
Karina kehabisan banyak darah di sebabkan jahitan di bekas operasi nya lepas. Kini gadis itu mengenakan impus di tangannya dan Transfusi darah. Seseorang yang duduk di atas sopa dengan perban di tangannya menatap datar ke arah Karina.
Pria itu memperhatikan pergerakan Karina yang mulai siuman dari pingsannya. Tubuh itu mulai menggeliat mencari kenyamanan di sana. "Hmm, dimana aku." ucapnya terdengar samar, namun masih bisa di dengar pria yang tak jauh darinya.
"Periksa dia." perintah pria itu pada beberapa suster penjaga di ruangan itu.
"Baik Tuan." ucap para perawat bergegas mendekati Karian lalu memeriksanya.
"Kondisi Nona sudah mulai membaik Tuan walaupun masih harus di impus." ucap salah satu perawat.
"Hmm, baiklah, kalian boleh beristirahat." perintah pria itu sembari bangkit dari duduknya lalu mendekati Karina.
"Siapa kau? dimana Lucy dan Laura?" tanyanya bingung sembari mengendar kan pandangan nya mencari dua teman wanitanya.
"Mereka tidak sini." ucapnya datar menatap Karina dengan mata tajamnya.
"Kenapa aku bisa berada di sini? dimana ini?" ucapnya yang sudah duduk menyender di kepala ranjang.
"Kau sedang berada di kediamanku, tepatnya kamarku." ucapnya dingin dengan ekspresi datarnya.
__ADS_1
"Kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Karina mulai ketakutan melihat pria di depannya.
"Kau ini cerewet sekali ya. Kalau tau begini, aku akan tetap meninggalkan mu di tempat jelek itu!" ketusnya lalu berbalik pergi meninggalkan Karina di dalam sana.
"Hiks." tangisnya pecah dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya.
Apa lagi ini Tuhan. batinnya sangat lelah dan sedih dengan semua yang terjadi.
***
Karina, Laura, dimana aku harus mencari kalian. batin Lucy terus melangkahkan kakinya tanpa arah.
"Hehe, siapa suruh melamun. Wek." ejek Ela berambut pirang bertato di wajah.
"Tumben kau Lu ke sini? biasanya mageran kau." ucap Nia berwajah manis dan bertubuh mungil.
"Huh." Lucy membuang nafasnya kasar. "Boleh nggak aku nginap di rumah kalian?" tanya Lucy dengan wajah datarnya.
"Boleh-boleh-boleh." ucap Ela dan Nia serentak. Mereka sangat senang Lucy mau menginap di rumahnya.
__ADS_1
"Eh, ngomong-ngomong, ada angin apa ni, makannya mau nginap di rumah kita." tanya Ela dengan gaya tomboy nya.
"Gak boleh ya?" tanya Lucy mengarahkan wajah datarnya menatap Ela.
"A,ela, cuma nanyak doang lol!" ejek Ela mendorong bahu Lucy dengan jari telunjuknya.
"Uda la, nanti harimau gila ini marah." bisik Nia yang masih bisa di dengar Lucy.
"Kau mau mati ya!" sentak Lucy membuat Ela dan Nia terkekeh geli.
"Kau marah-marah ajalah, lebih bagus kita makan. Gimana?" tanya Ela membuat Lucy mengangguk dengan cepat. Kebetulan dia juga belum makan.
"Giliran makan aja cepat kali!" ejek Nia membuat Lucy tersenyum samar.
"Haruslah memang! kwkwkw." ucap Lucy sembari mengucap ketawa yang biasa di gunakan obrolan chat.
"Hhhhh." Ela dan Nia tertawa mendengar suara Kwkwkw Lucy.
Tiga gadis itupun pergi mencari tempat makan di pinggir jalan, tentunya mengguna kan uang hasil dari mengamen. Menu malam ini jatuh pada Bakso wak pudin kesukaan mereka. Mereka sudah berlangganan sejak lama di tempat itu.
__ADS_1