
Di kamar Arsenio sudah duduk di sopa dengan tubuh menyender, satu kaki di lupa dan kedua tangannya terlentang memegang dinding atas sopa. Pria berwajah datar itu masih setia dengan mata tajam nya menatap Laura.
Apa mata nya tak sakit di besarkan terus. Batin Laura dengan mata yang curi-curi pandang ke arah Arsenio.
"Ada apa Tuan menyuruh saya ke sini?" tanya Laura dengan jari yang memainkan kuku-kuku nya.
"Cincin ku hilang." ucap Arsenio dengan datar sembari menunjukkan jari-jemari nya yang kosong.
Terus kau mau apa padaku, bukan nya uangmu banyak dan bisa membeli nya lagi? Batin Laura kesal dengan ucapan Arsenio.
"Terus saya harus apa Tuan?" tanya Laura dengan tatapan secepat kilat menatap mata Arsenio.
"Kau ini selain kampungan juga bodoh ya!" hina Arsenio dengan tatapan kesal menatap tubuh mungil Laura.
__ADS_1
"Maaf Tuan." ucap Laura hanya bisa meminta maaf agar dirinya selamat.
"Cih, muak sekali mulut jelek mu mengatakan itu. Cepat cari!" ucap Arsenio dengan bentak kan di ujung kalimat.
"Ba-baik tuan." ucap Laura lalu mulai mencari cincin di kamar luas milik Arsenio. Laura seakan mencari jarum di tumpukan jerami.
Ini sungguh gila! bagaimana bisa sih gila itu menyuruh ku mencari cincin sekecil otak nya di kamar seluas lapangan bola ini? bunuh saja aku! Batin Laura kesal dengan wajah yang terlihat depresi.
Gadis itu terus fokus mencari cincin milik Arsenio. Arsenio tersenyum devil melihat sebagaiman susah nya Laura mencari cincin miliknya. Di saat dua orang itu sibuk dengan aktivitas nya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Arsenio yang kenal dengan suara itu langsung saja memerintahkan nya untuk masuk.
"Hm,,," sahut Arsenio dengan deheman lalu beranjak dari duduknya menuju ruang kerja yang di ikuti Axel di belakang nya. Sebelum pergi Arsenio menyuruh Laura agar tak berhenti mencari cincin nya sampai ia kembali lagi.
Hati Laura meradang, kepalanya seakan ingin pecah mendengar penuturan Arsenio yang tak pakai otak. "Kenapa sih manusia seperti nya ada di dunia ini,,," gumam Laura yang hanya bisa mengumpat dan berteriak dalam hati.
__ADS_1
***
Di ruang kerja terlihat Arsenio sudah duduk di kursi kebesaran nya. Arsenio menatap Axel seakan meminta jawaban. Axel meletakkan map coklat di depan Arsenio. Arsenio mengambil map itu lalu membuka nya. Pria tampan itu tidak faham dengan berkas yang ia pegang sekarang karena berkas itu berisi kode berupa angka.
"Tuan, rival anda Alex berhasil menggagalkan penjualan senjata kita." ucap Axel membuat Arsenio mengebrak meja di depannya dengan kuat.
"Sial! di mana semua senjata nya?" tanya Arsenio dengan rahang yang mengeras mendengar berita yang di sampaikan Axel.
"Maaf tuan, semua senjata itu berhasil di curi oleh Alex." Arsenio meninju wajah Axel hingga darah keluar dari selah bibir pria itu.
"Dasar tidak becus, cepat curi kembali senjata itu." bentak Arsenio dengan sangat kuat
Bahkan suara terdengar sampai ke tempat Laura.
__ADS_1
Laura melirik ke arah pintu lalu berkata, "Kenapa sih gila itu?" setelah mengatakan itu, Laura kembali fokus mencari cincin milik Arsenio. Gadis itu tidak mau Arsenio marah lagi kepadanya. Walaupun mata nya sudah sangat berat, Laura tetap teguh mencari cincin agar nyawa nya selamat.