
"Iya Nila, terima kasih ya." ucap Laura dengan tersenyum manis.
"Sama sama nona, saya keluar dulu ya." pamit Nila pada Laura. Laura yang mendengar ucapan Nila pun langsung segera mencegah gadis itu.
"Jangan pergi Nila, kemari lah." ucap Laura kepada Nila. Tak lupa dia menyuruh Nila untuk duduk di sebelahnya. Dengan terpaksa dan rasa takut, Nila pun memberanikan diri mendudukkan pinggulnya di sopa sebelah kiri Laura. "Ayo ikut makan, ini tidak akan habis jika aku makan sendiri." ucap Laura pada Nila.
"Tapi Nona...?" ucapnya terputus.
"Sudah tak usah sungkan. Lagian aku ingin mengobrol dengan mu seperti biasa nya." ucap Laura dengan senyum simpulnya.
"Hmm...baiklah nona." ucap Nila dengan senyum tulusnya.
Akhirnya mereka makan berdua dan saling bercerita hingga tiba saatnya Laura menanyakan apa yang ingin iya tanyakan.
__ADS_1
"Nila, kita kan berada ditengah hutan. Terus gimana cara makanan ini bisa ada sini?" ucap Laura berpura-pura bingung sembari meminum jus dingin miliknya.
"Biasanya ada pelayan yang di khususkan untuk berbelanja makanan nona." ucap Nila dengan tidak menaruh curiga kepada Laura.
"Tapi kalau aku perhatikan tidak ada pelayan yang pergi belanja?" ucapnya berpura-pura bingung lagi.
"Tentu saja Nona tidak melihat, para pelayan itu biasanya pergi keluar dari mansion ini di malam hari tepat pukul 3 shubuh Nona." ucap Nila menjelaskan lagi.
"Ooo..." ucap Laura mengangguk mengerti dengan ucapan Nila.
"Di sini tidak ada angkutan umum Nona, para pelayan selalu pergi menggunakan mobil yang sudah di sediakan untuk mereka." jelas Nila sembari mengambil segelas air di depannya.
"Mobil apa? bukannya mobil di rumah ini cuma satu? itupun warna hitam ya kalau tidak salah?!" ucap Laura dengan pura-pura bodoh lagi, sembari menyebutkan mobil yang pernah membawahnya pergi ke mansion yang di tempatinya saat ini.
__ADS_1
"Mobil di mansion ini banyak Nona, mungkin...makanya Nona bilang mobil di mansion sini hanya satu, karena nona hanya melihat mobil yang itu-tu saja. Sebenarnya mobil di sini itu sama semua. Makanya nona bilang cuma satu. Tapi dari sekian banyaknya mobil hanya cuma satu mobil yang berwarna putih. Dan itupun hanya pelayan yang bertugas membeli bahan-bahan makanan untuk kebutuhan mansion ini." ucap Nila menjelaskan lagi kepada Laura. Tak ada sedikitpun rasa curiga di hatinya.
"Kapan para pelayan itu pegi berbelanja?bukannya makanan di sini tidak habis-habis?tanya Laura dengan bingung.
"Setiap dua hari sekali Nona, dan kebetulan besok malam mereka akan berbelanja." ucap Nila sembari tersenyum tulus menatap Laura.
"Ooo...Baiklah Nila, aku sudah paham. Pantas saja makanan di sini tidak ada habisnya. Hehehe." ucap Laura dengan tertawa di paksakan.
"Benar Nona." ucap Nila dengan senyum simpul.
Akhirnya drama makan pun kelar, Laura sudah berhasil mengintrogasi Nila dengan cara bolu, lembut dan manis. Nila sudah keluar dari kamar Laura. Kini gadis itu berada sendiri di dalam kamarnya. Bahkan dia sudah mengunci pintu kamar itu. Laura membuka jendela kamarnya, lalu melihat ke arah bawah.
"Deg." Laura sedikit oleng ketika melihat ke bawah sana.
__ADS_1
Benar benar sangat tinggi. Gumamnya dengan tangan yang menyentuh kepalanya yang sedikit pusing.