
"Benarkah sayang?" tanya Laura mencari kejujuran di mata suaminya. Arsenio menganggukkan kepalanya pelan dengan senyum yang membuat Laura semakin tenang. "Terimakasih sayang." ucap Laura sangat gembira dan refleks mencium Arsenio.
Arsenio tertegun merasakan serangan mendadak itu. Tanpa Laura sadari, ia telah membangunkan singa kebanggaan Arsenio. Tanpa komando, Arsenio mengangkat Laura lalu membawanya ke atas ranjang. Laura berteriak panik melihat gendongan mendadak Arsenio. Dia pasrah mengikuti keinginan suaminya itu.
"Kau yang memancingku sayang, jadi jangan salahkan aku membuatmu terjaga hingga pagi." ucap Arsenio yang sudah berada di atas tubuh Laura. Laura menatap suaminya dengan wajah memelas. Bukannya iba, justru Arsenio semakin bergairah melihat wajah imut di bawahnya.
__ADS_1
Arsenio terus mengelus dan menyengat tubuh Laura membangkitkan hasrat nya. Dan benar saja, gadis itu mulai menginginkan hal yang lebih. Malam itu mereka habiskan memadu kasih dengan tirai jendela yang di biarkan terbuka, sehingga bintang-bintang bisa mengintip kegiatan mereka. Mungkin karena sudah lama tak berhubungan, membuat Arsenio tak henti-hentinya menghajar Laura. Bahkan gadis itu menampilkan wajah permohonan. Bukanya berhenti, Arsenio terkekeh gemas dengan raut wajah imut itu.
"stsss." Laura tiba-tiba saja meringis menahan sakit di perut. Cahaya remang-remang membuat Arsenio tak melihat luka di perut Laura. Karena tak tahan dengan rasa sakit di perutnya, akhirnya Laura pingsan di pelukan Arsenio. Arsenio terkejut dengan istrinya yang tiba-tiba lemas dan menutup matanya. Dengan cepat Arsenio menghidupkan lampu dan menyingkirkan selimut dari tubuh Laura. Dengan cepat Arsenio mengambil baju tidur lalu segera memakaikan tubuh polos itu. Saat hendak mengancingkan beberapa kancing bagian bawah, Arsenio terkejut melihat darah di perut istrinya. Dalam keadaan diam, pria itu menyentuh darah itu lalu mengangkatnya tepat di depan wajahnya. Matanya melebar sempurna, terkejut dengan darah itu.
"Darah? istriku berdarah?" gumamnya pelan dengan fikiran yang belum loading. "Apa yang terjadi denganmu sayang." ucapnya dengan nada gemetar ketakutan melihat luka jahitan di perut istrinya. Arsenio segera memakaikan baju tidur di tubuh Laura lalu segera menggendong Laura menuju rumah sakit kecil di mansion. Pak Mun sudah memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Laura.
__ADS_1
"Sayang." panggil nya lirih melihat mata suaminya bengkak dengan sedikit memerah.
"Kau menangis?" tanya Laura cemas sekaligus terkejut dengan suaminya itu. Tak pernah-pernahnya pria gila itu nangis dan terlihat lemah begini. Laura mengulurkan tangannya menghapus air mata tulus suami nya. "Jangan menangis sayang." ucap Laura dengan lembut.
Arsenio mendapat perlakuan lembut itu langsung memeluknya istrinya dengan tangis yang semakin deras. "Maafkan aku yang tak bisa menjagamu. Hiks." Dekapan itu sangat kuat membuat Laura sedikit sesak.
__ADS_1
"Sa-yang, aku sesak." ucapnya dengan tangan yang menepuk pelan punggung Arsenio.