
"Nona." panggil Nila lagi ketika sudah berada di dekat Laura.
"Iya Nila." sahut Laura sembari tersenyum ke arah Nila, dia menghentikan pergerakan nya.
"Nona belum ada sarapan sedikit pun, sebaik nya Nona sarapan terlebih dahulu. Semua ini biar Nila yang bawah ya." ucap Nila sembari tersenyum dan mengambil alih meja yang di pegang oleh Laura.
"Tak perlu repot repot Nila, biar aku saja yang bawah ya." tolak Laura dengan senyum di bibirnya.
"Sarapan Nona sudah siap di ruang makan. Nona harus makan dengan cepat kan, takut nya Tuan Muda membutuh kan bantuan Nona." ucap Nila mencoba membuat Laura takut dengan cara membawah-bawah arsenio.
Benar juga kata Nila, gimana jika Pria tidak punya hati itu menyuruh ku. Bisa habis aku jika tidak segera menemui nya.
"Baiklah Nila aku akan segera makan, tolong bantu bawa meja ini ke dapur ya." ucap Laura pada Nila.
"Baik nona." ucap Nila dengan senang hati mengantarkan meja piring kotor itu ke dapur.
Laura pun segera bergegas menuju ruang makan. Kali ini dia tidak makan di dalam kamar nya, melainkan makan di ruang makan seorang diri.
__ADS_1
"Di mana gadis itu!" tanya Arsenio dengan nada yang dingin dan arogan.
"Nona Laura sedang berada di lantai dasar Tuan." ucap pak Mun kepada Arsenio.
"Sedang apa dia?!" tanya Arsenio dengan alis yang di angkat sebelah.
"Nona Laura sedang sarapan tuan." ucap pak Mun kepada Arsenio.
"Mulai nanti, suruh gadis itu makan di kamar ku. Aku jadi susah untuk menyuruh nya!" ucap Arsenio dengan kesal.
Aku akan menyusahkan nya untuk kedepan nya, itu hukuman untuk gadis bodoh seperti nya! Bisa-bisa nya dia tidak bisa membedah kan mana air panas dan mana air dingin. Arsenio mengeluarkan seringai licik nya.
Waktu terus berlalu, malam sudah tiba, rembulan sudah menampak kan cahaya nya. Malam ini adalah awal mula hukuman Laura. Bagaimana cara gadis itu bertahan agar matanya tidak tertutup untuk semalaman?
Di kamar luas milik Arsenio, terlihat Laura sedang menggantikan perban di kaki Arsenio.
"Akh,,," aduh Arsenio ketika kaki nya merasa kan sakit. "Kau ini bodoh ya! kaki ku sakit!" sentak Arsenio dengan nada yang lumayan tinggi.
__ADS_1
"Maaf tuan, saya tidak sengaja." ucap Laura dengan menundukkan kepalanya.
"Hey gadis ceroboh, kau mulai berani ya." ucap Arsenio menatap Laura dengan tajam. Dia sangat kesal dan jengkel ketika Laura tidak menatap nya. Laura tidak menghiraukan ucapan Arsenio, dia terus fokus kepada salah satu kaki Arsenio yang sedang di ganti perban nya. "Kau tuli ya!" ucap Arsenio dengan nada yang dingin dan mengancam.
"Maaf Tuan." ucap Laura mengalah. Dia tak berani membuat Arsenio marah. Bagaimana nasib nya nanti jika pria gila itu marah? tamat lah riwayat nya!
"Hm,,," Arsenio hanya bisa berdehem dingin menanggapi Laura. Dia menatap gadis kurus kecil itu dengan sinis. "Aku mau minum!" ucap nya mengkode Laura.
Mau minum? oh ambilkan minum maksud nya.
Laura segera bergegas mengambilkan minum untuk Arsenio. Air minum itu dia dapat dari meja yang berada di sebelah ranjang milik Arsenio.
"Silahkan Tuan." ucap layura sembari menyodorkan segelas air kearah Arsenio.
"Burr,,," Arsenio menyemburkan air putih yang baru saja ia minum. "Mulut ku pahit meminum air ini, cepat ambil kan aku jus." sentak Arsenio sengaja mengerjain Laura.
"Baik tuan." ucap Laura pasrah Laura segera turun kelantai dasar lalu mengambilkan segelas jus untuk Arsenio. Setelah mengambil jus, Laura kembali lagi ke kamar Arsenio. "Ini jus anda Tuan." ucap Laura sembari menyodorkan segelas jus mangga kepada Arsenio. Arsenio segera mengambil jus itu lalu meminum nya.
__ADS_1