World Lion Mafia

World Lion Mafia
Buaya


__ADS_3

Kenapa dia menatap kayu itu? apakah ketertarikannya berpindah ke kayu itu. batin Laura dengan tatapan kosong menatap Arsenio.


Arsenio terus fokus memperhatikan kayu yang berada di depannya. Dengan sigap, Arsenio menarik Laura dan menjauh dari air. Laura hampir terjatuh ketika Arsenio menariknya tiba-tiba. "Ada apa sayang?" tanya Laura bingung dengan sikap suaminya ini.


"Kau lihat kayu itu?" tanya Arsenio membuat Laura segera mengalihkan pandangannya kearah kayu yang mengambang.


"Iya sayang, aku melihatnya." ucap Laura yang sesekali bergantian melihat kayu dan suaminya.


"Itu bukan kayu, tapi buaya." ucap Arsenio membuat Laura terkejut dan takut.


"Huh! buaya?" tanyanya tak percaya. Laura sedikit membuka mulutnya syok mendengar penuturan suaminya.


"Hm." dehem santai Arsenio. Mafia kejam itu terlihat biasa saja dengan hal itu.

__ADS_1


"Bagaimana bisa buaya berada di pantai? ku kira buaya itu hanya ada di sungai." ucap Laura dengan sangat polos. Arsenio terkekeh geli mendengar ucapan polos dan terdengar bodoh itu.


"Jangan tunjukkan kebodohan mu ini pada orang lain. Kau hanya boleh menunjukkan nya di hadapanku." ucap Arsenio dengan tubuh yang sedikit membungkuk sembari mengetuk kening Laura dengan jari telunjuknya.


"Aduh." desah Laura mengelus keningnya yang sakit, padahal Arsenio pelan mengetuk keningnya.


"Kenapa tempat ini tidak di tutup saja ya, kan bahaya jika para pengunjung dimakan buaya." ucap Laura dengan mimik prihatin membayangkan seseorang di terkam buaya.


"Tenang, tempat ini akan di tutup dengan segera." Laura mengangguk mengerti. Dia sudah tau jika suami gilanya itu bisa melakukan apa saja yang dia inginkan.


"Tidak." ucap Laura yang sudah tak ingin berada di pantai.


"Kenapa?" tanya Arsenio penasaran.

__ADS_1


"Karena di sini ada buaya." ucap Laura sedikit takut. Tangan mungil itu memeluk lengan kokoh nan berotot Arsenio. Arsenio terkekeh mendengar itu. Dan dia juga senang ketika Laura ketakutan, sebab, gadis itu akan terus memeluknya.


"Buayanya kan di sana, bukan disini." ucap Arsenio dengan senyum devil.


Laura menggeleng takut. Dan itu sangat menggemaskan untuk Arsenio. Seperti biasa, Arsenio menyengat buah Cherry Laura tanpa permisi. Arsenio mengecup buah Cherry itu dengan waktu yang lumayan lama. "Hm." Laura menepuk dada Arsenio berulangkali. Dia benar-benar kehabisan nafas. Arsenio yang merasa Laura kehabisan nafas, segera melepas sengatannya. Jemari besar itu mengusap buah Cherry yang memerah sebab ulahnya. Sengatan Arsenio benar-benar berbisa.


Karena Laura sudah tak ingin berada di tempat itu lagi, Arsenio segera membawa Laura ke tempat lain. Axel bingung Lantaran mereka belum lama di situ. Sesuai keinginan Laura, akhirnya Arsenio menyuruh Axel untuk membawa mereka kepasar malam. Sebenar nya Arsenio tak terlalu suka dengan tempat yang ramai, tetapi karena keinginan pujaan hatinya, ia rela berada di keramaian.


"Tuan." panggil Axel sembari mengemudikan mobilnya.


"Hm." dehem Arsenio sembari memainkan kukuh pendek Laura.


"Apa tak sebaiknya kita mencari makanan dulu, agar Tuan dan Nona tidak kelaparan saat bermain nanti." saran Axel yang membuat Laura mengangguk cepat melihat Arsenio.

__ADS_1


"Hm, baiklah." Arsenio setuju dengan usulan Axel. Setelah mendengar persetujuan Arsenio, Axel segera melajukan mobilnya mencari lestoran. Tak lama mencari, kini Axel menemukan lestoran yang pas untuk mereka. Laura menatap kagum dengan keindahan lestoran itu.


Sepertinya makanan di tempat ini mahal. batin Laura dengan mata yang masih sibuk melihat-lihat.


__ADS_2