
Setelah Laura keluar, Karina segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Di saat Laura duduk di kasur, tiba-tiba saja Lucy masuk dengan makanan di tangannya.
"Makan dulu yuk." ucapnya sembari berjalan menuju dapur untuk mengambil piring. Setelah mengambil piring, Lucy segera kembali ke ruang tamu sekaligus kamarnya itu. Piring dan bungkusan di letakkan nya di lantai. Ketika hendak membuka buku dan, tak sengaja mata Lucy melihat darah yang melekat di baju Laura.
Lucy bangkit meninggalkan makanannya menuju ke arah Laura. "Eh, perutmu berdarah." ucap Lucy sedikit cemas. "Ayo kita obati." ucap Lucy menarik tangan Laura agar berbaring di ranjangnya. Dengan cepat, Lucy mencari peralatan medisnya. Setelah dapat, gadis itu segera mengobati luka jahitan Laura
"Jangan banyak gerak, nanti lepas lagi jahitannya. Di jahit ulang mau nggak?" tanya Lucy menatap Laura meminta persetujuan.
"Ke dokter?" tanya Laura sedikit ragu.
"Nggak, di sini." ucap Lucy dengan wajah datarnya.
"Huh?" Laura menampilkan ekspresi bingung. "Mau memanggil dokter?" tanya nya heran.
__ADS_1
"Nggak, aku yang jahit perutmu." ucap Lucy dengan santainya membuat Laura terkejut sekaligus takut. "Kenapa kau? biasa saja kali." ucap Lucy dengan tangan yang memegang alat suntik. "Ayok lah, nggak sakitnya ini. Kan di bius." ujarnya tersenyum lembut dengan menunjukkan jarum suntik nya yang sudah siap menyucuk.
Laura menggeleng cepat. Dia sangat takut melihat jarum suntik itu. "Uda cepat." ucap Lucy memaksa.
"Nggak, nggak." menggelengkan kepalanya menolak.
"Ct, nggak sakit loh,,,percaya kenapa!" ucapnya kesal. "Kak Karin, bantu pegangin tangan Laura inilah." ucap Lucy meminta tolong Karina yang baru saja selesai mandi.
Karina mengangguk lalu segera memegang lengan Laura.
"Ini kak, mau ngobatin luka di perut Laura." ucapnya lalu segera menancapkan jarum suntik itu ke pinggul Laura.
"Sakit Lucy." ucap Laura sedikit kesakitan.
__ADS_1
"Jangan lebay lah, macam di gigit semut nya." ucap Lucy setelah selesai menyuntikkan obat bius di tubuh Laura. Sebelum menjahit luka perut Laura, Lucy mengambil tisu lalu membersihkan darah yang tersisa. Setelah bersih, dengan perlahan dan teliti, Lucy menjahit luka Laura. Dan tentunya menggunakan sarung tangan medis. Tak membutuhkan waktu lama, kini Lucy sudah selesai mengobati luka perut Laura.
Kenapa dia bisa mempunyai luka yang sama seperti ku? apa dia operasi ginjal juga? batin Karina bertanya-tanya.
"Hello." panggil Lucy membuyarkan lamunan Karina.
"I-iya Lu." ucapnya terbata dengan tangan yang menggaruk kepalanya.
"Mari makan." ajak Lucy dengan mata yang melirik makanan yang ia beli tadi. Lucy dan Karina segera mengisi perutnya terlebih, sedangkan Laura di tertidur di sebabkan efek obat bius.
***
Di ruang VVIP terlihat Axel mendekati Arsenio yang tengah duduk dengan wajah bringas nya. Mata tajam itu melirik sekilas kearah Axel yang semakin mendekatinya. Axel meletakkan sebuah map coklat di depan Arsenio. "Tuan, kami sudah menemukan Nona Tuan." ujarnya dengan wajah yang terlihat sangat serius. Arsenio yang tersentak, refleks mengalihkan wajahnya menatap mata Axel. Mata tajam sedikit memerah itu memancar kan raut kemarahan sekaligus memastikan ucapan Axel.
__ADS_1
"Dimana? dimana istriku!" bentaknya dengan sangat emosi. Tubuh gagah itu kini sudah berdiri tegak seperti menantang Axel.
"Mari Tuan." Axel tak bisa berkata apa-apa selain mengajak Arsenio langsung ke lokasi dimana Laura berada.