World Lion Mafia

World Lion Mafia
Kenyataan Pahit


__ADS_3

"Suamimu itu mafia! suatu saat dia akan membunuhmu." ucap Alex mempropokasi Laura. Laura terdiam menatap suaminya yang menatap nya juga.


"Paksa dia Alex." teriak Lucy terus menangkis serangan keduanya.


Arsenio tak terima istri nya di bawah. Dengan cepat Arsenio meninggalkan Lucy dengan Axel. "Bereskan dia." ucapnya pada Axel "Lepaskan istriku bedeb*h." ucap Arsenio terus mengejar Alex dan Laura yang tengah melarikan diri. "Dor." satu tembakan melesat mengenai betis Laura. Laura yang berlari seketika terjatuh dengan kuat.


"Laura." ucap Alex yang mencoba meraih tubuh Laura agar di gendong. Semuanya begitu cepat, Alex tak sempat membawa Laura. Karena sangat mepet, Alex pun terpaksa meninggalkan wanita pujaan hatinya itu. Rencananya gagal untuk melepaskan Laura dari jeratan Arsenio.

__ADS_1


"Jangan mendekat." teriak Laura ketakutan melihat suaminya semakin mendekat. Arsenio tersenyum devil melihat ekspresi ketakutan istrinya. "Aku tak akan pernah melepasmu!" ucapnya ketus bercampur amarah karena Laura lebih percaya kepada Alex daripada dirinya. Arsenio segera menggendong Laura dan membawanya ke rumah sakit kecilnya. Laura terus memberontak dan mencoba melepas diri dari gendongan suaminya. "Lepaskan aku." ucapnya sembari terus memukul-mukul dada bidang Arsenio. Air matanya terus mengalir tanpa henti.


Di ruang bawah tanah Axel kalah telak dengan kelincahan dan kekuatan Lucy. Lucy tersenyum melihat pria datar di depannya terjatuh, mata tajam itu melirik ke arah para anak buah Arsenio yang baru saja datang. Dengan cepat Lucy menghajar mereka mencoba mencari celah untuk keluar.


Jangan sebut aku Lucy kalau tak bisa keluar dari ruangan sialan ini! batin Lucy tersenyum devil ketika membuat para anak buah Arsenio tersungkur. Lucy berlari sangat cepat dengan beberapa orang yang mengejarnya. Semakin cepatnya berlari, membuat anak buah Arsenio tertinggal jauh di belakang. Hal itu memberikan kesempatan kepada Lucy untuk bersembunyi.


"Sial, kita kehilangan jejaknya!" umpat salah satu di antara mereka. Karena tak berhasil menangkap Lucy, akhirnya para pria itu memilih kembali ke mansion. Lucy tersenyum di balik semak-semak.

__ADS_1


"Eh." Lucy kaget ketika kepala ular sudah berada di depannya. Dengan kesal Lucy memukul kepala ular itu hingga jatuh. "Ular sial*n!" umpatnya lalu segera pergi menuju kediaman Alex.


***


Di mansion Arsenio, terlihat Laura menangis tersedu-sedu mendapatkan kenyataan pahit jika suaminya adalah seorang mafia. "Tolong, lepaskan lah aku." ucapnya di sertai Isak tangis. Arsenio tak memperdulikan ucapan Laura dan terus memperban luka tembak di kakinya. Itu ia lakukan agar darah tak banyak keluar. Setelah selesai, Arsenio segera pergi membawa Laura ke rumah sakit untuk pengangkatan peluru.


Sesampainya di rumah sakit, Arsenio berteriak memarahi semua dokter dan perawat. Para dokter segera menangani Laura dengan cepat. Mereka tak mau mendapatkan sangsi dari Arsenio. Laura segera di masuk kan kedalam ruang operasi. Beberapa perawat menghentikan Arsenio agar tak ikut masuk ke dalam. "Maaf tuan, anda tak bisa masuk ke dalam." ucap perawat membuat Arsenio mengumpat kesal. Demi kesembuhan istrinya, akhirnya Arsenio memilih mengalah dan membiarkan Laura di tangani oleh para dokter.

__ADS_1


Dengan lunglai, Arsenio melangkahkan kakinya menuju kursi yang berada di depan ruang operasi. Dia memegang kepalanya frustasi. "Maafkan aku sayang." gumamnya pelan dengan mata berkaca-kaca memikirkan kondisi istrinya. Dia tak ingin kehilangan Laura untuk sekian kalinya, sehingga membuatnya mau tak mau menembak kaki Laura.


__ADS_2