
Aku sudah seperti angin saja! lihat, jangankan menyapa, menoleh saja enggan. Nasib jadi bawahan. Batin vino kesal sekaligus gemas dengan dua orang yang berada di depannya.
"Tuan." panggil Vino dengan suara bariton datarnya.
Alex menolehkan wajahnya ke arah Vino lalu berkata, "Ada apa Vino?" tanya Alex dengan santai sembari sesekali menyesap kopi susunya.
"Ada penawaran yang sangat menguntungkan di perusahaan Tuan yang berada di Indonesia, para investor ingin bertemu langsung dengan Tuan. Apakah besok Tuan akan terbang ke Indonesia?" tanya Vino menjelaskan panjang x lebar.
Alex menolehkan wajahnya ke arah Vino dengan kaki yang di lipat dan tangan yang menyender di kepala sopa. "Ya, siapkan semua nya." ucap Alex lalu kembali memandang Laura. Vino sudah seperti nyamuk kesasar yang di tinggal rombongan.
__ADS_1
Laura yang sendari tadi memperhatikan dan mendengar percakapan dua manusia di depannya langsung bertanya, "Apa kau lama berada di Indonesia?" tanya Laura dengan wajah bingung bercampur penasaran. Jujur saja, sebenarnya Laura rindu dengan kos, teman dan aktivitas nya walaupun sebenarnya di mansion Alex juga menyenangkan. Tak ada yang bisa menggantikan kenangan yang sangat menyenangkan seperti kehidupan Laura sebelumnya.
"Ya Laura, apakah kau mau ikut?" tanya Alex menunggu jawaban Laura.
"Apa boleh? sebenar nya aku sangat rindu dengan rumahku. Tapi,,," ucap Laura dengan nada yang terputus dan mengecil. Laura terlihat lesu menatap lantai.
"Maaf Laura, aku belum bisa memulangkan mu. Ancaman berada dimana-mana, aku tak mau kau kenapa-kenapa. Ok." ucap Alex berusaha membujuk dan memberi pengertian kepada Laura. Laura hanya mengangguk patuh. Apalah yang bisa dia lakukan selain menurut. Dia tak punya kuasa apa-apa saat ini.
***
__ADS_1
Di saat mereka bersantai dengan cemilan di depannya, tak lama terdengar notifikasi dari handphone milik Axel. Axel yang mendengar suara pengingat itupun langsung membuka handphone dengan cepat. Axel membaca pesan di handphone nya dengan wajah datar, sedangkan Arsenio tak peduli akan hal itu sedikitpun.
"Tuan, ada informasi dari salah satu anak buah kita yang menyamar. Besok rival anda Alex akan terbang ke Indonesia mengurus bisnisnya." ucap Axel dengan tampang dingin dan tatapan datar ke arah Arsenio. "Apa yang akan kita lakukan tuan?" tanya Axel meminta pendapat Arsenio.
Arsenio masih bersikap santai dengan mata yang setia menatap salju di kaca tembus pandang di depan nya. "Aku tak peduli dengan sih bod*h itu. Yang aku mau, cepat bawah gadis ku!" ucap Arsenio dengan nada dingin yang menyeramkan.
"Baik tuan." ucap Axel dengan tangan yang di ulurkan mengambil cake lalu memakan nya. Tak seperti biasa nya ketika ada perintah langsung pergi, kini sangat berbeda, pria bengis itu malah bersantai menikmati sepotong cake di malam dingin ini.
***
__ADS_1
Waktu terus berlalu, hujan salju sudah berhenti. Terlihat jalan dan halaman rumah penduduk di tutupi salju yang lumayan tebal. Cuaca yang tak sedingin kemarin malam membuat Laura terbangun dari tidurnya. Setelah menghabiskan coklat panasnya mata Laura terasa berat sehingga membuat gadis itu tidur lebih awal.