World Lion Mafia

World Lion Mafia
Ketulusan Arsenio


__ADS_3

"Cepat Axel!" bentaknya tak sabar saking cemasnya ia memikirkan keadaan Laura.


"Kita sudah berada di kecepatan di atas rata-rata Tuan." ucap Alex membuat Arsenio berdecit kesal dengan tangan yang meninju kursi di depannya.


Beberapa menit menembus jalan, kini mobil hitam nan mewah itu sudah berada di halaman rumah sakit. Tanpa menunggu mobil berhenti secara sempurna, Arsenio segera turun dan berlari menemui Laura. Orang-orang yang melihatnya kaget dan bingung dengan pria tampan itu. "Huh, huh, huh." Dada Arsenio naik turun ketika berada di ruang inap VVIP Laura. Sebelum masuk, Arsenio memastikan tidak ada air mata yang menetes. Dengan cepat, Arsenio membuka pintu kamar itu lalu memasuki nya.


Dia tak bisa membendung air mata nya ketika melihat beberapa selang di tubuh Laura. Laura mengenakan oksigen di sebabkan nafasnya yang pendek. Arsenio sudah berada di sebelah Laura. Mata tajamnya menatap iba melihat wanita yang tengah terbaring lemah itu.

__ADS_1


"Maafkan aku sayang, hiks." ucapnya di sertai isak tangis. "Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku tak sanggup kehilanganmu, aku sangat mencintaimu istriku, kesayangan ku, bidadari ku, ibu dari anak-anakku, belahan jiwaku, hiks." ucapnya dengan sangat tulus. Arsenio menenggelam kan wajahnya di leher Laura. "Aku menarik kata-kata ku, aku tak akan melepaskan mu ataupun menceraikan mu. Akulah jodohmu, akulah takdirmu. Maka, mari menua bersamaku." ucap Arsenio membuat Laura meneteskan air matanya.


Arsenio tidak sadar jika Laura sudah sadar sendari awal iya memeluknya. Tangan lemah itu perlahan terangkat membalas pelukan Arsenio. Arsenio yang merasa Laura membalas pelukan nya tersentak dan refleks menatap mata sayu Laura. Mata tajam nan berair itu bengkak dan memerah. Betapa tulusnya cinta Arsenio kepada istrinya itu sehingga mafia gila itu bisa menurunkan egonya hanya demi dirinya.


"Sayang, kau sudah sadar." tanya Arsenio sembari mengelus pipi Laura. Laura hanya mengangguk pelan di sertai senyum lemah penuh cinta.


"Sayang,,," regek Arsenio kembali memeluk Laura dengan sangat posesif.

__ADS_1


Arsenio tersenyum canggung sembari melepaskan dekapannya. "Maafkan aku sayang." ucapnya menampilkan mata sayu. Laura bisa melihat guratan ketulusan di mata tajam Arsenio.


Laura memegang tangan Arsenio yang berada di pipinya. "Nggak papa." ucapnya dengan suara parau.


"Sayang, jangan tinggalkan aku." ucapnya dengan wajah memohon. "Aku tak ingin bercerai denganmu, mari kita memulai semuanya dari awal. Apakah kau mau hidup dan menua bersamaku? Humaira." ucap Arsenio membuat Laura tak dapat membendung air mata kebahagiaan nya. Hatinya tersentuh ketika mendengar panggilan romantis yang keluar dari mulut suaminya itu.


Laura menganggukkan kepalanya sembari berkata. "Aku mau sayang, aku mau hidup dan menua bersamamu. Hiks." tangisnya pecah di pelukan Arsenio.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, Axel dan Leon mengeluarkan air mata haru melihat kebahagiaan mereka. Bahkan dokter Leon menahan tawanya melihat asisten Arsenio sekaligus sahabatnya itu meneteskan air mata. Dia tak menyangka, jika deking singa dunia itu bisa meneteskan air matanya juga. Axel menatap tajam ke arah Leon yang seakan mengejek nya. "Kenapa? aku kan juga manusia!" ucapnya ketus lalu segera pergi meninggal kan ruangan itu.


Axel pergi bukan karena malu pada dokter Leon, tetapi dia hanya tak ingin merusak suasana romantis Tuan dan Nona mudanya itu. Dokter Leon yang merasa seperti makhluk tak terlihat pun, segera pergi menyusul Axel. "Xel, tunggu." panggil Leon terus mengejar langkah cepat Axel.


__ADS_2