World Lion Mafia

World Lion Mafia
Pasrah


__ADS_3

Setelah merasa nafas Laura teratur, Arsenio kembali menyengat buah Cherry itu dengan sangat beringas dan posesif. mungkin hal itu terlihat romantis di mata orang lain tetapi tidak di mata Laura. Dia merasa sedang di timpa dan di amuk oleh kingkong di zaman purba.


Arsenio benar-benar sudah di butai hawa nafsu. Tanpa menunggu komando, tangan kekar itu segera membuka Bathrobe yang di kenakan Laura. Bathrobe yang di kenakan Laura hanya mengenakan satu tali untuk mengikatnya sehingga hal itu memudahkan Arsenio melihat Mutiara berharap Laura.


Mata tajam itu menatap semua aset yang seakan sudah menjadi miliknya. Matanya sudah berkabut asmara. Nafsu nya sudah di ambang batas. Tak ingin membuang-buang waktu, Arsenio segera menyerang Laura. Dan terjadilah malam indah penuh cinta di malam yang dingin itu. Laura menangis sepanjang permainan Arsenio. Dia merasa hancur dan tak punya harapan untuk pergi dari Arsenio.


Bagaimana jika aku hamil? batin Laura sebelum tenggelam dalam mimpi indahnya.

__ADS_1


Laura sangat kelelahan sehingga matanya langsung tertutup ketika Arsenio selesai dengan perkerjaannya. Arsenio tersenyum memandang wajah cantik yang penuh peluh itu. Arsenio mencium kening Laura dengan penuh kasih sayang lalu membaringkan tubuhnya dan ikut tenggelam dengan tubuh yang memeluk Laura. Kedua pengantin baru itupun tertidur lelap di malam yang damai itu.


Waktu terus berlalu, tak terasa waktu menunjukkan pukul 09:00 pagi. Laura masih setia memejamkan matanya. Cahaya matahari masuk dan menyentuh wajah cantik itu. Laura merespon gangguan cahaya itu dan mulai menggerakkan bagian tubuhnya dengan pelan. "Hmm.." gumam Laura pelan sembari mengucap matanya yang masih tertutup. Tanpa Laura sadari, sendari tadi Arsenio memperhatikan pergerakan Laura dengan tubuh yang sudah bersih dan wangi. Pria tampan itu sudah mengenakan pakaian santainya.


Setelah mengusap mata dan merenggangkan tubuhnya, akhirnya Laura mendudukkan tubuhnya dengan punggung yang menyender di kepala ranjang. "Kau terlihat sangat lelah." ucap Arsenio membuat Laura menghentikan acara menguapnya lalu refleks menatap ke asal suara. Pipi chubby itu terlihat memerah menahan malu. Bagaimana Laura tidak lelah jika kemarin malam Arsenio berkerja berjam-jam hingga membuat Laura kehabisan tenaga. "Mandilah, dan bersihkan tubuhmu. Aku akan menyiapkan sarapan pagi untukmu." ucap Arsenio lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.


Laura tak mau memikirkan sesuatu yang di luar nalarnya. Gadis itu segera bergegas menuju kamar mandi dengan kaki yang sedikit mengangk*ng sebab menahan sakit di bagian intinya.

__ADS_1


Di lantai bawah tepatnya di dapur, terlihat para pelayan dan koki panik sekaligus heran dengan perilaku Arsenio yang sebelumnya tidak pernah menginjakkan kakinya di dapur.


"Kenapa Tuan berada di tempat kotor ini? apa Tuan membutuhkan sesuatu? biar saya dan para pelayan saja yang menyiapkan nya Tuan." ucap Pak Mun dengan wajah yang sedikit khawatir. Dia takut Tuan Muda nya itu terpapar penyakit karena berada di dapur dengan jangka waktu yang cukup lama.


Arsenio memandang kepada pelayan dengan wajah datar dan mata malas nya. "Apa aku tak boleh berada di dapur ku sendiri?" tanya Arsenio dengan suara yang terdengar kesal.


"Tentu saja boleh Tuan, tetapi izinkan kami untuk membantu Anda." bujuk Pak Mun yang tak enak hati dengan Arsenio.

__ADS_1


__ADS_2