World Lion Mafia

World Lion Mafia
Panggilan Sayang


__ADS_3

Sudahlah Nona, aku sudah terbiasa seperti ini. batin Axel dengan mata yang tetap fokus melihat jalan.


Arsenio menegakkan dagunya melihat kedepan sembari mulai menghitung. "Satu" Laura sudah mulai berkeringat. "Dua." peluh sudah mulai menetes dari keningnya. "Ti-" hitungan ketiga terpotong dengan teriakan refleks Laura.


"SAYANG!" Arsenio tersenyum puas mendengar panggilan itu.


"Iya sayang." balas Arsenio dengan senyum manis dan menggoda. Sikap jutek dan menyesalkan nya hilang sudah, ketika kata indah itu terucap.


"Mulai sekarang, panggil suamimu ini dengan sebutan Sayang!" ucap Arsenio dengan gaya maskulinnya. "Apa kau mengerti, istriku?" tanya Arsenio dengan penekan di ujung kalimat.


Laura menghela nafas pelan. Jujur, Laura terlihat sangat lelah dengan sikap berubah-ubah Arsenio. "Baik suamiku." ucap Laura membuat Arsenio kembali menampilkan wajah jutek nya. "Maksudnya sayang." ucap Laura tersenyum canggung.


Arsenio terlihat gemas dengan Laura. Tanpa meminta izin, pria gila itu mencium Laura. Laura membulatkan matanya melihat Axel. Axel tersenyum samar melihat ekspresi Laura.

__ADS_1


Hhhhh. Nona, anda sangat menggemaskan. batin Axel. Bagaimana jika Arsenio tau jika kaki tangannya itu membatin tentang Laura, bahkan mengatakan, jika istrinya sangat menggemaskan.


Beberapa jam di perjalanan, akhirnya mobil Arsenio memasuki kawasan pantai. Axel sudah menyuruh bawahannya untuk mengosongkan pantai itu, sehingga Arsenio dan Laura bebas memadu kasih. Laura tersenyum melihat pemandangan indah itu. Sepi dan tenang. Dengan pelan kaki Mungil itu berjalan ke arah air. Laura berjongkok dengan mata yang fokus melihat kerang. Laura mengangkat kerang yang cukup besar, lalu melihatnya dengan wajah tersenyum.


Arsenio tersenyum melihat kebahagiaan Laura. Pria tampan nan gagah itu melangkah kan kakinya menyusul Laura. "Apa yang kau lakukan?" tanya Arsenio lalu ikut jongkok di samping istrinya.


Laura menunjukkan kerang yang ia pegang dengan senyum simpul di wajahnya. "Aku mendapatkan kerang." ucapnya dengan senyum yang tak pudar, seperti cinta Arsenio padanya.


"Kenapa kau memegangnya? itu beracun!" ucap Arsenio mengambil kerang yang di pegang Laura lalu membuangnya.


"Nanti kau sakit." ucap Arsenio membalaskan tatapan Laura dengan datar.


"Itu gak beracun sayang,,,bahkan aku pernah memasak dan memakannya." ucap Laura yang membuat Arsenio terkejut.

__ADS_1


"Kau memakan hewan aneh itu?" tanya Arsenio mencoba mencari kebenaran di wajah Laura. Laura menganggukkan wajahnya pelan.


Maafkan aku yang baru menemukanmu. batin Arsenio sedih. Mafia kejam itu memandang Laura dengan penuh kasih sayang, tak lupa tangan kekar itu mengelus kepala Laura.


Apa yang kau fikirkan suamiku,,, batin Laura bingung melihat wajah layu Arsenio.


"Mulai sekarang, kau tak boleh memakan serangga atau hewan seperti itu lagi." Wajah Arsenio kembali datar dan dingin.


"Kenapa?" tanya Laura bingung dengan larangan itu.


"Banyak sekali pertanyaan mu." ucap Arsenio mematahkan pertanyaan Laura.


"Tapi kerang yang sayang buang tadi enak loh jika di masak." ucap Laura sembari menunjuk ke arah tempat dimana Arsenio melempar kerang nya.

__ADS_1


"Aku tak peduli!" ketusnya dengan wajah yang yang beralih menatap pantai di depannya.


"Sayang,,," rayu Laura dengan manja. Laura menggoyangkan bahu Arsenio dengan pelan. Arsenio tak menanggapi rengekan Laura. Mata tajam itu masih sibuk menatap kayu yang mengambang tak jauh darinya. Kayu itu terlihat mengambang pelan kearah mereka. "Sayang,,," Arsenio menempel jarinya di bibir Laura seakan menyuruh diam. Mata tajam itu terus fokus ke arah kayu mengambang itu.


__ADS_2