World Lion Mafia

World Lion Mafia
Mencoba menggali informasi


__ADS_3

Akhirnya Arsenio sudah siap dengan aktivitasnya, dia berjalan dengan santai dan di ikuti dengan kaki kanan kesetiaannya. Tak hanya Axel, kepala pelayan dan beberapa bodyguard pun turut mengikuti Arsenio. "Jangan biarkan gadis itu pergi dari mansion ini!" ucap Arsenio dengan nada dinginnya yang selalu menakutkan bagi setiap orang.


"Baik tuan." ucap kepala pelayan dan beberapa bodyguard.


"Ingat, jaga gadis itu baik-baik! kalian tau konsekuensi jika kalian lalai dalam berkerja?!" ucap Axel mengancam semua orang yang berada di situ, kecuali Arsenio tuan muda nya.


"Ayo pergi" perintah Arsenio pada Axel.


Beberapa mobil hitam datang menghampiri Arsenio. Mobil yang akan di tumpangi Arsenio dan Axel adalah mobil hitam mewah yang berada di tengah tengah mobil hitam lainnya. Setelah mobil mobil itu berhenti, Axel pun membukakan pintu mobil untuk Arsenio.


"Silahkan tuan." ucap Axel mempersilahkan.


"Hmm.." lagi-lagi Arsenio hanya menjawab dengan deheman dinginnya. Setelah tuan mudanya masuk, Axel pun ikut masuk ke kursi kemudi, sedangkan supir yang membawah mobil di awal sudah pindah ke mobil lainnya.


Kembali ke mansion Arsenio, terlihat Laura sudah merasa lebih baik dari pada sebelumnya. Dia turun dari atas kasur dan mulai berjalan ke arah jendela yang berada di kamarnya. Dia sangat jenuh dan bosan di tempat itu. Tak ada yang bisa di lakukannya selain duduk di dekat jendela, lalu melihat pegunungan, hutan rindang dan sesekali berbicara dengan Nila pelayan Arsenio.

__ADS_1


"Tok-tok-tok." terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Laura.


Pasti itu Nila. Gumam Laura menebak.


"Nona, waktunya makan siang." terdengar suara Nila dari luar kamar Laura. Laura yang mendengar suara Nila pun langsung tersenyum senang.


"Cklek." Laura segera membuka pintu untuk Nila yang sudah ia anggap temannya sendiri. "Masuklah." ucap Laura mempersilakan dengan senyum tulus di bibirnya.


"Baik Nona." ucap Nila sembari membalas senyuman Laura. Nila yang sudah di izinkan masuk langsung segera menata makanan untuk Laura di atas meja depan sopa kamar itu. "Silahkan Nona." ucap Nila mempersilah kan Laura untuk memakan makanan yang di bawanya.


"Terima kasih Nila." ucap Laura pada Nila.


"Sudah Nona." ucap Nila jujur.


"Baiklah, kalau begitu temani aku makan ya." ucap Laura pada Nila dengan penuh pengharapan.

__ADS_1


"Tapi Nona." ucap Nila tak enak hati kepada Laura dan tentunya dia takut di marahi oleh kepala pelayan.


"Sudahlah tak apa." ucap Laura sembari menarik tangan Nila agar duduk di sebelahnya.


"Aku boleh bertanya tidak?!" tanya Laura dengan sedikit ragu dan rasa takut.


"Silahkan Nona." ucap Nila mempersilahkan.


"Di mana ini? maksudku...tempat yang kita tempati saat ini. Kenapa banyak sekali pohon? seperti hutan saja!" ucap Laura sembari memakan makanannya.


"Kita memang berada di tengah hutan nona." ucap Nila jujur menatap serius ke arah Laura.


"Uhuk-uhuk-uhuk..." Laura terbatuk-batuk setelah mendengar penuturan Nila.


"Silahkan di minum Nona." ucap Nila buru-buru memberikan segelas air putih ke hadapan Laura. Laura yang sudah tak tahan dengan lehernya yang tersedak pun langsung segera meminum air yang di berikan Nila.

__ADS_1


"Apa!" ucap Laura ketika sudah tidak terbatuk dan tersedak lagi.


"Apakah di sekitar mansion ini ada perkampungan?" tanya Laura lagi dengan rasa penasaran yang begitu besar.


__ADS_2