World Lion Mafia

World Lion Mafia
Perubahan


__ADS_3

Dia melihat ketulusan dan kesedihan di mata asisten sekaligus anak buah kesetiaannya itu. "Apa yang terjadi? Oya aku lupa. Aku kan terkena tembak ya kan." ucapnya dengan sedikit terkekeh. Tanpa Inder sadari, tiba-tiba saja Marco mendekapnya dengan erat.


"Hiks." terdengar isak kan di telinga Inder.


"Kau menangis." tanya Inder memastikan dengan tangan yang menepuk pelan punggung pria dewasa itu.


"Tuan, mari kita keluar dari dunia mafia Tuan. Aku tak ingin kehilanganmu Tuan, kau sudah ku anggap seperti keluarga ku sendiri. Jika kau tiada, kemana lagi aku akan pergi." Marco mengeluarkan semua isi hatinya. Inder membuang nafasnya dengan perlahan. Berat rasanya meninggal kan dunia gelap itu. Sudah banyak perjuangan yang dia lakukan hanya untuk mencapai posisi nya saat ini.

__ADS_1


"Aku sudah terlalu nyaman hidup terasing dan di musuhi." ucap Inder membuat Marco melepaskan pelukannya. Pria dewasa itu seperti anak kecil yang di tinggal ibunya pergi. "Hapus air matamu. Pria dewasa seperti mu tak pantas menangis seperti anak kecil." ejek Inder sembari tersenyum samar.


"Maafkan saya Tuan. Saya akan mengikuti keinginan Tuan. Jika memang Tuan tetap ingin menjadi mafia, saya siap menemani anda di segala keadaan." ucap Marco tulus membuat Inder tersenyum.


"Akan ku pertimbangan." ucapnya tersenyum tulus ke arah kaki tangannya itu.


Marco yang mendengar bahwa Inder akan mempertimbangkan semuanya, segera kembali mendekap pria itu dengan erat. "Sits, kau menekan lukaku." ucap Inder menahan sakit.

__ADS_1


***


Di rumah sakit, tiba-tiba saja Arsenio mendapat kabar gembira dari dokter Leon. Leon memberitahu jika ada seseorang yang baik hati yang mendonorkan ginjalnya untuk Laura. Sebelum dokter Leon sudah tau tentang ginjal Laura yang tinggal satu sehingga dia berusaha mencari pendonor ginjal terbaik. "Bagaimana, apakah kita lakukan operasi sekarang?" tanya dokter Leon meminta pendapat Arsenio.


"Apakan tidak apa istriku melakukan operasi lagi setelah tadi melakukan operasi?" tanya Arsenio dengan raut wajah cemas.


"Tentu bisa, kan tadi operasi pengangkatan peluru di kaki bukan di perut." ucap Leon tanpa bahasa formal sedikit pun. Dia berani bersikap seperti itu karena melihat banyak perubahan di diri Arsenio. Pria itu tidak semena-mena dan suka marah-marah seperti dulu lagi.

__ADS_1


"Baiklah, lakukan yang terbaik." ucapnya mempercayakan semuanya kepada dokter Leon. Leon tersenyum mendengar itu. Dengan penuh semangat, Leon dan team nya segera melakukan operasi Transplantasi ginjal. Para perawat sudah memindahkan Laura ke ruang operasi yang berbeda dari yang sebelumnya. Laura kembali tertidur di sebabkan banyaknya obat bius yang masuk ke dalam tubuhnya.


Arsenio dengan setianya menunggu istrinya di luar ruangan. "Tuan." panggil Axel yang baru saja datang menghampiri Arsenio yang tengah duduk. Arsenio menatap Axel di depannya. Tak tau terkena angin apa, Arsenio memeluk tubuh tegap Axel. Samar-samar Axel mendengar isak kan kecil dari mulut tuan mudanya itu. Senyum kecil nan hangat terbit di sudut bibir Axel. pria datar itu membalas pelukan tuannya.


__ADS_2