
Gula-gula kedua juga di tolak lantaran berbentuk bunga sehingga Axel memesan gula-gula untuk ketiga kalinya. Gula-gula ketika juga di tolak lantaran berbentuk animasi pria. Lagi-lagi Axel harus memesan gula-gula yang tak berbentuk. Dan benar saja, Arsenio menyukai gula-gula yang tak terbentuk itu. Pedagang gula-gula senang sekaligus heran dengan Axel yang memesan lagi dan lagi. Kenapa tidak sekaligus memesan nya? mungkin itulah yang di pikiran pedagang pinggiran itu.
Laura sangat kesal dengan sikap Arsenio yang sangat pencemburuan dan posesif. Laura mengambil gula-gula tak berbentuk itu. Wajahnya terlihat sedikit cemberut bercampur kesal disebabkan Arsenio yang tak mau Laura mengambil gula-gula langsung dari tangan Axel. Hal itu membuat Laura semakin lama memakan permen kapasnya, padahal wanita itu sudah sangat ingin dari setengah jam yang lalu.
"Kenapa? Apa kau tak suka?" tanya Arsenio membuat Laura bertambah kesal. Laura hanya menggelengkan kepalanya pelan, lalu segera memakan permen kapasnya. "Kalau gitu berterimakasih lah." ucap Arsenio dengan wajah yang sedikit maju ke arah Laura.
"Makasih suamiku." ucap Laura dengan senyum tipis di wajahnya. Wajah bersinar Arsenio langsung menjadi murah ketika Laura tak mengerti maksudnya. Laura memperhati kan perubahan wajah suaminya.
"Kenapa?" tanya Laura dengan sangat polosnya.
"Kau tidak berterima kasih dengan baik, padahal aku sudah membelikan mu gula-gula ini!" kesalnya dengan wajah cemberut.
Axel yang sedang menyetir hanya bisa melirik sepasang suami istri itu dari spion depan. 'Tuan benar-benar sangat bucin semenjak menikah dengan nona Laura' batin Axel lalu kembali fokus mengemudi.
__ADS_1
"Bukannya tadi sudah ya?" ucap Laura dengan wajah sangat polos.
"Kapan kau lakukan itu?" tanya Arsenio dengan ketus.
"Huh? lakukan? maksud suamiku?" tanya Laura bingung dengan pandangan penasaran menatap suaminya.
"Kau belum mencium ku! dasar tidak peka!" kesalnya dengan nada yang sangat ketus.
Eh. desah Laura dalam hati.
Ya Allah, sabar kan lah aku dalam menghadapi sikap suamiku ini. batin Laura dalam hati.
"Sayang." panggil Laura dengan manja yang seketika meruntuhkan ego Arsenio. Arsenio refleks memandang Laura ketika mendengar satu kata itu.
__ADS_1
"Apa, kau panggil aku apa?" tanya Arsenio dengan sangat antusias walaupun tanpa senyuman di bibirnya. Alisnya sedikit terangkat menunggu jawaban Laura.
"Maafkan aku suamiku." ucap Laura malu dengan kepala yang menunduk.
"Cepat, katakan sekali lagi." desak Arsenio dengan menggenggam tangan mungil Laura.
Laura yang merasa terdesak, segera mengulang kalimatnya dengan sedikit ragu-ragu. "Sa-yang." ucapnya sedikit kaku.
"Aku tak dengar." ucap Arsenio berpura-pura.
"Sa-sa-yang." ucap Laura bertambah kaku.
"Kenapa kau kaku sekali! katakan dengan benar!" desak Arsenio membuat Laura semakin gugup.
__ADS_1
"Sayang." Laura berhasil mengucapkan satu kata itu walaupun dengan suara yang lirih.
"Yang kuat!" kesal Arsenio membuat Laura menghela nafasnya dengan berat. "Ku hitung satu sampai tiga, kalau kau tidak jelas mengatakan itu, aku akan menghukummu di sini!" ancam Arsenio membuat Laura takut dengan mata yang melirik Axel Sesaat. Fikiran Laura sudah terbang kemana-mana. Jika Arsenio memberikan hukuman yang aneh-aneh, pasti dia bakal malu dengan keberadaan Axel.