
Wajah Axel memancarkan aura dingin. Setelah melirik Meme sekilas, Axel mulai mengambil makanannya. Kaki tangan kesetiaan itu memakan makanannya dengan sangat beribawa dan berkelas, bedah hal nya dengan Meme yang seperti tak punya etika. "Enak me? ini ambil lagi." ucap Laura sembari memberikan kepala lobster ukuran jumbo. Meme tersenyum bahagia dengan perhatian Laura. Meme tersenyum dengan bibir yang berlepotan melihat lobster di depannya.
Rakus dan jorok. batin Axel memperhatikan Meme dengan wajah dinginnya.
Beberapa menit berlalu, kini Axel dan Meme sudah selesai dengan urusannya. Kini mereka semua berangkat menuju pasar malam. Di dalam mobil Meme duduk di samping Axel, sedangkan Arsenio bergelayut manja pada Laura di kursi penumpang. Meme menatap Axel dengan wajah yang terlihat canggung. Bagaimana bisa dia melihat kemesraan di kursi belakang.
Pura-pura tak lihat sajalah! sudah takdirku jadi jomblo. batin Meme mengalihkan pandangan nya ke luar jendela.
***
Jam terus berputar, senja terlihat indah di atas sana. Haripun mulai gelap, kini jam sudah menunjukkan pukul 20:00 malam.
__ADS_1
Mobil yang di kendarai Axel memasuki kawasan pasar malam. Laura dan Meme refleks berteriak histeris. Teriakan mereka membuat dua pemuda di dalam sana sakit telinga. Laura kembali ke ekspresi awalnya ketika Arsenio menatapnya datar. Meme pun ikut membungkam kan mulutnya.
Axel segera memarkirkan mobilnya di parkiran pasar malam, Arsenio dan Laura di luar turun, sedangkan Laura masih sibuk merapikan penampilannya. "Cantik aku ya." ucap Meme memuji dirinya sendiri di depan kaca. Wajah itu tersenyum dengan pujiannya sendari. Axel menatap datar Meme yang sok kecantikan. "Kenapa matamu itu? mau di colok? seperti tidak pernah melihat cewek cantik aja." ucap Meme dengan sangat percaya diri.
"Mungkin jika kau mempunyai Indra ke enam, kau akan melihat kaca itu retak di sebabkan tampang jelek mu!" ucap Axel dengan nada datar yang sangat mengesalkan.
"Itu kalau melihat hantu bodoh!" nyinyir Meme langsung di depan wajah Axel.
"Tuh nyadar." ucap Axel yang langsung turun dari mobil.
Kaca pintu mobil terbuka secara otomatis, Axel menatap Meme yang menatapnya dengan kesal. "Turunlah jika tak ingin terkunci di dalam sana." ucap Axel lalu kembali menutup kaca mobilnya.
__ADS_1
"A_" belum cepat mulut itu bergerak, kaca pintu mobil sudah tertutup rapat. "Menyebalkan!" umpat Meme sembari segera/ turun dari dalam sana.
Meme berjalan di belakang Axel dengan wajah yang cemberut. Laura tersenyum riang melihat berbagai permainan dan jualan. "Sayang, ayo kita naik itu." ucap Laura sembari mengangkat tangannya menunjuk Bianglala.
Arsenio mengalihkan pandangannya ke arah permainan yang di tunjuk Laura. Mata itu beralih lagi menatap Laura. "Apa kau tak takut?" tanya Arsenio dengan tampang datarnya. Dengan cepat Laura menggeleng kan kepalanya. "Yakin?" tanya Arsenio dengan satu alis yang sedikit terangkat.
"Iya sayang,,," ucap Laura dengan nada rayuan.
"Nanti kalau jatuh?" tanya Arsenio mencoba menakut- nakuti Laura.
"Kan ada kamu sayang." ucap Laura mencoba berbicara semanis mungkin.
__ADS_1
Arsenio tersenyum dengan jawaban itu. Dengan mood yang bagus, Arsenio segera membawa Laura untuk menaiki Bianglala. Mereka sangat beruntung karena mendapat antrian pertama.
"Hey wajah datar." panggil Meme dengan nada tak bersahabat. Axel hanya mengalihkan pandangannya sesaat ke arah Meme. "Ayo kita naik itu juga." ajak Meme dengan nada yang jauh dari kata lembut. Axel tetap fokus memperhatikan pengantin baru itu dari bawah sana. Laura dan Arsenio sangat romantis di atas sana. Meme cemberut melihat menolak Axel.