex jauh dari pandangannya. Setiap tindakan dan ucapan Alex tak pernah lolos dari perhatiannya.


Ruangan yang tertata rapi itu kini berbuah menjadi kapal pecah. Serpihan kaca dimana, semua barang tidak berada pada tempat sewajarnya. "Antar aku ke klub." perintah Alex sembari berjalan keluar ruangan meninggal kan Vino di belakangnya. Vino menghela nafasnya sesaat lalu melangkahkan kakinya menyusul Alex.

__ADS_1


***


Di lain tempat, terlihat Inder tersenyum devil memikirkan percintaan yang menurutnya tak masuk akal. "Apa ini? cinta segi empat? Hhh,,,sangat menarik!" ujar Inder dengan mengepal kertas di tangan kekarnya. "Sepertinya akan lebih seru jika aku ikut bermain." ujar Inder dengan nada dan aurah yang sangat dingin. Mata tajam bak elang itu terus menatap tajam ke arah depan.


Segala rencana licik sudah tertata rapi di benaknya. Dia hanya tinggal masuk kedalam permainan dan menjalankan perannya. "Marco." panggil Inder dengan nada tegas terdengar garang. Inder membuang gumpalan kertas lalu memasukkan kedua tangannya di saku celananya.


Marco yang di panggil segera mendekat lalu berkata, "Iya Tuan." Marco sedikit mengangguk kan kepalanya ke arah Inder. Posisi Inder saat ini membelakangi Marco. Marco diam di tempatnya memperhatikan Inder yang perlahan membalikkan tubuh kekar nan berototnya. "Sepertinya, kita harus merayakan akhir tahun ini di Indonesia." Inder menatap dingin ke arah dinding walaupun Marco sudah berada di depannya. "Kau tau kan, apa yang harus kau lakukan." ucap Inder dengan senyum menyeringai.


Marco mengangguk paham dengan ucapan Inder. Pria tampan dan matang itu terlihat sangat bersemangat dengan misi di akhir tahunnya ini. Setelah mendapat perintah itu, Marco segera pergi meninggalkan Inder dan menyelesaikan urusannya. Lagi-lagi Inder tersenyum seperti orang gila ketika mengingat info yang di sampaikan anak buah. Inder mengerahkan anak buahnya di kediaman Arsenio dan Alex. Tak ada yang menyadari langkah halus Inder. Semuanya tertipu dengan muslihat Mafia terkejam di dunia itu.

__ADS_1


__ADS_2