
Masalah Lucy seakan hilang sekejap ketika bersama dua gadis di depan nya itu. Mereka tertawa dan bercanda ria di sana. Sesekali Lucy usil mencomot bakso Ela dan Nia. Akhirnya mereka saling berebut dan colek-colek.
"Geli bodoh Lucy!" ucapnya sembari tertawa memegang perutnya yang di colok-colok Lucy.
"Mampus kau!" ucapnya tak peduli.
"Eleh-eleh, senang sekali kelihatan nya." ucap Wak pudin ramah seperti biasanya.
__ADS_1
"Biasa Wak." ucap Nia bergantian melirik Wak Pudin dan Lucy.
"Apa-apa." tanya Lucy dengan cepat.
"Gak-gak, hehe." kekeh nya geli membuat Wak Pudin tersenyum senang melihat pelanggan kesetiaan nya itu.
Setelah bakso mereka habis, para gadis itu pergi pulang ke kediamannya. Mereka saling bercerita dan bergandengan. Ela dan Nia tak tau dengan masalah yang menimpah Lucy. Bukan hanya itu, bahkan mereka tidak tau asal usul dan seluk beluk keluarganya. Yang mereka tau Lucy adalah teman baik dan penyayang. Mereka enggan mengetahui tentang Lucy lebih dalam, karena mereka tahu bahwa Lucy tak suka hal itu. Lucy benar-benar sangat private dan penuh misteri. Yang orang-orang tahu adalah bahwa Lucy adalah gadis gila pembawa sial yang nakal dan mengerikan. Berita buruk tentang Lucy sudah menyebar di masyarakat ramai. Hal itulah yang membuat hampir seluruh masyarakat membenci dan tak menerima kehadiran nya. Tetapi bukan Lucy namanya yang tak ambil pusing dan tak pedulian dengan semuanya.
__ADS_1
***
Di sebuah ruangan bawah tanah, terlihat Sela tertidur di lantai yang dingin dan lembab. Wanita itu belum sadar dari pingsannya, padahal seseorang tengah menunggu kesadaran nya pulih. Betapa menyeramkan nya wajah pria bermata tajam itu. Karena tak mendapati wanita di depannya terbangun, Arsenio mengkode Axel agar menyiram sela dengan seember air. Axel yang paham langsung menatap salah satu anak buahnya agar segera membawa kan seember air. Tak menunggu lama, pria itu membawah seember air lalu menyiramkan nya ke tubuh Sela.
Sela terbangun dengan tubuh yang tersentak merasakan dinginnya air itu. Dia belum sadar jika dirinya sudah berada di ruang penyiksaan milik Arsenio. Mata itu mulai menerang dari pandangan samar nya. Mata itu melebar seketika ketika melihat pria sangar di depannya. Walaupun tampan, wajah itu terlihat sangat menakutkan di mata Sela. Dia tak menyangka sudah tertangkap dan berada di kediaman mafia gila itu.
"Lepaskan aku." teriaknya dengan wajah marah menatap Arsenio. Wajahnya mungkin garang seakan berani, tetapi tidak dengan matanya yang berair seakan memancarkan ketakutan yang luar biasa. "Lepaskan." teriaknya lagi yang dengan cepat berlari lalu memegang pintu besi penjara. Sebelum menggenggam besi dengan kuat, Sela sudah terpental ke belakang di sebabkan aliran listrik yang menyentuh kulitnya. "Awh, sakit sekali." ucapnya meringis pelan menahan sakit.
__ADS_1
Kau harus kuat Sela, kau tidak boleh terlihat lemah di hadapan para bajing*n ini. batinnya penuh telak dan semangat. Matanya menyalang menatap semua orang di depannya.
Arsenio terkekeh melihat Sela yang kesetrum. Sepertinya ketua World Lion Mafia ini ingin sedikit bermain-main terlebih dahulu sebelum menghabisinya. Arsenio juga sudah tau jika Sela mengalami penyakit HIV.