
Inder langsung menyerang kembali orang yang menembaknya.
Rasakan itu inder, berani-beraninya kau menjebak ku! Batin Alex dengan menatap kesal ke arah Inder.
"Dor." hampir saja Alex mati karena tembakan Inder.
Sial, ternyata anak buahnya sangat banyak! Alex
Alex yang merasa pertahanannya semakin melemah pun langsung mundur dan mencari cara untuk pergi dari tempat itu.
"Mundur Vino, dia sangat kuat. Kita bisa mati jika tak pergi!" ucap Alex kepada Vino asistennya dengan menggunakan mikrofon yang ada di bajunya. Alex segera mungkin pergi dari tempat itu. Anak buahnya banyak yang tewas di tangan anak buah Inder.
"Sialan!" umpatnya ketika dua rivalnya berhasil lolos.
__ADS_1
"Awas kalian!" gumam Inder pelan. Inder segera pergi dari tempat itu sebelum para polisi datang. Dia membiarkan anak buahnya tewas terlantar di sana. Untungnya, Inder selalu menyuruh anak buahnya untuk tidak membawa informasi sekecil apapun jika ingin melakukan misi.
Di kediaman Inder, terlihat para dokter sedang sibuk mengeluarkan peluru dari punggung Inder. Tak ada teriakan atau tangisan yang keluar dari mulut mafia gila itu. Hal ini mungkin sudah biasa di kalangan mafia sepertinya. "Sialan! awas kau Alex!" umpat Inder ketika mengingat rivalnya Alex menembaknya secara tiba-tiba. Baru kali ini dia kecolongan. "Drt" terdengar suara deringan telepon dari handphone milik Inder.
"Maaf tuan, ada telpon." ucap kepala pelayan sembari memberikan handphone yang ia pegang kepada Inder. Inder mengambil handphone itu tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dia langsung saja mengangkat dan menaruh handphone itu di telinganya.
"Tuan, mobil yang di tumpangi rival anda lolos tuan. Kami tidak dapat mengejarnya." ucap seseorang dari ujung telepon.
"Sialan! dasar tidak becus kalian!" bentaknya sembari mematikan panggilan handphone secara sepihak. Inder sudah selesai di obati, dia langsung pergi dari ruang rawat menuju ke kamar pribadinya.
Di tempat lain, terlihat Arsenio sedang mengelap peluh di keningnya. Dia mengusap peluh itu dengan kasar. Terlihat pancaran kemarahan di wajahnya. "Sudah ku duga, pasti lelaki brengs*k itu telah membuat siasat yang tak di duga-duga." umpat Arsenio pada Inder rivalnya.
"Tuan Inder memang tidak bisa di tebak dan di ragukan tuan. Jadi kita harus bisa lebih berhati-hati lagi dengannya." ucap Axel membuka suara kepada Arsenio.
__ADS_1
"Ya Axel, kau benar. Kita harus menghancurkan dirinya dengan cara yang sangat manis..." ucap Arsenio sembari tersenyum menyeringai.
"Iya tuan." ucap Axel menyetujui ucapan Arsenio.
Mereka terus berbicara dan membahas tentang Inder. Kelakukan mafia gila itu masih membelas di ingatan Arsenio. "Bagaimana keadaan di sana" tanya Arsenio kepada Axel.
"Anak buah kita banyak yang tewas tuan, bukan hanya itu, anggota dari tuan Alex pun juga banyak yang tewas. Dan satu lagi tuan, tuan Inder terkena tembakan Axel dan pelurunya bersarang di bagian punggung tuan Inder." ucap Axel yang membuat Arsenio marah seketika sedikit senang.
"Kenapa bukan dadanya saja yang tertembak. Aku berharap sih bajing*n itu lekas tewas!" doa Arsenio untuk Inder dengan tawa kemenangan. "Bagaimana dengan sih bedebah Alex?" tanya Arsenio tanpa memandang Axel.
"Tuan Alex berhasil melarikan diri dari serangan dan kejaran tuan Inder." ucap Axel menjelaskan lagi.
Awas kau Alex!
__ADS_1
"Jangan biarkan sih bedebah Alex itu pergi dari Italia ini dengan selamat. Kalau bisa kejar dan awasi pergerakannya!" ucap Arsenio dengan tampang yang sangat seram.