
Karina mengelus tengkuknya untuk menetralisir kecanggungan nya. Dengan pelan, Karina mulai memakan makanannya dengan pelan walaupun pria di depannya tetap menatap nya.
Aku merindukan mu suamiku. Gimana kabarmu. batin Karina yang tiba-tiba saja mengingat suaminya. Tak tau seperti apa perasaan nya nanti ketika mendapatkan kabar jika suami telah mati di bunuh.
Alex menaikkan satu alisnya bingung melihat wanita di depannya meneteskan air mata. "Hmm." dehem nya mencoba menghidupkan suasana. Karina segera menghapus setetes air matanya yang jatuh. Dia menundukkan kepalanya lalu melanjutkan acara sarapannya.
"Kau kenapa?" tanya Alex penasaran dengan hal yang membuat wanita di depannya menangis. Laura hanya menggeleng pelan tanpa menjawab pertanyaan Alex. "Ct." decit nya kesal merasa di abaikan.
"Kenapa diam?" tanya Alex seperti wartawan yang menggangu kenyamanan Karina.
__ADS_1
Pria ini ngeselin banget, suasana hatiku jadi rusak karena dirinya. batin Karina kesal dengan mulut banyak omong Alex.
"Tak apa Tuan." ucapnya singkat lalu segera menghabiskan segelas airnya. "Sudah selesai, bolehkah aku kembali ke kamar." izinnya dengan sopan tanpa menatap mata Alex.
"Hmm." dehem Alex pertanda Karina boleh pergi ke kamarnya. Karina yang mendapatkan izin dari pemilik rumah pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan ruang makan itu. Alex terus menatap punggung indah itu dengan mata tajamnya. Matanya tak berbelok sedikit pun sebelum punggung itu menghilang dari pandangannya.
***
"Wanita itu berada di kediaman Alex Tuan, rival anda." ucap Axel membuat Arsenio mengepal kan tangan menampakkan urat-uratnya.
__ADS_1
"Dimana pria brengs*k itu!" tanyanya menanya kan keberadaan suami Karina.
Axel menghela nafas sejenak sebelum benar-benar menjawab. "Suami wanita itu sudah mati menggemlnaskan di tangan Tuan Inder Tuan." ucap Axel yang membuat Arsenio semakin marah dan kesal karena merasa tak puas membalas kesakitan istrinya.
"Aku tak mau tau, bawa wanita itu ke kediaman ku!" ucapnya dengan tegas lalu segera pergi meninggalkan Axel di ruangan dengan nan remang-remang itu.
"Baik tuan." ucap Axel sebelum Tuan nya benar-benar hilang dari pandangan matanya. Tak lama dari kepergian Arsenio, Axel pun segera pergi meninggalkan ruangan senyap itu.
Tak ada yang menyadari, ternyata sendari tadi seorang wanita mendengar pembicaraan bos dan anak buah itu. "Apa, ginjal Laura di ambil orang? dan tinggal satu?" ucapnya lirih dengan air mata yang mulai menetes. "Malang sekali nasibmu Laura,,,hiks. Maafkan aku yang belum bisa menjadi sahabat terbaik mu." ucap Meme merasa menjadi sahabat yang tak berguna. Tangan kecil itu perlahan menghapus air mata di pipinya.
__ADS_1
Dengan hati yang gundah, Meme membalik kan tubuhnya ingin pergi meninggal kan tempat itu. Ketika wanita itu berbalik, tiba-tiba saja tubuhnya terbentur sesuatu yang kerasa di depannya. Refleks mata sembab itu menatap mata tajam di depannya, dan tangan pria di depannya refleks menahan pinggang Meme yang hampir terjatuh.
"Ka-kau." ucap Meme terkejut melihat Axel sudah berada di depannya. "Ke-kenapa ka-kau di-disini?" tanyanya panik sekaligus terkejut dengan pria tak kasat mata itu.