
Waktu terus berjalan, tak terasa malam sudah berganti pagi. Tibalah saatnya Laura memulai tugasnya. "Tok tok tok." Laura mengetuk pintu kamar Arsenio dengan perlahan. Kali ini dia di dampingi oleh kepala pelayan dan beberapa pelayan lainnya.
"Masuk lah Nona." ucap Kepala Pelayan pada Laura.
"Tapi Pak, bagaimana kalau Tuan muda marah?!" ucap Laura sedikit takut.
"Tuan muda tidak akan marah, justru Tuan muda akan marah apabila tidak di bangunkan tidurnya." ucap kepala pelayan memberitahu kan sedikit info tentang Arsenio.
"Baiklah Pak." ucap Laura sembari membuka pintu kamar Arsenio.
Besar sekali kamar ini, indah, luas dan mewah. Hmm...sangat nyaman.
__ADS_1
Laura sangat kagum ketika melihat interior dan desain kamar milik Arsenio. Benar benar mewah dan mahal. Apalah daya Laura yang tingga di kos sepetak. Laura benar-benar seperti bermimpi bisa berada di mansion mewah, bahkan bisa masuk ke dalam kamar Arsenio. "Hm.." kepala pelayan memberikan kode kepada Laura seakan berkata 'Cepat bangunkan tuan nona.'
Laura tak peka akan kode kepala pelayan. Sepertinya Laura harus lebih peka dan belajar lagi. Terutama bahasa isyarat yang sering di pakai Arsenio, Axel, dan para bawahan lainnya. "Sudah saatnya tuan muda bangun nona." ucap kepala pelayan kepada Laura, ia seakan mengerti dengan kebingungan gadis itu.
"Baik Pak." ucap Laura. Laura yang di perintah pun langsung segera berjalan menuju ketempat tidur king size milik Arsenio. Dia bingung mau membangunkan dengan cara apa.
Laura melirik ke arah kepala pelayan. Kepala pelayan yang melihat Laura pun, hanya mengangguk kan kepalanya pertanda Laura harus membangunkan Arsenio dengan segera. "Tuan muda...bangun tuan..." ucap Laura tanpa menyentuh Arsenio. Gadis itu memanggil dan membangunkan Arsenio beberapa kali.
Laura yang sudah lelah pun akhirnya memutuskan untuk membangunkan Arsenio dengan cara menggoyangkan tubuh tuan mudanya. "Tuan bangun...sudah pagi.." ucap Laura sembari mengguncang tubuh Arsenio.
"Maafkan saya tuan." ucap Laura yang seketikan menjauhi Arsenio. Dia sangat ketakutan dengan pria itu. Bagaimana jika pria itu memukulnya seperti kemarin. Sungguh mengerikan. Arsenio membukan mata dan bangun dari tidurnya. Dia menatap Laura dengan mata yang tajam. Laura yang di tatap pun hanya bisa menunduk takut. "Keluarlah kalian, dan kau! siapkan air mandi ku." perintah Arsenio dengan sangat arogannya.
__ADS_1
"Baik tuan." ucap kepala pelayan lalu beranjak pergi dari kamar Arsenio.
"Kau ini tuli ya, cepat siapkan air mandi ku!" bentak Arsenio menatap Ngalang ke arah Laura.
"Baik tuan." ucap Laura bergegas pergi mencari kamar mandi milik Arsenio. Dia berjalan sembari menahan air matanya agar tidak jatuh. "Kamar mandi di sebelah sana!gitu saja tidak tahu!" ucap Arsenio kepada Laura ketika memperhatikan gadis itu yang tampak kebingungan. "Maaf tuan." ucap Laura yang langsung bergegas berjalan ke kamar mandi. Akhirnya Laura sampai juga di dalam kamar mandi. Dia sangat terpukau dengan kamar mandi itu.
Mewah banget..
"Ini keran apa ya? kok ada dua keran?!"
ucap Laura bingung. Laura pun mencoba menghidup kan salah satu keran. Dan dia membiarkan air itu memenuhi bak mandi.
__ADS_1
Tak lupa dia meneteskan sabun dan parfum di bak mandi itu.
Setelah selesai menyiapkan kamar mandi, Laura keluar dan memberitahukan Arsenio jika kamar mandi sudah siap. "Maaf Tuan, air mandi sudah siap." ucap Laura dengan pelan dan sedikit takut. Tubuhnya sedikit jauh dari Arsenio.