World Lion Mafia

World Lion Mafia
Menghukum Laura


__ADS_3

Ya Allah...Aku kembali lagi ke rumah mengerikan ini.


Laura sangat ketakutan melihat pria yang berada di depannya. Tubuhnya bergetar melihat tatapan tajam Arsenio kepadanya.


Laura segera bangkit dan lari ke arah pintu keluar ruangan itu, tetapi sayang, usahanya itu sia-sia dan tak membuahi hasil. Arsenio yang sudah geram dan marah di buatnya pun langsung pergi mengejar gadis itu.


Arsenio menarik bahu Laura lalu mendorong gadis itu hingga tersungkur ke lantai. "Apa kau mau mati!" ucap Arsenio dengan berapi api. Axel hanya diam saja menyaksikan kemarahan tuan mudanya itu. "Ambilkan aku sesuatu yang bisa menghajar gadis ini!" ucap Arsenio dengan rahang yang mengeras dan mata tajam yang di mana mata itu sudah memerah menahan amarah. "Hiks..hiks.." Laura menangis melihat perlakuan Arsenio kepadanya. Lihatlah wajah Arsenio, itu sangat menakutkan bagi Laura.


"Silahkan Tuan." ucap Axel memberikan sebatang kayu lepes seperti rol yang sering di gunakan guru sekolah. Tanpa menunggu lama, Arsenio memukul punggung Laura dengan rol lepes itu.


"Akh... Hiks hiks.. akh.." teriak Laura sembari menangis histeris.

__ADS_1


"Sudah cukup tuan, tolong berhenti." ucap Laura memohon ampun, karena badannya benar-benar sangat sakit di buat Arsenio.


"Mati kau!" pukul Arsenio secara brutal. Axel yang kasihan pun mencoba menghentikan Arsenio.


"Maaf tuan, bukankah sebaiknya tuan tidak membunuhnya? saya rasa gadis ini tidak ada hubungannya dengan rival anda, buktinya saja, rival anda datang ke Itali untuk mendatangi acara yang di selenggarakan tuan Inder. Bahkan dia tak berniat membantu gadis ini." ucap Axel yang seketika membuat Arsenio berhenti untuk memukul Laura.


Arsenio tidak membalas ucapan Axel, di hanya menatap Axel dengan nafas yang


ngos-ngosan akibat terlalu semangat memukul Laura. Laura yang sudah berhenti di pukul, hanya bisa menangis. Tubuhnya benar benar sangat sakit saat ini. "Hik...hiks..hiks.." tangisnya sembari sesenggukan.


"Saya rasa tidak perlu tuan, anda kan bisa menjadikannya pelayan. Pelayan pribadi misalnya? dan itu akan sangat menguntungkan anda. Mempunyai pelayan seumur hidup tanpa di gaji." ucap Axel mengeluarkan celotehan gila dan tak ber adap.

__ADS_1


"Hm.." balas Arsenio kepada Axel seakan berkata 'Aku setuju dengan usulan mu.'


Arsenio pergi meninggalkan ruangan itu. Kayu yang ia pakai untuk menghajar Laura sudah terlempar ntah kemana. Tinggal lah Laura dan Axel di sana. Axel keluar dari ruangan itu dan memerintahkan kepala pelayan untuk mengobati gadis itu.


Setelah Axel keluar, masuklah kepala pelayan dan beberapa bawahannya. Akhirnya Laura di bawah ke dalam kamar lamanya. Dia masih menangis sesenggukan atas hal yang menimpah nya. Banyak para pelayan yang kasihan terhadapnya.


Bersabarlah Nona. batin Dokter yang memeriksanya.


Setelah merasa lebih baik, Laura di beri makanan dan obat penenang. "Makanlah Nona, jangan sampai nanti tuan marah lagi." ucap Nila kasihan kepada Laura. Dia terus saja menyodorkan dan menyuapkan nasi ke arah mulut Laura. Gadis itu benar benar jera dan lemas di buat Arsenio. Benar-benar kejam dan tak berperasaan.


Ibu, ayah... Laura takut...

__ADS_1


"Hiks hiks hiks." lagi lagi Laura mengeluarkan air matanya. Nila mengelap air mata milik Laura, lalu mengusap punggung Laura yang sedikit bergetar.


"Axel." panggil Arsenio.


__ADS_2