World Lion Mafia

World Lion Mafia
Cerita Laura


__ADS_3

Masih di atas pohon, Lucy dan Laura masih sibuk dengan aktivitas makan-memakannya. Cahaya rembulan sedikit menerangi kemah plastik itu. Laura mencoba membaringkan tubuhnya dengan tangan yang memegang bekas operasi. Bibir mungil itu sesekali meringis kesakitan di perutnya. Tanpa Laura sadari, sendari tadi Lucy terus memperhati kan nya. Bahkan Lucy merasakan rasa sakit yang Laura rasakan.


Wajah datar yang di dominasi mata tajam itu terus melihat Laura. "Kenapa? apa perutmu sakit?" tanya Lucy penasaran tetapi Laura enggan memberitahu nya. Gadis itu masih merasa asing dengan Lucy, sehingga ia memilih menyimpan rahasia dan kesakitan ya rapat-rapat. "Jujurlah walau pahit di rasa!" ucap Lucy mengeluarkan pribahasa nya.


"Aku baik-baik aja kak." ucap Laura dengan wajah yang menahan sakit di perutnya.


"Benarkah?" tanya Lucy menyelidik dengan alis yang sedikit terangkat. Wajah datar itu mengangkat ujung bibirnya sedikit. Tanpa meminta izin, Lucy menyikap sedikit baju Laura dengan paksa. Lalu segera memeriksa perut ramping nan rata itu. Laura tak bisa mengimbangi tenaga Lucy yang seperti tenaga seorang Pria.

__ADS_1


Lacy terdiam menatap jahitan di perut Laura dengan pandangan yang menatap wajah dan perutnya secara bergantian. "Siapa yang mengambil ginjal mu?" tanya Lucy dengan dengan nada dingin membuat Laura terkejut.


Bagaimana dia bisa tau jika ginjal ku baru saja di ambil? batin Laura dengan pandangan terkejut menatap Lucy. Bibir itu berhenti meringis kesakitan ketika mendengar penuturan Lucy.


Lucy merasa aneh melihat Laura diam terpaku menatapnya. Dia yakin, pasti ada suatu hal yang di sembunyikan gadis di depannya ini. "Katakan!" ucap Lucy dengan nada tegas namun perhatian. Laura mencoba membangkitkan tubuhnya, namun Lucy menahannya seakan menginginkan Laura tetap membaringkan tubuhnya. "Aku tau kita baru kenal, tapi sepertinya kondisimu ini bisa di katakan berbahaya." ucap Lucy menatap serius manik mata Laura. "Jangan pernah berbohong, karena aku, bisa membaca kondisi mu saat ini." ucap Lucy yang membuat Laura tak bisa mengelak.


Ternyata aku tak sendiri. batin Lucy terus menatap Laura yang tengah menangis.

__ADS_1


"Sudah, jangan menangis lagi. Aku bersamamu." ucap Lucy sangat tulus dengan tangan yang mengelus punggung bergetar Laura. Laura mengangguk dengan senyum manis nan anggunnya. Tangan mungil itu perlahan menghapus air matanya. "Besok kita pulang ke tempat ku dulu ya." ucap Lucy kembali dengan ekspresi datarnya.


Laura mengangguk setuju lalu berkata, "Makasih kak." Lucy menganggukkan kepalanya dengan senyum devil nya.


"Panggil saja Lucy. Mungkin kau lebih tua dari aku." ucap Lucy dengan bahasa pasarannya.


"Baik Lucy, terima kasih." Laura merasa sedikit lega karena telah bercerita semua beban dan isi hatinya. Kini Lucy dan Laura tengah tertidur di tenda atas pohon yang berselimutkan rembulan dan dedaunan.

__ADS_1


"Aku tak menyangka jal*ng itu bertindak sejauh ini. Ku kira dia hanya memberi sedikit efek jera pada wanita itu. Tak ku sangka dia berani menjual istri Arsenio ke perdagangan manusia." ucap Inder menatap datar ke arah depan dengan tangan yang memegang segelas wine.


__ADS_2