World Lion Mafia

World Lion Mafia
Kemarahan Sela


__ADS_3

Sela berteriak dan menangis begitu kencangnya hingga suara itu terdengar hingga keluar. "Hiks, aku nggak mau, aku nggak mau..." teriaknya dengan wajah yang sudah di banjiri air mata.


Mata Sela memerah dan bengkak di sebabkan banyak menangis. Wanita itu segera bergegas pergi dari rumah sakit itu dan menemui kekasihnya. Di apartemen kekasih bulenya, Sela membuka pintu dengan kasar sembari mencari keberadaan prianya. "Admen!" teriaknya memanggil kekasih nya.


Karena tak mendapat sahutan, Sela melangkahkan kakinya memasuki kamar Admen. Dia melihat pria itu sedang berbaring lemah di atas ranjang. Dengan cepat Sela berjalan mendekat ke arah ranjang, dengan kasar Sela menarik selimut tebal itu. Admin terkejut dan bangun dari tidurnya. Wajah bantal masih melekat di sana. Tangan kekar itu mengucek kelopak matanya perlahan. "Ada apa?" tanya Admen dengan nada datar.


"Kenapa? kau masih bertanya kenapa?" ucapnya dengan sangat marah. "Gara-gara kau aku terkena penyakit HIV! kenapa kau tak bilang jika kau sudah terkena penyakit mematikan itu!" teriaknya di sertai bentakan. Nafasnya naik turun menatap wajah yang tak terlihat berdosa itu.


"Aku mencintaimu, makanya aku ingin berbagi penyakit ku padamu." ucapnya sembari tersenyum manis. "Lagian kita sama-sama mau kan, aku tak ingin berjuang sendiri sehingga mengajakmu untuk berjuang bersamaku melawan penyakit AIDS." ucapnya tanpa merasa bersalah.

__ADS_1


"Brengsek kau Admen! dasar bajing*n!" teriak Sela sembari melepas semua bantal ke arah Admen. Admen tertawa senang melihat kemarahan Sela.


"Bukan brengsek, tetapi sama-sama mau!" ucapnya dengan senyum mengejek. "Kau masih HIV kan? bersabar lah sayang, sebentar lagi itu akan berubah menjadi AIDS. Hhhh." tawanya penuh kemenangan menatap kehancuran Sela.


"Aku akan membunuhmu bedeb*h!" umpat Sela dengan tangan yang hendak memukul Admen. Dengan cepat Admen mengelak dan segera mengunci tubuh Sela. Dengan cepat Admen membekap sela dengan obat bius. Dia sudah tau hal ini akan terjadi sehingga pria itu sudah menyiapkan segalanya termasuk obat bius. Tak menunggu lama, Sela pingsan di pangkuan Admen.


"Bagaimana." terdengar suara berat di ujung sana.


"Saya sudah mengamankan nya Tuan." ucap Admen pada pria di ujung telepon.

__ADS_1


"Kerja bagus." pria di ujung telepon tersenyum devil di ujung sana. "Jaga jal*ng itu, jangan biarkan dia pergi. Anak buah ku akan segera menjemput nya di sana." perintah pria bersuara berat itu.


"Baik Tuan." ucap Admen lalu memutuskan sambungan telepon nya dan segera menyimpannya.


Admen kembali melihat ke arah ranjang lalu mendekati nya. Melihat wajah cantik Sela membuatnya kembali bergairah. Tak peduli dengan penyanyi menular itu, Admen segera mencicipi tubuh Sela untuk yang terakhir kalinya. "Maafkan aku sayang. Mungkin ini pertemuan terakhir kita. Karena tak lama lagi aku akan mati. Begitu pun dengan mu." ucap Admen sembari menari di atas tubuh Sela.


Beberapa jam berlalu, kini Admen telah selesai dengan urusannya. Pria itu segera membenahi pakaian Sela tanpa berniat memandikannya. Beberapa jam berlalu, beberapa orang misterius segera membawa Sela ke markas bosnya.


Di mansion mewah, terlihat tubuh lemah Karina terbaring lemas di atas ranjang. Wanita itu belum sadar dari pingsan nya.

__ADS_1


__ADS_2