
"Prok, prok, prok." Inder memberikan tempuk tangan berharganya mengakui kehebatan Lucy. "Kau sangat luar biasa Nona." ucapnya dengan senyum menggoda. Bukan Inder namanya jika tak ingin meluluhkan hati wanita.
Sok ganteng, jelek aja pun! batin Lucy tetap pada ekspresi datarnya.
"Apa kau mau berkunjung ke mansion ku?" tanya Inder dengan senyum mautnya.
"Lupakan saja, aku tak tertarik bodoh!" ketus Lucy mengeluarkan kata-kata kasarnya.
"Ah, ayolah,,,kau pasti akan suka." ucap Inder mencoba merayu Lucy lagi.
"Percaya diri sekali kau." ejek Lucy dengan senyum yang tak kalah sinis. "Pergilah, jangan membuang waktu kami!" ketusnya lalu menggiring Laura dan Karina dengan tangan yang masih merangkul. "Tak tau malu!" omel Lucy sembari terus berjalan meninggalkan Inder dan para anak buah. Inder yang mendengar itu hanya tersenyum pahit.
__ADS_1
Hancur sudah harga diri ketua the craziest mafia itu. Dia tak akan melepaskan gadis itu, di lihat dari sorot matanya dia menginginkan gadis itu. "Aku tak akan melepaskan mu!" ujarnya pelan dengan tangan yang mengepal sehingga urat-urat tangannya terlihat.
"Apa kita tidak membawa mereka Tuan?" tanya Marco sedikit heran dengan sikap tuan mudanya itu yang tak biasanya melepaskan mangsanya. "Biarkan saja, aku ingin mengetahui rumahnya. Awasi mereka!" perintah Inder dengan tegas lalu segera masuk ke dalam mobil dan memerintahkan Marco untuk membawanya pulang. Sedang kan beberapa bawahannya yang lain mengintai dan mengikuti jejak tiga wanita itu.
"Lucy keren banget sih." puji Laura dengan senyum bangganya. Karina tersenyum mengangguk menyetujui ucapan Laura.
"Biasa aja sih." ucap Lucy tak terima pujian itu. Laura cemberut mewek di acuhkan Lucy.
"Cepat jalan, emang kalian mau orang seperti tadi datang lagi?" ucap Lucy mencoba mempropokasi dua gadis di kanan kirinya. Laura dan Karina menggelengkan dengan cepat dengan wajah cemas dan takut. Lucy tersenyum simpul melihat sikap lucu mereka.
"Silahkan masuk." ucap Lucy mempersilahkan Laura dan Karina masuk kedalam rumahnya. Laura mengendarkan pandangan segala penjuru arah. Wanita cantik itu tersenyum nyaman dengan nafas yang tenang.
__ADS_1
Nyaman sekali rumah ini,,, walaupun kecil, tetapi sangat menenangkan. batin Laura menghirup bau ruangan sebanyak-banyak nya.
"Mandilah." ujar Lucy sembari memberikan baju ganti untuk Laura dan Karina. Laura mengangguk lalu segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi rumah Lucy.
Di bawah lantai, terlihat Karina duduk menyender dengan mata kosong menatap objek di depannya. Tanpa sadar, mata merah dan sembab itu mengeluarkan cairan bening nya. Lucy yang iba segera mendekati Karina lalu memeluknya. "Ada apa kak? mari cerita." ucap Lucy sembari melepas pelukannya.
"Hiks." isakan itu terdengar pilu di pendengaran Lucy. Dengan pelan tangan kuat itu mengelus punggung Karina dengan lembut. "Tak apa, ada kami di sini." ucapnya menenangkan Karina yang mulai menghentikan isak tangisnya.
"Makasih Lucy." ucapnya tulus dengan tangan yang mengusap air matanya.
"Makasih untuk apa?" goda Lucy mencoba mengalir suasana. Karina tertawa pelan di selah kesedihannya. "Untuk semuanya lu." ucapnya tersenyum hangat dengan tangan yang mengusap bahu Lucy. Lucy mengangguk dengan senyum simpul manisnya.
__ADS_1
"Ya sudah, mandi dulu yuk, siap itu istirahat. ok." ucap Lucy di angguki Karina.
Tak kalah sedihnya dengan Karina, Laura menangis di bawah guyuran shower. Air matanya jatuh berbarengan dengan air yang mengalir. "Hiks." isak nya terdengar samar dan pilu. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Jahitan di bawah sana belum sembuh bahkan lebih para dari sebelumnya. Jahitannya sedikit terlepas sehingga mengeluarkan darah yang lumayan banyak. Laura segera menyudahi mandinya lalu segera mengenakan pakaiannya. Tak lupa ia menutup luka jahitannya dengan handuk kecil yang di berikan Lucy padanya.