
Arsenio yang mendapat ucapan terimakasih itu sangat berbunga-bunga. Dia benar-benar merasa bangga kepada dirinya sendiri. "Sama-sama sayang." ucap Arsenio dengan pandangan yang tak teralihkan sama sekali.
"Kenapa belum di makan? apa kau terlalu lelah makanya tak sanggup untuk mengangkat sendok?" tanya Arsenio yang membuat Laura bingung sekaligus merasa aneh.
"Tidak Tuan, saya tidak lelah." bohong Laura dengan tubuh yang menahan rasa sakit di bawah sana.
"Aku tak percaya! baiklah, karena hari ini aku sangat bahagia, maka aku akan berbaik hati menyuapi mu." ucap Arsenio yang langsung mengambil piring dari tangan Laura. Dengan cepat, Arsenio sudah menggantungkan sesuap makanan di depan mulut Laura.
Laura tak membuka mulutnya. Wajah tenang itu menatap Arsenio tak percaya. "Kenapa diam? cepat buka mulutmu." perintah Arsenio membuat Laura segera membuka mulutnya dan mengunyah makanan itu dengan rasa canggung.
"Kenapa pelan sekali mengunyah nya? apa kau tak suka dengan menu ini?" tanya Arsenio dengan wajah yang terlihat kesal ketika Laura memakan makanan yang di sediakan nya sendiri dengan ekspresi tak berselera.
__ADS_1
Dia ini kenapa sih! kadang baik, kadang jahat. Kumat-kumatan memang! batin Laura kesal.
"Tidak Tuan, ini sangat enak. Apa Tuan tidak ikut makan?" tanya Laura mencoba mempropokasi Arsenio. Arsenio tersenyum dengan perhatian kecil yang Laura berikan. "Mau di suapi..." ucapnya dengan manja di sertai mata kucing.
Apa ini! mata kucing. Ya Allah...kok aku jadi ilfeel ya sama dia. batin Laura mencoba menyembunyikan ke ilfeelan nya.
"Mau di suapi?" ucap Laura mengulang ucapan Arsenio. "Bukannya anda lebih suka makan sendiri?" ucap Laura dengan mata fokus melihat mimik wajah suaminya.
"Maafkan saya Tuan. Baiklah, buka mulutmu." Laura mengalah lalu mengambil sesuap nasi dan menyodorkan ke depan mulut Arsenio. Arsenio tersenyum puas dengan aktingnya. Dengan cepat, mafia gila itu melahap makanan yang di sodorkan Laura ke dalam mulutnya. "Enak sekali, bahkan lebih enak daripada aku menyuap makanan sendiri. Mulai sekarang, kau harus menyuapiku setiap hari. Kalau tidak, aku tidak akan makan!" ucap Arsenio dengan ancaman yang sangat konyol dan merugikan diri sendiri.
Apa urusannya dengan ku jika kau tidak makan. Toh, kau yang akan sakit, bahkan bisa mati! batin Laura heran bercampur kesal. Pasti hidup di kedepannya pria gila itu akan selalu menyusahkan nya.
__ADS_1
"Kenapa kau diam? apa kau tak senang dengan perintah ku!" ucap Arsenio mulai mengeluarkan taringnya.
"Tidak Tuan, saya justru sangat senang melayani anda." ucap Laura dengan senyum terpaksa.
"Much." Arsenio memberikan satu kecupan di buah Cherry Laura. Laura refleks menegang ketika menerima sengatan mendadak itu. "Itu hukuman untukmu karena telah kurang ajar memanggil suamimu dengan sebutan Tuan." ucap Arsenio dengan nada ketus.
"Maafkan saya suamiku." Laura menunduk dengan wajah yang merona karena malu.
"Much." Arsenio menyengat buah Cherry Laura untuk kedua kalinya. "Itu hukuman untuk kekurang ajaramu karena telah berani berbahasa formal kepada suamimu sendiri!" ucap Arsenio dengan nada tak bersahabat.
Apa-apaan dia? hukuman macam apa itu! cih, itu bukan hukuman tetapi kesenangan nya sendiri! batin Laura kesal dengan perilaku semena-mena Arsenio.
__ADS_1