World Lion Mafia

World Lion Mafia
Kamar Pengantin


__ADS_3

Di kamar, terlihat Laura terpukau kagum dengan kamar Arsenio yang di sulap menjadi kamar pengantin. Semakin terpukau nya, Laura sampai tak menyadari jika pria yang sudah menjadi suaminya itu menatapnya dengan mata yang penuh gairah. Di sudut ruangan, terlihat Arsenio mengelus rahangnya dengan bibir yang sesekali di gigit pelan. Arsenio terlihat sangat sexy dengan ekspresi seperti itu.


"Sudah puas mencuci mata?" ucap Arsenio yang membuat Laura langsung mengalihkan pandangannya kearahnya. Laura menatap mata Arsenio sekilas lalu segera menundukkan kepalanya. Gadis itu terlihat sangat malu dan gugup. Sekuat apapun dia menutupinya, Arsenio tetap bisa merasakan kegugupannya. Tersenyum devil, Arsenio tersenyum melihat ekspresi ketakutan Laura.


"Bersihkan dirimu!" perintah Arsenio lalu masuk ke ruang ganti. Pria itu mengganti Bathrobe yang ia kenakan dengan baju tidur.


Laura memperhatikan punggung Arsenio yang mulai menghilang. Setelah Arsenio masuk ke ruang ganti, Laura segera bergegas masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Beberapa menit di kamar mandi, kini Laura sudah mengenakan Bathrobe berwarna putih dengan tangan yang sibuk mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil.

__ADS_1


Laura tak menyadari jika Arsenio memperhati kan aktivitas nya sendari keluar dari kamar mandi. Arsenio duduk di kepala ranjang dengan tangan yang bertumpu di punggung kepala. Mata tajam itu tak henti-hentinya menatap bidadari di depannya. Laura sangat canggung dan merasa tak bebas dalam bergerak. Mata tajam nan indah itu membuat siapa saja terpaku jika menatapnya. "Apakah sudah selesai?" tanya Arsenio dengan nada yang sedikit ringan dari sebelumnya.


Tumben sekali,,,ada apa dengannya? kenapa aku menjadi merinding ya melihat sikapnya yang kalem ini. batin Laura bingung sekaligus takut dengan pria pemaksa itu.


"Kau tidak menjawab ku!" mulai mengeluarkan taringnya membuat Laura mati kutu.


"Maaf Tuan." ucap Laura dengan nada canggung.

__ADS_1


Laura masih diam di tempatnya seakan bingung ingin melakukan apa. Arsenio tak ada niat untuk menoleh ke lain arah. Mata tajam itu seakan mengimitasi penjahat yang tengah berada di depan nya. "Kemarilah." panggil Arsenio dengan nada yang terdengar sedikit lembut. Laura masih tak bergeming, hingga Arsenio turun tangan dan berinisiatif menggendong Laura lalu membawanya ke rajang king size yang sudah bertabur bunga.


Di tempat tidur terlihat Laura membuat jarak dengan Arsenio tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Sesekali mata indah dan mungil itu mencuri pandang menatap Arsenio. "Mendekat lah, jangan merasa aku ini penjahat yang ingin memperkos*mu!" ucap Arsenio dengan nada ketus menatap Laura datar. Arsenio menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sepertinya kesabarannya setipis tisu yang muda hancur.


Arsenio menarik tangan Laura dengan sedikit kuat sehingga gadis itu masuk kedalam pelukannya. "Menurut lah, jangan membuat aku hilang kesabaran!" bisik Arsenio dingin dengan penuh penekanan.


Wajah mereka sangat dekat. Keduanya bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain. "Kau bisu semenjak akad itu terjadi." tanya Arsenio dengan nada yang sangat menyeramkan.

__ADS_1


Tangan Laura sudah mulai mendingin. Arsenio merasakan tangan dingin Laura. Arsenio melepas tangan dingin itu lalu mendekap Laura dengan sangat posesif. Bibir pink itu perlahan mencium telinga Laura lalu berkata, "Jangan pernah bermimpi jika aku akan melepaskan mu!" kata-kata terdengar jelas dan menendang gendang telinga Laura.


"Apa kau mengerti, istriku." ucap Arsenio lagi dengan penekanan pada kata istriku.


__ADS_2