
Gak bisa ku bayangkan jika diriku ini masuk berita. Aku gini aja sudah banyak yang benci dan di fitnah, apalagi kalau sampai masuk berita. Pasti aku akan di usir lagi untuk sekian kalinya. kesal Lucy sembari menatap tajam ke arah rumahnya itu. Para polisi sudah mengamankan lokasi rumah Lucy. Bahkan tanpa perasaan, mereka mengunci dan mengelilingi rumah itu dengan police line.
Dengan berat hati, akhirnya Lucy memiliki pergi meninggalkan rumah mungil nya itu.
"Gara-gara mereka rumahku di amankan polisi, awas saja kalian!" gerutunya kesal dengan wajah cemberut. Lucy terus melangkahkan kakinya kedalam perkebunan. Bahkan motor kesayangan nya pun tak bisa ia bawa. Benar-benar hari yang buruk.
***
Di kediaman Arsenio, tepatnya di rumah sakit kecil yang berada di dalam mansion nya. Arsenio memejamkan matanya dengan tubuh menyender ke dinding ranjang. Tangan kekar nan berotot itu memangku kepala nya. Sepertinya pria itu sedang rileks menikmati sakit perutnya yang telah di balut perban.
__ADS_1
"Cklek," terlihat Laura masuk kedalam sana dengan keadaan tubuh yang sudah bersih dan wangi.
Arsenio membuka matanya lalu melihat kearah pintu. Wajah datar nan arogan itu mengembangkan senyumannya ketika melihat istrinya masuk. "Sayang,,,hiks." panggil Laura lirih dengan tubuh yang sudah memeluk lengan Arsenio. Laura sangat cemas dan takut dengan keadaan suaminya.
Arsenio menghapus air mata istrinya sembari berkata. "Aku baik-baik saja sayang. Tolong jangan menangis lagi, hatiku sakit melihat air matamu mengalir." ucapnya menatap mata Laura. Sorot mata itu terlihat sangat tulus dan jujur. Laura hanya mengangguk kan wajah meweknya tanpa mengucap sepatah kata pun.
Wajah sedih itu kini berubah cemberut mendengar penuturan itu. "Jadi sayang hanya rindu dengan masakan ku ya." ucapnya gambek dengan nada ketus. Arsenio tersenyum gemas melihat wajah imut itu. Tanpa meminta persetujuan, Arsenio menyengat buah cery Laura. Karena sudah lama tak bertemu, Arsenio menyengat dan menghisap cery merah itu dengan kuat. Tangan kekar itu memegang dan menekan tengkuk Laura.
Karena sudah hampir kehabisan nafas, Laura mendorong dada bidang Arsenio berulang kali. Arsenio yang merasakan nafas Laura mulai habis, segera melepaskan sengatannya sembari terkekeh geli melihat wajah memerah Laura. "Jangan ngambek, nanti aku makan!" candanya penuh senyum melihat wajah ngambek Laura. Wajah itu terlihat sangat imut dan menggemaskan di mata Arsenio. Arsenio menarik Laura lagi kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu istriku." ucap Arsenio untuk pertama kalinya. Jantung Laura berdegup kencang mendengar bisikan romantis itu. Wajah lembut itu terangkat menatap Arsenio, mencari kejujuran di sana.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? apa kau tak percaya?" ucap Arsenio sedikit kesal dengan raut wajah Laura yang terdiam.
"Hmm." kini Arsenio lah yang mengambek.
"Aku percaya padamu sayang, i love you." ucap Laura yang membuat Arsenio refleks menatap kembali mata Laura.
Bibir sexy itu tersenyum senang mendengar kata cinta dari istri kecilnya. "Ayo ulangi lagi." desak Arsenio dengan tangan yang menggenggam tangan Laura.
__ADS_1