
Di meja makan terlihat Karina dan Alex duduk berhadapan di sana. Dengan perasaan senang Meme duduk di samping Karina. Sedangkan Lucy memilih duduk di samping Meme dengan jelang satu kursi. "Vino, ibu." panggil Lucy melihat Vino dan kepala pelayan secara bergantian.
"Ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya kepala pelayan sedikit mendekat.
"Duduklah." ucap Lucy dengan tangan yang menuntun kepada pelayan agar segera duduk. Dengan perasaan canggung dan segan, kepala pelayan menduduki kursi kosong di sebelah Lucy. Lucy mengambil piring lalu menuang nasi dan beberapa lauk. Setelah merasa cukup, Lucy menyajikan makanan itu di depan kepala pelayan. "Makanlah Bu." ucap Lucy tersenyum hangat dengan tangan yang mengelus bahu kepala pelayan dengan lembut.
Semua orang tertegun termasuk kepala pelayan yang sangat malu dan canggung. Dia merasa tak enak makan bersama dengan Tuan mudanya itu. "Vino." ucap Lucy dengan suara keras nan kasarnya. Vino menolehkan kepalanya menatap Lucy. "Duduk, dan makanlah." ajak Lucy membuat Vino menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Vino menatap Alex seakan meminta persetujuan. Alex hanya mengangguk pelan dengan ekspresi sangat datar dan cuek. Mafia gila itu segera melahap makanan yang sudah siap di depannya.
"Makan-makan, makan yang banyak ya,,,biar sehat!" ucap Lucy dengan senyum mengesalkan nya. Alex mengarahkan mata tajamnya menatap Lucy. "Kau memerintahkan semuanya untuk makan, tetapi lihat dirimu?" ucap Alex kesal ketika mendapatkan makanan di piring Lucy.
__ADS_1
"Aku gampangnya, nanti pun bisa aku makan." ucapnya dengan nada tomboy nya. "Makanlah Bu, jangan malu-malu." ucap Lucy tersenyum hangat kepada kepala pelayan.
Anda sangat baik dan tidak sombong Nona. batin kepada pelayan sembari menyuap makanan ke dalam mulutnya. Bibir tua itu sangat berhati-hati dan menjaga tata Krama nya di depan Alex. "Gampang- gampang, katakan saja kau tak mau memperlihatkan wajah jelek mu itu. Sepanjang hari penutup jelek itu terus menempel di wajahmu!" ucap Alex ketus dengan tatapan menjengkelkan.
"Ct, diam dan makan saja sarapan mu!" ucapnya ketus tak senang dengan ejekkan Alex. Ketika mata tajam itu memperhati kan orang-orang di sekitarnya, tak sengaja mata itu menatap surat di tangannya.
Oiya surat yang tadi. Penasaran aku. Ku bacalah. batin Lucy segera pergi meninggalkan ruang makan itu.
"Bentar." ucapnya tanpa membalikkan tubuh.
__ADS_1
"Gadis aneh!" cetus Alex tak suka.
"Aku dengar itu." teriak Lucy dengan kepala yang sudah sedikit mengintip di balik pintu ruang makan.
Pendengaran Anda benar-benar sangat tajam Nona. batin Vino sembari melirik ke arah pintu.
Semua kembali pada aktivitas nya masing-masing. Sedangkan Lucy sudah berada di kamar yang telah di sediakan untuknya. Tubuh gadis itu tengkurap dengan sweater yang masih menempel di tubuhnya. "Mari kita bedah." gumamnya segera membuka amplop yang berisikan sebuah surat.
Mata tajam itu sedikit menyipit membaca tulisan yang sedikit sulit untuk di baca. Itu tulisan sambung kecil-kecil yang di tulis menggunakan tangan. "Sejelek-jeleknya tulisan ceker ayam, lebih jelek lagi tulisan ini. Mata sehat bisa langsung minus sepuluh setelah selesai membaca tulisan ini!" kesal Lucy sembari menggoyang kan kertas di tangannya.
__ADS_1
Karena rasa penasaran yang tinggi, mau tak mau Lucy pun mencoba membaca tulisan seperti garis yang ada di monitor ICU itu.