
"Lambat Kalilah kau jalani mobilnya!" kini Vino lah yang mendapat kan kemarahan Lucy.
"Sabar nona." ucapnya tersenyum samar lalu segera menghidupkan mesin mobilnya. Mobil itupun pergi meninggalkan mansion dengan beberapa mobil di belakangnya.
Di dalam mobil yang sedang berjalan, Lucy fokus memegang dasboard mobil lalu memainkan nya. Gadis itu benar-benar bosan.
"Kampungan!" gumam Alex pelan dan sangat halus.
"Aku dengar itu..." ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Alex.
__ADS_1
Vino dan Alex melirik Lucy sekilas. "Cih." decit Alex tak mau berdebat lagi dengan Lucy. Lucy hanya tersenyum devil mendengar decitan itu.
Beberapa jam berlalu, kini Mobil yang di tumpangi Alex dan Lucy sudah berada tak jauh dari kediaman Arsenio. Karena mengamanan mereka sedikit, Lucy, Alex, dan Vino memilih masuk ke mansion itu dengan cara mengendap-endap.
"Bes." kode Lucy pada dua pria yang tak jauh darinya. Lucy berhasil menemukan pintu menuju ruang bawah tanah. Alex dan Vino segera berjalan pelan mengikuti langkah Lucy. Mereka terus masuk ke lorong gelap itu.
Lucy, Vino, dan Alex sudah berada di ruangan gelap itu. Mereka tak bisa melihat bahkan mendengar suara apapun. Ketika Lucy hendak menghidupkan senter handphone, tiba-tiba saja lampu ruangan itu hidup.
"Beraninya kau mengurung mereka." ucap Lucy dengan datar dan dingin.
__ADS_1
"Wah, wah, wah. Senang sekali kalian mau berkunjung ke mansion ku." ucap Arsenio dengan senyum menyeringai.
"Bacot kau!" ketus Lucy menatap tak bersahabat. "Lepaskan mereka!" perintah Lucy membuat Arsenio bangkit dari duduknya.
"Kalau aku tak mau, kau mau apa hm." ketusnya dengan pandangan merendahkan melihat penampilan Lucy.
Lucy tersenyum kecut melihat pria mengesalkan di depannya. "Alex, bukannya kau bilang dia rival mu?" ucap Lucy sembari menatap wajah Alex sekilas.
Apa yang akan di lakukan gadis gila ini! batin Alex bingung dengan rencana Lucy. Lucy berjalan perlahan ke arah Arsenio dengan senyum manis yang tersirat kelicikan. "Bruk." Lucy menjegal kaki Arsenio dan membuat mafia gila itu terjatuh. Sebelum Arsenio terjatuh, dengan cepat Lucy mengambil kunci yang tergantung celananya. "Aght." ringis Arsenio menahan sakit di pinggangnya.
__ADS_1
Lucy tersenyum melihat itu sembari menunjuk kan kunci di tangannya. Tak ingin hilang kesempatan, Alex segera mengganti kan Lucy untuk menghajar rival mengesalkan nya itu. "Bruk." Alex berhasil memberikan satu pukulan di wajah tampan Arsenio. Arsenio dan Alex bertarung dengan sengit. Mereka saling memukul dan menangkis. Sedangkan Vino menghajar beberapa anak buah Arsenio yang berada di sana.
"Keluarlah." ucap Lucy pada Karina dan Sela. Dengan cepat Karina dan Sela keluar. Ketika berada tak jauh di hadapan Lucy, tiba-tiba saja Sela jatuh pingsan. Lucy bisa melihat luka-luka di tubuh indah itu. Mata tajam itu menatap nyalang ke arah Arsenio. "Brengsek!" umpatnya pada Arsenio. "Jaga dia Karina." ucap Lucy lalu segera pergi membantu Vino menghajar anak buah Arsenio yang tak ada habisnya. Salah satu anak buah Arsenio berhasil lolos dan segera pergi mencari Axel untuk menghajar para penyusup.