
Dengan cepat Alex mengenakan pakaian kembali. Sela yang melihat pergerakan cepat Alex langsung mendudukkan tubuhnya dengan tangan yang memegang selimut di dadanya. "Sayang, kau mau kemana?" tanya Sela dengan wajah bingung bercampur kecewa.
"Pulanglah, aku ada urusan." ucap Alex langsung pergi meninggalkan kamar itu tanpa memberikan ciuman sampai jumpa.
"Sialan! Ah,,," umpat Sela dengan teriak frustasi dengan tangan yang mengacak rambut panjangnya. "Sialan kau Alex, berani nya kau meninggalkan ku di saat percintaan kita belum selesai!" Sela mengeraskan rahang nya kesal mengingat kepergian Alex.
Akhir nya mau tak mau pun Sela kembali mengenakan baju nya lalu segera mungkin pergi mencari pelampiasan untuk menuntas kan hasrat nya yang belum terpenuhi oleh Alex. "Halo, temui aku di hotel xxx sayang." ucap Sela dengan manja pada pria di ujung telepon. Setelah selesai mengatakan itu, Sela pun segera pergi ke hotel tujuan nya menemui kekasih nya yang lain.
Di markas utama, terlihat Arsenio tersenyum senang Karena telah berhasil mengambil kembali senjata miliknya. Setelah puas dengan senjata yang lengkap, Arsenio segera melangkah kan kaki nya ke ruang bawah tanah untuk melihat Axel yang sedang mengintrogasi anggota rivalnya.
__ADS_1
"Gali informasi sebanyak banyak nya, jangan biarkan mereka mati dalam keadaan tak memberi informasi sedikit pun." ucap Arsenio dengan dingin lalu membalikkan tubuhnya meninggalkan ruang bawah tanah itu.
"Baik Tuan." ucap beberapa bawahan Axel.
Setelah selesai dengan urusan nya, Akhir nya Arsenio dan Axel pulang ke kediaman nya. Waktu terus berjalan, tak terasa langit mulai menggelap, cuaca mulai mendingin. Arsenio melakukan perjalan selama 3 jam, markas yang ia buat berada di tengah hutan yang sangat banyak binatang buas. Tak ada yang tau jika di hutan itu terdapat banyak anak buah Arsenio. Bahkan tak tanggung-tanggung Arsenio memelihara beberapa binatang buas di sana, seperti harimau, macan, buaya, anaconda, ikat piranha, dan beberapa hewan buas dan beracun lainnya.
"Dimana gadis itu?" tanya Arsenio dengan suara dingin seraknya. Mata elangnya mencoba melihat sekeliling nya mencari keberadaan Laura.
"Nona Laura masih berada di kamar anda tuan." ucap kepala pelayan dengan kepala yang sedikit di anggukan.
__ADS_1
Cih, masih mencari rupanya. Gumam Arsenio tersenyum senang mengingat wajah lusuh itu kesal mencari cincin miliknya.
Arsenio yang tak sabar melihat wajah jelek gadis itupun langsung segera menghampiri nya di kamar. Di kamar Laura mengelap keringatnya sendari tadi karena lelah mencari cincin Arsenio yang tak kunjung ketemu. Gadis itu memberikan banyak umpatan dalam hati untuk Arsenio.
Arsenio terkekeh geli ketika melihat Laura ngelesot di lantai mencari cincin di kolong lemari. Laura sangat kotor, bahkan dia belum mandi sendari tadi. "Hm," dehem Arsenio mengagetkan Laura membuat kepala gadis itu terantuk kayu lemari.
Laura mengusap kepalanya yang sakit sembari memalingkan wajahnya melihat Arsenio. Arsenio memasukkan satu tangannya di saku celana dengan mata yang melihat jam, tak lupa ujung telapak sepatu nya menepuk lantai. Pria arogan itu menahan tawa nya dengan memasang wajah datar, dingin, dan ketat.
"Bagaimana, apa kau sudah menemukan cincin ku?" tanya Arsenio dengan nada yang galak.
__ADS_1