
"Hey, gadis gula. Huh, Gadis gula? gadis gila maksudnya." cetus nya membenarkan tulisan yang salah itu. "tunggu-tunggu, apa tadi katanya? gadis gila? kurang aj"r kau!" ucap Lucy dengan nada sedikit bentakan. Lucy pun segera melanjutkan acara membacanya.
"Aku sa-ngat me-rin-du-kanmu, mau kah, kau menjadi pembantuku?" baca Lucy dengan sedikit mengeja. Mata datarnya kini berubah menjadi tajam. "Tak ada ot*k kau!" ucapnya gemas dengan tulisan seseorang itu. "H,h,h,h, kau sa-ngat, lu-cu bi-la sedang ma-rah." baca Lucy lagi dengan sedikit pelan dan mengeja.
"Hm." dehem nya kesal pada sang pengirim surat.
"Jika kau ingin tau siapa aku, segera hubungi nomor ini." Lucy melihat nomor handphone yang tertera di kertas itu.
"Ih, ogah kali aku nelpon kau!" decit Lucy tak suka.
"Jika kau tak mau, biar aku saja yang menelpon mu, walaupun kau sangat tidak penting." Lucy terus membaca dengan ekspresi yang berubah-ubah.
"Cih, jijiknya aku!" decit nya tak suka.
__ADS_1
"Setelah kau selesai membaca pesan ini, maka dering handphone mu akan segera berbunyi. Ku hitung satu sampai tiga. Bersiaplah menerima panggilan. Satu, dua, tiga."
"Drt." Lucy terkejut melihat handphone nya berdering. Bagaimana dia bisa tau jika Lucy sudah membaca habis pesannya. Dengan malas Lucy menolak panggilan telepon itu. Orang di ujung sana sangat kesal ketika panggilan telepon nya di tolak. Dengan perasaan kesal, orang itu menelpon Lucy berkali-kali walaupun selalu di tolak oleh Lucy. Karena merasa ribut, akhirnya Lucy mengangkat panggilan itu. "Gila kau! kurang kerjaan kau ngirim surat dan nelpon berkali-kali!" ucap Lucy dengan nada yang sangat kasar.
"Hhhh, kesabaran mu setipis tisu honey." pria di ujung telepon tertawa karena telah berhasil membuat Lucy marah.
"Ct, langsung aja ke intinya!" ketus Lucy to the point.
"Uwek..." Lucy pura-pura muntah mendengar gombalan receh pria di ujung sana.
Inder terkekeh geli mendengar ejekkan Lucy di ujung sana. "Sangat tidak penting!" ketusnya sembari memutuskan sambungan telepon.
Inder berdecak kesal melihat Lucy memutuskan sambungan telepon nya secara spontan. Salah satu tangan Inder mengepal erat di menahan amarah. Dia merasa terhina dengan penolakan Lucy terhadapnya. Harga dirinya jatuh di depan gadis tomboy itu.
__ADS_1
Tunggu saja, aku akan menaklukkan mu! batin Inder sangat optimis.
***
Masih di jalan, Arsenio masih menyeder kan punggungnya di dinding kursi. Mata itu perlahan terbuka ketika mendengar dering di handphone nya. Dengan malas Arsenio mengangkat panggilan telepon tanpa melihat nama sang empu. Arsenio menunggu ucapan sang penelepon tanpa berniat berkata.
"Tuan, tubuh Nona Laura drop, beliau pingsan dan kami sedang menangani nya sekarang." ucap dokter Leon dengan nada sedikit takut dan cemas.
"Apa yang kalian lakukan pada istriku!" bentaknya di sertai teriakan. Arsenio sudah gelap mata. Caci dan maki keluar begitu saja. Bahkan Axel yang sedang mengemudi terkejut dan bingung dengan sikap Arsenio.
"Ma-" Belum sempat mengatakan maaf, Arsenio sudah mematikan sambungan telepon nya.
"Cepat putar balik! kita kembali ke rumah sakit!" perintah Arsenio penuh emosi. Axel hanya bisa diam dan menurut. Arsenio benar-benar sangat kalut menerima kabar menyedihkan itu.
__ADS_1