
Di kamar, Laura sudah terbangun dari tidurnya. Dia belum menyentuh sedikitpun makanan yang sudah di bawakan untuknya. Laura mengendarkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Dia ingin memastikan jika dia sedang sendiri di kamar itu.
Baguslah jika tidak ada satupun orang di sekitar sini.
Laura pun segera mengeluarkan hp jadulnya untuk menelpon Meme sahabatnya. Dia baru teringat jika hp kecilnya berada di dalam kantong roknya. "Dtrr...dtr.." terdengar suara sambungan telepon.
Suara telepon itu sudah di stel oleh Laura agar tidak mengeluarkan suara. Panggilan Pun terhubung, Laura segera mungkin berbicara dengan orang yang berada di ujung telepon itu.
"Ha_hallo." ucap Laura pelan dan terbata.
"La..laura..kau di mana hiks." ucap Meme dengan Isak tangis. Dia terlihat sangat khawatir dengan keadaan Laura.
"Tolong aku Me, aku di culik dan di sekap di sini. Hiks.." ucap Laura dengan suara kecil.
"Kau di mana Laura? cepat beri tau aku." ucap Meme to the point kepada Laura sahabatnya.
__ADS_1
"Aku nggak tau aku di mana. Tau tau aku sudah berada di tempat ini...tapi sepertinya rumah ini bukan rumah biasa. Rumah ini sangat mewah...Orang-orang berada di sini sangat jahat Me. Tolong aku..." ucap Laura memohon sembari menahan tangisannya.
"Coba kasih tau ciri-ciri tempat itu. Lihat jendela coba." ucap Meme terburu buru.
"Ben..." ucap Laura terpotong ketika handphone nya di rebut paksa seseorang.
"Deg" Laura terkejut ketika membalikkan tubuhnya. "Meme tolong aku me...." teriak Laura meminta tolong kepada Meme. Mungkin teleponnya masih terhubung.
"Kau kenapa Laura... Laura.." teriak Meme panik yang dimana di dengar oleh pria itu.
"Tuan tolong lepaskan aku tuan, tolong kembalikan handphone ku." ucap Laura memohon dengan wajah yang sudah di penuhi air mata.
Arsenio yang sudah sangat marah pun membanting hp jadul itu ke lantai hingga terpental ntah kemana. Untunglah handphone jadul itu tidak pecah dan hancur. Walau pun jadul, tapi kuat juga hpnya. Memang handphone zaman dahulu tak ada dua nya dalam soal pertahanan.
"Kau mau kabur dariku, huh!" bentak Arsenio dengan dingin sembari memegang dagu Laura lalu menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
"Tolong lepaskan aku tuan..." mohon Laura dengan mata berkaca kaca.
"Melepas mu? jangan mimpi!" ucap Arsenio dengan dingin sembari menghempaskan dagu Laura begitu saja.
Setelah melepaskan dagu Laura, mata Arsenio tertuju pada makanan yang belum tersentuh sedikitpun. "Brak!" Arsenio menghancurkan semua makanan yang di berikan untuk Laura. Dia sangat kesal dengan gadis tawanan nya itu. "Jangan beri gadis ini makanan hingga besok. Biarkan dia mati kelaparan di dalam sini!" teriak Arsenio dengan tegas.
"Baik tuan." ucap kepala pelayan yang memang sendari tadi mengikuti tuan mudanya.
Setelah mengucapkan hal itu, Arsenio pergi dan keluar dari ruangan itu lalu berjalan menuju ke lantai atas. Tak lama dari kepergian Arsenio, Laura pun mulai menangis kembali seperti di awal, cuma kali ini tangisannya tidak mengeluarkan suara dengan keras.
"Hiks...hiks..hiks.." tangisannya lirih.
Tolong selamatkan aku ya Allah.
Di tempat lain terlihat Meme menangis sejadi-jadinya setelah mendengar suara ketakutan sahabatnya. "Hiks, hiks, Laura.." tangisnya pecah.
__ADS_1