World Lion Mafia

World Lion Mafia
Pelaminan


__ADS_3

Pintu mewah itu mulai terbuka, semua orang repleks memalingkan wajahnya ke arah pintu kecuali Arsenio. Arsenio yang merasa ada sesuatu di belakangnya, perlahan memalingkan wajahnya ke arah pintu masuk. Mafia kejam dan garang itu bangkit dari duduknya dengan ekspresi yang terpana melihat kecantikan Laura. Semua orang sangat kagum dengan wanita bergaun putih itu. Laura benar-benar sangat cantik malam ini melebihi kecantikan seorang princess.


Dengan perlahan, Laura berjalan ke arah suaminya. Para maid yang di belakang Laura segera mengambil tempat, sedangkan Nila dan Lita tetap mengiringi langkah anggun Laura. Arsenio tersenyum samar dengan mata yang tak lepas menatap Laura. Tak ada yang menyadari senyum samar itu. Diam-diam Arsenio menyembunyikan keharuannya dengan tampang datar nan cuek nya. Wajah yang kurang ajar tampannya itu tetap menampilkan ekspresi dingin nan menyebalkan.


"Sudah kubilang, pasti Nona akan terlihat seperti Barbie jika sudah di make-up."


"Cantik sekali..."


"Kau ini mengesalkan sekali mengabaikan ku!"


"Diam lah kalian, nanti kita bisa di usir dari sini."

__ADS_1


Para maid berbisik dengan pandangan kagum menatap Laura. Tak lama berjalan, kini Laura sudah berada di hadapan Arsenio. Arsenio mengulurkan tangannya seakan menyuruh Laura untuk memegang tangannya. Laura bergidik ngeri melihat tatapan dingin itu. Sesuai tradisi pernikahan, Laura mencium tangan suaminya. Arsenio tak mau ketinggalan, ia segera mencium kening Laura dengan penuh rasa sayang. Laura terlihat sangat kaku. Hal itu membuat Arsenio mengeraskan rahangnya menatap Laura. "Angkat kepalamu dan tersenyumlah!" bisik Arsenio dengan nada yang penuh ancaman.


Laura tak menjawab, baik secara ucapan ataupun anggukan. Arsenio mencium cerry mungil Laura di depan para tamu. Laura membulatkan matanya terkejut bercampur malu. Semua orang yang menyaksikan keromantisan itu memberikan tepuk tangan yang sangat meriah di sertai senyuman bahagia. Arsenio yang merasa dadanya di tekan Laura segera melepaskan ciumannya.


Sebelum kembali ke posisinya, Arsenio mendekatkan bibirnya ke telinga Laura lalu berkata, "Menurut lah, Atau,,,aku akan menciumu lagi!" ancam Arsenio dengan bisikan yang mampu membuat bulu kuduk Laura berdiri. Laura hanya bisa mengangguk pasrah setelah mendengar ancaman itu.


Setelah selesai dengan tradisi pernikahan, kini Laura dan Arsenio sudah berada di atas pelaminan. Laura dan Arsenio sibuk menyalami tamu yang mengucapkan selamat. Laura terus tersenyum terpaksa tapi tak rela. Gadis itu benar-benar sangat tertekan berada di dekat Arsenio.


Arsenio menarik ujung bibirnya sedikit, sepertinya dia senang melihat Laura mencuri pandang ke arahnya. "Kau sangat imut,,,aku,,,jadi ingin memakan mu!" goda Arsenio membuat pipi Laura memerah menahan malu.


"Aku benci padamu Tuan!" ucap Laura pelan tapi penuh penekanan. "Siapa yang peduli kau membenciku atau tidak? aku tak perduli itu!" ucap Arsenio yang tanpa sadar membuat dada Laura sesak mendengarnya.

__ADS_1


Untuk apa kau menikahimu tuan jika tidak peduli dengan perasaan ku. batin Laura seperti tersayat sembilu dengan mata yang tersirat kekecewaan memandang Arsenio.


"Nona." panggil Nila membuyarkan lamunan Laura.


"I_iya Nila." ucapnya gugup dengan mata basah yang terlihat bingung.


"Selamat atas pernikahan anda Nona." ucap Nila mengucapkan selamat dengan tangan yang menjabat tangan Laura.


"Terima kasih Nila." ucap Laura dengan nada sendu.


Dari sekian banyaknya tamu, hanya Laura lah yang sibuk bersalaman. Arsenio hanya berdehem tanpa membalas uluran tangan semua orang. Semua tamu yang menghadiri acara pernikahan Laura tak lain hanyalah bawahan Arsenio. Tak ada satupun orang luar yang di undang di acara yang mewah nan meriah itu.

__ADS_1


__ADS_2